Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menilai, pengusaha batubara egois lantaran menyatakan keberatan dan menolak larangan ekspor batubara yang dikeluarkan oleh Pemerintah melalui Kementerian ESDM.
"Pengusaha batu bara itu berpikir secara egois, karena memang untuk kepentingan ekspor lebih menguntungkan dibandingkan untuk kepentingan dalam negeri. Sehingga kalau dilarang, mereka merasa dirugikan," kata Tulus saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (2/1).
Tulus menegaskan, memang sudah seharusnya seluruh hasil bumi dan kekayaan Indonesia harus digunakan untuk kepentingan di dalam negeri. Sehingga, ketika kepentingan nasional sangat membutuhkan maka yang diutamakan adalah kepentingan nasional.
"Saya kira kebijakan Pemerintah sudah tepat ekspor batubara sebulan ke depan, kalau perlu bukan hanya sebulan ke depan. Tapi kita minta Pemerintah merevisi kebijakan ekspor batubara secara keseluruhan, bahwa ekspor batubara itu ketika dibutuhkan dalam negeri maka perlu dialokasikan," tegasnya.
Indonesia memang merupakan eksportir batubara terbesar di dunia, sementara cadangan di perut bumi Indonesia hanya 2 persen saja dari total cadangan dunia yang dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri.
"Jadi kan ini ironis paradoks, kita sangat khawatir kalau nanti batu bara kita habis karena jor-joran untuk ekspor, maka kita menjadi net-importer batubara, sama halnya kita dulu jor-joran ekspor minyak tahun 1967, sehingga kita sekarang menjadi net importer minyak," ucapnya.
Tulis tidak ingin hal serupa terjadi lagi. Oleh karena itu, sudah seharusnya Pemerintah merevisi secara signifikan kebijakan ekspor batu bara yang kemudian lebih besar dialokasikan untuk kepentingan nasional.
Memang dengan larangan ekspor itu Pemerintah bisa saja dirugikan, karena devisanya berkurang dan pendapatan pajak juga berkurang. Namun, dampak tersebut dinilai lebih kecil dibanding ongkos sosial ekonomi jika pasokan listrik kekurangan batu bara.
"Jadi pengusaha batubara mengatakan negara rugi, ya jangan memikirkan negara rugi atau untung. Tapi ini untuk kepentingan nasional. Walaupun rugi, ya masa pengusaha mikirin devisa? yang mikirin devisa itu negara," tandasnya.
Reporter: Tira Santia
Sumber: Liputan6.com