Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan untuk mengalihkan pasokan elpiji kepada sektor industri. Untuk menjaga stok elpiji 3 kilogram di tengah masyarakat.
Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam mengatakan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah memburu pasokan elpiji baik dari impor maupun produksi dalam negeri.
"Elpiji yang selama ini dijual ke industri juga diupayakan untuk dialihkan untuk kebutuhan elpiji 3 kilogram, yang di mana kebutuhan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat," ujar Rizwi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, dikutip Kamis (9/4).
Ditjen Migas Kementerian ESDM pun menginstruksikan kilang elpiji swasta agar memprioritaskan penawaran produksinya yang sebelumnya dijual untuk industri kepada Pertamina Patra Niaga.
"Kami memberikan prioritas, usulan prioritas kepada kilang-kilang elpiji swasta untuk diberikan produksinya penawaran pertama kepada Pertamina Patra Niaga, yang elpiji-nya dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat," dia menambahkan.
Selain itu, pemerintah juga mendorong kilang-kilang di Tanah Air untuk menggenjot produksi elpiji maupun BBM. Rizwi mencontohkan Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan milik Pertamina.
"Sebagai contoh untuk RDMP Balikpapan yang menghasilkan propylene, dimana harga produknya ini sebenarnya harganya lebih tinggi. Produk ini kemudian dikurangi produksinya dan bahan baku naphta-nya. Kemudian digeser untuk memperkaya produk elpiji, untuk memperkuat pasokan elpiji secara nasional," beber dia.
Keputusan ini dikeluarkan lantaran kebutuhan elpiji nasional tercatat terus meningkat hingga Februari 2026. Pada saat bersamaan, angka importasi elpiji juga turut mengalami kenaikan.
Sesditjen Migas Kementerian ESDM Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam menyampaikan, konsumsi elpiji hingga Februari 2026 mengalami lonjakan sekitar 1.000 metrik ton (MT) per hari. Di sisi lain, impor elpiji juga melambung lebih dari 3 persen.
"Untuk kebutuhan elpiji nasional tercatat sebesar 25 ribu metrik ton per hari pada tahun 2025, dan sedikit naik menjadi 26 ribu MT pada 2026 hingga Februari akhir," ujar dia dalam rapat dengar pendapat yang sama.
"Pada tahun 2025 impor elpiji mencapai 80,58 persen dari total kebutuhan. Sementara itu, pada tahun 2026 hingga Februari ketergantungan impor elpiji meningkat jadi 83,97 persen dari total kebutuhan," terang dia.
Advertisement
Mengutip data Ditjen Migas Kementerian ESDM, total impor elpiji hingga Februari 2026 mencapai 1,31 juta ton. Jauh lebih besar dibandingkan angka produksi nasional yang hanya sebesar 0,13 juta ton.
"Terlihat produksi dalam negeri masih jauh di bawah kebutuhan. Sehingga impor elpiji tetap mendominasi pasokan nasional," ungkap Rizwi.
Ia pun tidak memungkiri jika Indonesia masih sangat bergantung terhadap impor elpiji. Namun kini, proses tersebut menjadi terhambat akibat aktivitas di Selat Hormuz yang tersendat imbas konflik geopolitik di Timur Tengah.
"Untuk situasi saat ini, dengan adanya kendala di Selat Hormuz, negara-negara lain selain di Timur Tengah menjadi alternatif paling dominan untuk diupayakan importasi elpiji-nya di tahun 2026," tutur dia.