Sri Mulyani: Kita harus hati-hati dengan kenaikan suku bunga The Fed

Senin, 22 Oktober 2018 16:09 Reporter : Dwi Aditya Putra
Sri Mulyani: Kita harus hati-hati dengan kenaikan suku bunga The Fed Sri Mulyani di Kementerian Perhubungan. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjadi pembicara dalam acara Leadership Training Kementerian Perhubungan (Kemenhub) di Kantor Kemenhub, Jakarta. Di hadapan seluruh Eselon Kemenhub, Sri Mulyani Sri Mulyani memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian dunia saat ini.

Sri Mulyani mengatakan, kondisi perekonomian global sekarang ini dihadapkan dengan situasi yang sulit. Menurutnya hal ini mulai dirasakan sejak terjadinya krisis ekonomi di Amerika Serikat (AS) pada 2008 hingga 2009 lalu yang kemudian merambah ke tanah Eropa.

"Itu krisis di perbankan tapi melebar krisis ekonomi. Waktu itu AS dan Eropa melakukan kebijakan moneter untuk mengurangi dampak krisis yang sangat dalam. Maka mereka melakukan perlawanan terhadap kebijakan moneter," kata Sri Mulyani saat memberikan sambutan dalam acara Leadership Training Kementerian Perhubungan, di Kantor Kemenhub, Jakarta, Senin (23/10).

Sri Mulyani mengungkapkan, pada waktu itu upaya yang dilakukan Negeri Paman Sam tersebut yakni menurunkan tingkat suku bunga hingga berada di level 0 persen. Sementara tingkat suku bunga di Eropa berada diangka 0,25 persen.

"Dengan suku bunga begitu rendah Bank Sentral AS dan Eropa memompa uang lebih banyak jadi ini obatnya double suku bunga diturunkan uang dicetak. Itu yang sebabkan ekonomi AS Eropa mulai tumbuh lagi digelontorin degan uang dituruni suku bunganya," jelas Sri Mulyani.

Bendahara Negara ini menyampaikan dengan kondisi tersebut maka perekonomian di AS saat ini perlahan berangsur pulih. Perekonomian bahkan sudah berada di atas 2 persen, kemudian pengangguran juga diklaim menurun.

Dengan kondisi seperti itu, kata Sri Mulyani maka Indonesia perlu berhati-hati. Sebab dengan keadaan perekoniman yang semakin pulih Bank Sentral AS justru akan melakukan kebijakan sebaliknya. Artinya dari yang sebelumnya menurunan suku bunganya, maka AS akan menaikan tingkat suku bunganya.

"Sekarang dengan adanya ekonomi (AS) berubah reverse policy-nya maka kita harus hati-hati suku bunga cenderung naik. Pernah tidak naik 20 tahun lalu pernah. Suku bunga dia pernah 5 persen. Kalau di AS 5 persen maka di Indoensia lebih tinggi," pungkasnya. [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini