Temu Bisnis 2025: NTB Buktikan Diri Jadi Rumah Investasi Aman dengan Rp28,8 Triliun Realisasi
Melalui Temu Bisnis 2025, NTB menegaskan posisinya sebagai destinasi investasi yang prospektif, berhasil mencatat realisasi Rp28,8 triliun di tengah dinamika sosial.
Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menegaskan komitmennya sebagai daerah yang ramah investasi dan pariwisata melalui penyelenggaraan Temu Bisnis 2025. Acara strategis ini tidak hanya mempertemukan investor, pemerintah, dan pelaku usaha, tetapi juga menyuarakan pesan penting mengenai stabilitas dan kepercayaan publik di wilayah tersebut. Kepercayaan ini merupakan fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi inklusif.
Diselenggarakan oleh Dinas Penanaman Modal dan PTSP (DPMPTSP) NTB, forum ini mengusung tema "Investasi Maju Bersinergi Menuju NTB Makmur Mendunia". Tema tersebut mencerminkan respons daerah terhadap dinamika sosial yang sempat terjadi, termasuk aksi unjuk rasa anarkis. Namun, pemerintah daerah dengan tegas menyatakan bahwa agenda pembangunan dan investasi tetap berjalan tanpa penundaan.
Komitmen ini terbukti dari data realisasi investasi NTB pada paruh pertama 2025 yang mencapai Rp28,8 triliun. Angka ini merupakan 47,2 persen dari target tahunan Rp61,09 triliun, menempatkan NTB pada posisi yang solid di peta investasi nasional. Pencapaian ini menandakan bahwa NTB bukan hanya destinasi wisata, melainkan juga kawasan strategis dengan prospek jangka panjang bagi investor.
NTB: Magnet Investasi di Tengah Dinamika Sosial
Realisasi investasi NTB yang mencapai Rp28,8 triliun di paruh pertama 2025 menunjukkan daya tarik signifikan daerah ini. Kabupaten Sumbawa Barat menjadi kontributor utama dengan Rp20,7 triliun, didominasi sektor energi dan sumber daya mineral sebesar Rp18 triliun. Sektor industri menyumbang Rp4,7 triliun, sementara pariwisata dan ekonomi kreatif mencapai Rp1,2 triliun, menegaskan diversifikasi potensi investasi di NTB.
Meskipun menghadapi insiden anarkis pada 30 Agustus 2025 yang menyebabkan kerugian materiil, termasuk terbakarnya gedung DPRD NTB, pemerintah daerah menunjukkan respons cepat. Langkah ini meliputi turun langsung ke masyarakat, memperkuat konsolidasi sosial, dan memastikan semua agenda pembangunan terus berjalan. Respons sigap ini menjadi penegas bahwa NTB mampu mengelola krisis tanpa mengorbankan stabilitas pembangunan.
Keberhasilan Temu Bisnis 2025 tidak hanya diukur dari nilai komitmen investasi, tetapi juga dari kualitas sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menegaskan bahwa masyarakat NTB kini lebih matang dalam menjaga keamanan dan memahami manfaat ekonomi dari investasi serta pariwisata. Kesadaran ini merupakan modal sosial yang sangat berharga.
Masyarakat kini berperan aktif, menyadari bahwa semakin banyak event besar dan investasi masuk, semakin besar pula perputaran uang di daerah. Hal ini berdampak langsung pada UMKM, pedagang kecil, hingga pekerja sektor informal. Ini adalah esensi pembangunan inklusif, di mana manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati oleh pemilik modal besar, tetapi juga oleh seluruh lapisan masyarakat.
Tantangan Birokrasi dan Solusi untuk Iklim Investasi
Salah satu fokus utama Temu Bisnis 2025 adalah memperkuat pemahaman pelaku usaha tentang perizinan berbasis risiko, yang bertujuan meningkatkan transparansi dan efisiensi birokrasi. Investor membutuhkan kepastian, dan sistem perizinan yang jelas adalah kuncinya. Namun, implementasi sering terkendala oleh infrastruktur digital, kapasitas aparatur, dan ketidakseragaman informasi di lapangan.
Untuk menjaga reputasi NTB sebagai rumah investasi, pembenahan birokrasi menjadi prioritas. Solusi yang dapat diterapkan meliputi pembangunan pusat layanan terpadu digital yang real time, memungkinkan investor memantau proses perizinan secara transparan. Peningkatan kapasitas SDM aparatur daerah melalui pelatihan reguler juga krusial agar mereka memahami regulasi investasi berbasis risiko dan melayani secara profesional.
Selain itu, penguatan mekanisme pengawasan partisipatif, dengan melibatkan asosiasi pengusaha atau akademisi, dapat mengawal transparansi perizinan. Komunikasi berkelanjutan antara pemerintah dan masyarakat juga penting agar setiap investasi yang masuk dapat dipahami manfaat dan risikonya secara terbuka. Ini memastikan dukungan sosial yang kuat terhadap proyek-proyek investasi.
Menjaga Momentum Pembangunan Inklusif
Temu Bisnis 2025 juga berfungsi sebagai ruang edukasi publik yang penting. Forum ini mendidik masyarakat bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga partisipasi sosial yang aktif. Selain itu, UMKM diberdayakan dengan membuka peluang untuk masuk ke rantai pasok investasi besar, menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif.
Forum ini juga mencerahkan publik bahwa NTB bukan daerah pinggiran, melainkan bagian penting dari peta global, baik sebagai destinasi wisata maupun kawasan investasi. Hal ini menanamkan rasa nasionalisme, di mana menjaga keamanan dan mendukung iklim investasi merupakan kontribusi nyata NTB bagi kemajuan Indonesia secara keseluruhan.
NTB menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga stabilitas sosial, transparansi birokrasi, dan partisipasi aktif masyarakat. Dengan investasi yang terus tumbuh, kesadaran publik yang menguat, serta kepemimpinan daerah yang responsif, NTB memiliki peluang besar untuk mewujudkan visi "Makmur Mendunia".
Momentum ini akan terjaga jika pemerintah konsisten menutup celah birokrasi, masyarakat terus merawat kondusivitas, dan dunia usaha berkomitmen pada prinsip pembangunan berkelanjutan. NTB dapat menjadi teladan bahwa sinergi masyarakat adalah kunci utama menjadikan daerah layak dipercaya sebagai rumah investasi jangka panjang.
Sumber: AntaraNews