AirAsia akhirnya ditemukan di hari ketiga, setelah Kepala Koordinator Basarnas Marsekal Madya Bambang Sulistyo memastikan 95% serpihan di Pangkalanbun adalah bagian dari pesawat nahas itu. Selanjutnya, mata dunia serta merta tertuju ke sana.
Pada hari ketiga evakuasi itu, sejak pagi hari, wartawan merdeka.com M Lutfi dan Faiq Hidayat sudah di Pangkalanbun. Mereka datang lebih dulu sebelum pengumuman resmi, karena sudah diajak oleh tim evakuasi dari Jakarta menuju Pangkalanbun.
Tak pelak bila informasi dari Pangkalanbun pun mengalir deras. Tidak cukup di situ, karena akan banyak informasi dan gambar yang penting sebagai bagian dari dokumentasi dan informasi yang akurat kepada masyarakat maka pewarta foto andalan kami, Arie Basuki (Arbas), pada Selasa pagi langsung menuju lokasi Pangkalanbun, Kalimantan.
Sedangkan tim yang sebelumnya kita kirim ke kawasan Bangka-Belitung, Iwan dan Imam Buchori setelah pengumuman dari Basarnas kita tarik. Lutfi karena sesuatu hal harus digantikan oleh Arbas. Selain mereka, di KRI Banda Aceh yang juga diterjunkan untuk mencari evakuasi AirAsia, terdapat reporter kami Prasetya. Ditambah Effendi Ari Wibowo, yang berangkat bersama Herkules langsung ke Pangkalanbun.
Pembaca, begitulah apa yang menjadi kesibukan kami. Dalam situasi seperti ini, markas redaksi di Tebet dengan tim solid berusaha sekuat tenaga memenuhi kebutuhan informasi pembaca. Meski kami tahu sebagian besar sedang menikmati liburan, tapi adalah kewajiban kami memberikan info yang menarik kepada pembaca.
Faiq sebagai wartawan muda di kantor kami, sengaja diberangkatkan ke Pangkalanbun. Meski lulusan IISP kelahiran Pekalongan 1990 ini belum banyak pengalaman, tapi dengan event evakuasi AirAsia kami berani menerjunkan dia setelah melihat anak ini semangat dan cepat belajar. Hanya kepercayaan yang kami yakini bisa mempercepat pendewasaan seseorang.
Iwan cari AirAsia ke Belitung
Jumlah penumpang yang begitu besar, hingga 162 orang (7 di antaranya kru), kejadian hilang kontak ini mengingatkan pada kasus hilangnya Adam Air pada tahun 2007 lalu. Siapapun mereka, tak peduli suku bangsanya, agamanya, ini adalah peristiwa kemanusiaan. Kita patut berdoa buat mereka, berharap mukjizat akan keselamatan mereka.
Besarnya magnitude kemanusiaan dan dunia penerbangan, dimana AirAsia adalah meteor LCC (low cost carrier) kelas dunia, jadi alasan kuat lain buat redaksi melakukan pemberitaan all out. Reporter di Surabaya. M Andriansah Syafie, sebagai tempat asal keberangkatan pesawat dari Juanda langsung mendapat tugas khusus. Hari-hari ini, Andrian pun bagai berumah di Juanda karena kesibukan informasi dan para nara sumber ada di sana. Juanda jadi crisis center kasus AirAsia ini.
Di Jakarta pusat-pusat pemberitaan jadi perhatian, mulai Basarnas, Perhubungan, Angkasa Pura, dan AirAsia Indonesia. Dan, tak ada yang terlewatkan untuk mengirim reporter kami. Hari itu, puluhan berita pun dilayangkan, sebagai bagian dari pemberitaan dan informasi yang perlu untuk masyarakat bahkan juga keluarga penumpang.
Sedangkan untuk ke Bangka-Belitung, koordinator liputan mengerahkan dua wartawan muda: Imam Buchori alias Ibe (foto) dan Dharmawan M Sutanto. Ibe barangkali sudah sering mendapat tugas khusus. Sedangkan Iwan, panggilan Dharmawan, sebagai reporter yang relatif muda dan baru setahun, begitu mendapat tugas terbang ke Bangka-Belitung langsung semangat dan menyatakan siap!
Kawasan Bangka-Belitung tentu saja daerah kepulauan. Adalah kebetulan bahwa selama sepekan sebelumnya, Iwan – panggilan Dharmawan – jalan-jalan keliling Kepulauan Seribu. Meski tentu saja medannya berbeda. Senin pagi, dari kawasan Manggar di Belitung, Iwan sudah mengabarkan posisinya. Dia segera bergabung dengan beberapa nelayan dan tim pencari lain untuk siap-siap ke lokasi. Meski dalam ketidakpastian, Iwan sudah mengumpulkan berbagai informasi yang bisa disampaikan.
Iwan selama ini dikenal easy going. Hampir selalu kalau sedang bicara dan dikomentari apapun oleh pihak lain, dia dengan santainya membalas. Dan, hampir setiap balasan-balasannya, bisa membuat pihak lain bawaannya tertawan atau minimal senyum-senyum. Tak terkecuali pengagumnya, Laurencius selaku editornya. "Kenapa ya kalau baca jawaban Iwan kok bawaan saya pengin ketawa ya," tulis Lauren suatu kali.
Sebagai penggemar sepakbola sejati, terutama Inter Milan, Iwan memang sangat bangga dan berharap dengan internisti berjaya kembali. Kalau di bagian lain dia bisa santai menanggapinya, tapi jangan coba-coba untuk membully Inter, bisa-bisa dia akan membela habis-habisan.
Selain soal AirAsia, Iwan juga sudah mendapat pesanan untuk melakukan liputan soal timah di Bangka/Belitung. Soal apanya, hanya Iwan dan atasannya yang memberi tugas yang tahu. Tunggu saja catatan-catatan Iwan di hari-hari mendatang.
Pembaca merdeka.com yang kami hormati, apa yang kami lakukan sebagaimana dijabarkan sebelumnya, adalah bentuk tanggungjawab kami memberikan info terbaik. Kalau perlu, kabar soal penemuan itu harus dari tangan narasumber pertama, termasuk saksi mata.
Bukan sekadar mengutip pihak lain. Meski dalam beberapa hal, penjelasan narasumber sekunder tak terhindarkan. Yang pasti, di peristiwa yang menyangkut kemanusiaan ini, tentu redaksi tetap harus hati-hati, tak gegabah dan hanya mengejar sensasi tanpa empati.