Tunggu aturan resmi, platform investasi bitcoin ini sasar pasar Indonesia

Minggu, 22 Juli 2018 17:13 Reporter : Idris Rusadi Putra
Tunggu aturan resmi, platform investasi bitcoin ini sasar pasar Indonesia Bitcoin. ©2013 Various Artist

Merdeka.com - Bitcoin, mata uang digital yang diciptakan oleh anonimus Satoshi Nakamoto kini makin meningkat penggunanya. Bagi sebagian orang, ini dinilai menarik karena manfaatnya sebagai alat transaksi pembayaran yang praktis, cepat serta biaya administrasi murah. Meski demikian, baru beberapa negara saja yang mengakui bitcoin sebagai alat tukar dan bitcoin dianggap sebagai alternative investasi yang menguntungkan bahkan disebut juga sebagai emas digital yang harganya terus naik.

Peluang meraup keuntungan dari hadirnya Bitcoin ini dilirik pengusaha muda berusia 24 tahun yaitu Yusuf Ghairat. Penguasaha kelahiran Afghanistan yang menggeluti dunia investasi bitcoin ini menciptakan platform trading bitcoin otomatis bernama bitcoinbot.pro yang membantu investor memperjual belikan bitcoinnya dan mendapatkan keuntungan yang stabil setiap harinya.

Menurutnya, saat ini di Indonesia sudah ada beberapa perusahaan yang bergerak dibidang cryptocurrency namun hanya menawarkan jasa penukaran uang fiat menjadi bitcoin ataupun sebaliknya, dan keuntungan dan kerugian investasi bitcoin ditanggung oleh pemilik bitcoin. Artinya si pemilik harus selalu update pergerakan harga bitcoin agar bitcoin tapi pada kenyataanya tidak semua orang yang ingin atau sudah berinvestasi di bitcoin dapat cek harga bitcoin yang berubah mungkin hampir tiap jam setiap hari.

"Dengan platform trading bitcoin otomatis bernama bitcoinbot.pro membantu investor memperjual belikan bitcoinnya dan mendapatkan keuntungan yang stabil setiap harinya," katanya di Jakarta, akhir pekan ini.

Memang benar tidak ada yang bisa menjanjikan keuntungan yang pasti di investasi bitcoin, namun di era digital ini, Yusuf percaya bahwa teknologi menjadi jawaban atas setiap masalah. Dia menciptakan platform www.bitcoinbot.pro dengan memanfaatkan teknologi artificial intelligent yang memungkin trading bitcoin dengan profit stabil setiap harinya sebesar 0,5 persen atau sekitar 15 persen per bulan, sistem investasi yang ditawarkan hampir mirip dengan deposito di bank dimana investor dapat memilih jangka waktu investasi bitcoinnya yang menawarakan keuntungan yang berbeda-beda pula.

Platform yang didirikannya sejak pertengahan 2017 lalu dan berkantor pusat di New York, Amerika sudah menghasilkan keuntungan dan user yang signifikan. Platform bitcoinbot.pro ini juga menawarkan program referral dengan memberikan keuntungan 5 persen untuk investor yang berhasil mengajak orang baru untuk berinvestasi di bitcoinbot.pro.

Katanya, platform bitcoinbot.pro saat ini banyak digunakan masyarakat Rusia. Namun, tidak menutup kemungkinan platform bisnis ini akan menyasar masyarakat Indonesia. Akan tetapi, Yusuf tidak mau gegabah karena masih menunggu aturan resmi penggunaan uang digital di tanah Air.

"Potensi Indonesia ini sangat besar dan mata uang digital ini tidak mungkin dihilangkan. Buktinya selama ini harga Bitcoin selalu naik mencapai 2000 persen dalam satu tahun. Ini harga naik kan berarti banyak permintaan," katanya.

Yusuf yang sudah tinggal di Indonesia sejak 5 tahun lalu ini percaya di Indonesia hanya butuh waktu untuk menerima bitcoin dan cryptocurrency lainnya sebagai mata uang masa depan yang akan memudahkan bertransaksi. Bahkan untuk membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan, pihaknya akan mengadakan konferensi blockchain besar-besar di Bali selama 3 hari dengan mengundang pembicara dan ahli cryptocurrency sekaligus blockchain dari 70 negara pada Oktober mendatang.

