Rektor Unhas Tekankan Pentingnya Kesamaan Visi untuk Kembangkan Ekonomi Biru Berkelanjutan

Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa menyoroti urgensi kesamaan visi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat dalam membangun ekosistem Ekonomi Biru yang inklusif dan berkelanjutan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Rektor Unhas Tekankan Pentingnya Kesamaan Visi untuk Kembangkan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa menyoroti urgensi kesamaan visi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat dalam membangun ekosistem Ekonomi Biru yang inklusif dan berkelanjutan. (AntaraNews)

Makassar, 20 Juni 2026 - Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Jamaluddin Jompa, menegaskan urgensi kesamaan visi misi di antara berbagai pihak dalam membangun ekosistem Ekonomi Biru yang inklusif dan berkelanjutan. Penekanan ini disampaikan di Makassar pada Sabtu, 20 Juni, menyoroti peran krusial sinergi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat.

Menurut Prof. Jamaluddin Jompa, yang akrab disapa Prof. JJ, pengembangan ilmu kelautan dan perikanan merupakan tanggung jawab kolektif yang harus diemban bersama. Indonesia memiliki potensi sumber daya maritim yang sangat besar, menghadirkan peluang strategis sekaligus tantangan signifikan yang memerlukan respons melalui kolaborasi erat.

Penguatan sektor kelautan dan perikanan tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan nelayan. Lebih dari itu, sektor ini juga menjadi komponen vital dalam menjaga ketahanan pangan nasional, memastikan ketersediaan pasokan pangan yang stabil bagi seluruh rakyat Indonesia.

Universitas Hasanuddin, melalui Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), secara aktif menginisiasi berbagai forum diskusi untuk mewujudkan visi Ekonomi Biru. Salah satunya adalah "the 13th National and the 9th International Symposium on Marine and Fisheries (Symarfish) 2026". Acara ini menjadi platform penting bagi para ilmuwan dan praktisi untuk berkumpul dan bertukar gagasan.

Prof. JJ menyatakan bahwa hasil dari Symarfish ini akan menjadi masukan berharga bagi para pengambil kebijakan di tingkat nasional. Forum ilmiah ini menghadirkan pemikiran-pemikiran terbaik dari berbagai pakar, yang diharapkan dapat berkontribusi signifikan dalam memperkuat ilmu kelautan dan perikanan Indonesia.

Kolaborasi semacam ini sangat esensial untuk memastikan bahwa kebijakan yang dirumuskan berbasis pada data dan penelitian terkini. Dengan demikian, upaya pengembangan sektor maritim dapat berjalan lebih efektif dan mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu pembangunan berkelanjutan.

Ketua Panitia Symarfish 2026, Wilma J. C. Moka, PhD, menjelaskan bahwa simposium ini menarik minat yang luas dari berbagai kalangan. Tercatat sebanyak 120 peserta turut serta dalam kegiatan ini, dengan total 90 abstrak makalah yang telah didaftarkan. Kehadiran peserta dari berbagai negara menunjukkan semakin luasnya jangkauan kolaborasi internasional dalam mendukung riset dan inovasi di sektor maritim.

Wilma berharap bahwa forum ini akan menghasilkan dampak nyata terhadap tata kelola sumber daya kelautan dan perikanan di Indonesia. Melalui diskusi mendalam dan presentasi ilmiah, diharapkan muncul solusi-solusi inovatif untuk berbagai permasalahan yang dihadapi sektor ini.

Symarfish 2026 menghadirkan beragam topik strategis yang relevan dengan pengembangan Ekonomi Biru, antara lain:

  • Keanekaragaman hayati perairan
  • Ekologi dan konservasi akuatik
  • Oseanografi dan perubahan iklim
  • Bioteknologi kelautan dan perikanan
  • Akuakultur berkelanjutan
  • Sistem informasi geografis kelautan dan perikanan
  • Pencemaran dan ekotoksikologi perairan
  • Pengolahan hasil perikanan
  • Sosial ekonomi kelautan dan perikanan

Keragaman topik ini mencerminkan kompleksitas dan interdisiplineritas dalam upaya pengembangan maritim.

Visi Ekonomi Biru yang diusung Unhas dan para pemangku kepentingan lainnya memiliki implikasi luas terhadap ketahanan pangan nasional. Dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya kelautan secara berkelanjutan, Indonesia dapat memastikan pasokan protein hewani yang cukup bagi penduduknya. Hal ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk mencapai kemandirian pangan.

Peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir dan nelayan menjadi salah satu pilar utama dalam pengembangan Ekonomi Biru. Melalui program-program yang mendukung praktik perikanan berkelanjutan, diversifikasi usaha, dan peningkatan nilai tambah produk perikanan, taraf hidup mereka dapat ditingkatkan secara signifikan.

Sinergi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat adalah kunci untuk mewujudkan potensi penuh sektor maritim Indonesia. Dengan adanya kesamaan visi dan komitmen untuk berkolaborasi, tantangan yang ada dapat diatasi dan peluang dapat dimanfaatkan secara optimal demi masa depan yang lebih baik.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi