Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) tetap berada di kisaran Rp2.600 menjelang Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan pada 27 Mei 2025. Koordinator Simpul Aktivis Angkatan '98 (Siaga 98), Hasanuddin, menilai kondisi ini mencerminkan ketidakpercayaan investor terhadap langkah-langkah strategis yang diambil perusahaan.
Hasanuddin berpendapat bahwa meskipun sektor telekomunikasi terus berkembang, aksi korporasi seperti buyback saham yang dilakukan Telkom dinilai terlalu pragmatis dan tidak menyentuh persoalan fundamental perusahaan.
"Pasar atau investor tak bergeming, mereka seperti kurang yakin dengan berbagai keputusan bisnis yang diambil Telkom, termasuk soal buyback itu," ujarnya dalam keterangannya.
Lebih lanjut, Hasanuddin mengungkapkan bahwa stagnannya harga saham Telkom juga menunjukkan adanya masalah mendasar yang belum ditangani dengan serius oleh manajemen.
"Investor ragu dengan berbagai langkah yang diambil Telkom, nampaknya mereka berfokus pada tata kelola, inovasi, dan struktur manajemen yang mereka anggap belum kredibel," tambahnya.
Menjelang RUPST, beberapa nama calon Direktur Utama Telkom yang beredar antara lain Ririek Adriansyah, Honesti Basyir, dan Heri Supriadi, yang telah lama berkarir di perusahaan. Hasanuddin menilai bahwa pasar membutuhkan perubahan dalam struktur manajemen untuk memulihkan kepercayaan investor.
"Pasar tidak begitu menerima status quo, mereka lebih membutuhkan 'darah segar' di Telkom," tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa jika kondisi ini tidak segera diperbaiki, Telkom berisiko tertinggal dalam persaingan sektor teknologi yang berkembang pesat.
"Jika investor tidak yakin, bagaimana Telkom mau bersaing dan jadi pemimpin pasar," ujarnya.
RUPST Telkom yang akan digelar pada 27 Mei 2025 diharapkan dapat menjadi momentum penting bagi perusahaan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan guna meningkatkan kinerja dan kepercayaan investor.