Tidak hanya itu dia pun berencana akan mengundang pemerintah Indonesia yang berhubungan dengan isu mata uang digital ini untuk menjadi pembicara serta berdikusi mengenai regulasi apa yang baik dan tepat untuk cryptocurrency di Indonesia.

Namun demikian, untuk masyarakat Indonesia yang ingin mencoba melakukan transaksi di platform ini sekarang juga sudah bisa. Masyarakat tinggal menukar uang biasa menjadi mata uang digital dan kemudian membeli bitcoin. Setelah itu melakukan registrasi di platform bitcoinbot dengan kode verifikasi. Setelah itu transaksi akan dilakukan secara robotic dengan keuntungan 0,5 persen per hari.

"Minimum transaksi itu 0,04 bitcoin atau sekitar Rp 4 juta. Semua deposit masuk setelah berjangka habis ditambah profit. Jangka waktu deposit ada satu bulan dan tiga bulan."

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengakui perubahan gaya hidup masyarakat dan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah membuat menjamurnya bisnis berbasis digital yaitu e-commerce dan financial technology yang tentunya membutuhkan alat pembayaran yang lebih cepat, aman dan efisien.

Namun, penggunaan e-money dan cryptocurrency dalam bisnis berbasis digital akan terhambat beberapa keterbatasan sehingga banyak negara mulai mengkaji dan mencoba menerapkan Central Bank Digital currency (CBDC) dan Crypto Fiat Currency yang menggunakan teknologi Block Chain (Distributed Ledger Technology) serta didukung oleh sovereign currency (diterbitkan oleh Bank Sentral).

Penerapan CBDC yang menggunakan teknologi Distributed Ledger di Indonesia perlu untuk terus dikaji penerapannya karena adanya manfaat pada penguatan sistem pembayaran.

"Untuk Indonesia yang berpenduduk besar dan kondisi demografi yang tersebar di sekitar 17 ribu pulau, berkembangnya financial technology dan digital payments yang handal harus terus kita dukung karena merupakan salah satu solusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui tersedianya akses keuangan," kata Wimboh dalam acara Seminar tentang Standarisasi Mata Uang Digital Fiat (DFC) dan Penerapannya yang diselenggarakan International Telecommunication Union (ITU) dengan Cornell Research Academy pada akhir pekan lalu di Cornell Tech, New York.

Wimboh menyampaikan juga bahwa penerapan CBDC ini harus tetap mempertahankan peran bank sentral sebagai otoritas moneter dan sistem pembayaran. Aspek stabilitas sistem keuangan dan perlindungan konsumen juga tidak boleh dikesampingkan dalam penerapan CBDC.

Penerapan CBDC ini akan menghemat banyak biaya di sistem pembayaran dan mempercepat peningkatan inklusi keuangan masyarakat. Dalam penerapannya perlu transisi bertahap dan paralel serta mekanisme konversi juga harus jelas dan transparan. Begitu pula dari aspek legalitas juga perlu untuk disesuaikan.

Penyesuaian legalitas sistem pembayaran digital di negara berkembang relatif lebih mudah daripada di negara Amerika Serikat yang membutuhkan proses lebih panjang, berdasarkan riset dari Angela Walch, Professor di St. Marys University School of Law.

Ekosistem sistem pembayaran yang terintegrasi sangat dibutuhkan sehingga kehadiran National Payment Gateway oleh Bank Indonesia merupakan langkah awal yang patut diapresiasi yang menghadirkan single network untuk transaksi domestik.

"OJK bersama dengan Pemerintah, Bank Indonesia akademisi dan juga lembaga internasional memiliki komitmen sebagai global collective efforts untuk menerapkan CBDC dapat berkembang ke arah yang dikehendaki dan membawa manfaat bagi masyarakat luas." [idr]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Bitcoin
  3. OJK
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini