Tahukah Anda? 80% Petani Indonesia Berusia di Atas 40 Tahun, Kemenpora-FAO Sinergi Dorong Regenerasi Petani Muda

Kemenpora dan FAO bersinergi kuat mendorong regenerasi petani muda di Indonesia melalui program 'Petani Keren', menjawab tantangan usia petani dan minimnya partisipasi Gen Z.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? 80% Petani Indonesia Berusia di Atas 40 Tahun, Kemenpora-FAO Sinergi Dorong Regenerasi Petani Muda
Kemenpora dan FAO bersinergi kuat mendorong regenerasi petani muda di Indonesia melalui program 'Petani Keren', menjawab tantangan usia petani dan minimnya partisipasi Gen Z. (AntaraNews)

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) kembali memperkuat sinergi mereka. Kolaborasi ini bertujuan utama untuk mengakselerasi regenerasi petani muda di seluruh wilayah Indonesia. Langkah strategis ini diharapkan mampu menjawab tantangan demografi petani yang didominasi usia lanjut.

Deputi Bidang Pelayanan Kepemudaan Kemenpora, Yohan, menjelaskan bahwa salah satu inisiatif konkret adalah mengintegrasikan modul pelatihan dari program "Petani Keren" ke dalam program kewirausahaan nasional. Hal ini disampaikan Yohan saat upacara penutupan program tersebut di Jakarta pada Senin lalu. Sinergi lintas sektor menjadi kunci keberlanjutan program.

Program "Petani Keren" yang telah berjalan sejak tahun 2024 dan akan berakhir pada 2025 ini telah berhasil melatih sekitar 100 anak muda. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dibekali ilmu wirausaha tani dan praktik pertanian berkelanjutan. Inisiatif ini penting untuk menarik minat generasi muda ke sektor pertanian.

Tantangan Regenerasi Petani di Indonesia

Indonesia menghadapi isu serius terkait regenerasi petani, sebuah fenomena yang berpotensi mengancam ketahanan pangan nasional. Data dari Sensus Pertanian Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan. Hampir 80 persen dari total petani di Indonesia saat ini berusia di atas 40 tahun, menandakan dominasi generasi yang menua dalam sektor vital ini.

Di sisi lain, partisipasi generasi muda, khususnya Generasi Z, dalam sektor pertanian masih sangat minim. BPS mencatat bahwa hanya sekitar 2,14 persen dari Generasi Z yang terlibat aktif sebagai petani. Kesenjangan usia ini menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan sektor pertanian di masa depan, mengingat kurangnya minat dari angkatan kerja muda.

Fenomena ini diperparah dengan tingginya angka pengangguran di kalangan usia muda. Hampir separuh dari total pengangguran nasional berasal dari kelompok usia 15-29 tahun. Kondisi ini menunjukkan adanya peluang besar untuk mengarahkan potensi angkatan kerja muda yang belum terserap ke sektor pertanian, sekaligus mengatasi masalah regenerasi petani.

Oleh karena itu, upaya sistematis untuk menarik dan memberdayakan generasi muda di bidang pertanian menjadi sangat krusial. Sinergi antara Kemenpora dan FAO ini diharapkan dapat menjadi jembatan untuk mengisi kekosongan tersebut. Mereka berupaya menciptakan pertanian yang lebih menarik dan relevan bagi anak muda.

Program 'Petani Keren': Solusi Inovatif

Program "Petani Keren" hadir sebagai salah satu solusi inovatif untuk mengatasi tantangan regenerasi petani di Indonesia. Diluncurkan pada tahun 2024 melalui skema Program Kerja Sama Teknis (TCP) FAO, inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah Indonesia. Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) juga turut menjadi mitra strategis.

Modul pelatihan yang dikembangkan dalam program ini sangat komprehensif, mencakup seluruh rantai nilai pertanian, dari hulu hingga hilir. Peserta dibekali pengetahuan dan keterampilan mulai dari pemetaan keanekaragaman hayati lokal hingga penerapan teknologi pertanian ramah lingkungan. Pelatihan ini juga mengajarkan cara pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai tambah, meningkatkan daya saing petani muda.

Yohan dari Kemenpora menegaskan komitmen untuk mengintegrasikan modul pelatihan ini ke dalam program kewirausahaan dan kepemudaan nasional. "Kementerian Pemuda dan Olahraga akan berkolaborasi melanjutkan sinergi dengan FAO dan para mitra strategis agar program ini tidak berhenti di sini, tetapi berlanjut dalam bentuk kolaborasi lintas sektor," ujarnya. Ini menunjukkan visi jangka panjang program.

Pelatihan percontohan program "Petani Keren" telah dilaksanakan di beberapa lokasi. Tahap pertama di Jakarta (14 Oktober-20 Desember 2024), kedua di Lampung (17 Juni-29 Juli 2025), dan ketiga di Jakarta (16 September-14 Oktober 2025). Setiap tahap diikuti oleh 31 hingga 38 peserta, menunjukkan jangkauan dan dampak yang signifikan.

Visi Masa Depan Pertanian Berkelanjutan

Program "Petani Keren" tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga membangun model pertanian inovatif yang berbasis teknologi digital dan keberlanjutan lingkungan. Pendekatan seperti rumah kaca dan metode permakultur diperkenalkan kepada peserta. Hal ini bertujuan untuk menciptakan praktik pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Selain itu, pendekatan pertanian cerdas dan semiintensif turut diperkenalkan sebagai solusi untuk meningkatkan produktivitas. Metode ini dirancang untuk menjaga ekosistem tetap seimbang. Tujuannya adalah mencapai keseimbangan antara produksi pangan yang optimal dan pelestarian sumber daya alam, sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menekankan pentingnya peran anak muda dalam transformasi sistem pangan. "Anak muda harus memanfaatkan berbagai peluang untuk berpartisipasi dalam tata kelola sistem pangan dan mengintegrasikan perspektif mereka ke dalam kebijakan untuk mewujudkan sistem pangan yang adil dan berkelanjutan bagi semua," kata Aryal. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi keterlibatan kaum muda.

Gagasan awal program "Petani Keren" ini muncul dalam Forum Pangan Dunia (WFF) 2023 di Roma, Italia. Delegasi Indonesia, yang saat itu dipimpin oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, menjadi inisiatornya. Ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam mendorong inovasi dan kolaborasi internasional untuk masa depan pertanian yang lebih baik.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi