Keputusan penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengarantina Bursa Efek Indonesia (BEI) ke area standalone terasa bak petir di siang bolong. Dalam sehari perdagangan pada 16 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 11,57%.
Saham-saham bigcap dan bluechip bertumbangan, bahkan beberapa di antaranya merosot nyaris 15 persen. BEI kini bak berada dalam pengawasan khusus.
Langkah drastis MSCI ini memicu pertanyaan besar: apakah tindakan tersebut murni demi membenahi tata kelola pasar modal Indonesia?
Secara bertahap, BEI, KSEI, dan OJK sebenarnya telah menjalankan rekomendasi kebijakan dari MSCI. OJK bahkan sudah menaikkan batas free float berjenjang hingga 25 persen dan menjatuhkan ratusan sanksi bagi pelanggar aturan pasar. Namun, berbagai upaya perbaikan ini seolah diabaikan begitu saja oleh MSCI.
Pola ini berbanding terbalik dengan lembaga pemeringkat FTSE Russell. FTSE tetap mempertahankan Indonesia dalam kelompok Secondary Emerging Market bersama 13 negara lain karena mengapresiasi keterbukaan informasi, penambahan free float, dan pengawasan pasar yang kian ketat di BEI.
Ketua Badan Anggaran DPR, Said Abdullah, menilai bahwa koreksi dari MSCI tetap perlu diterima sebagai bahan evaluasi yang serius. Namun, ia mengingatkan agar publik juga tetap kritis terhadap lembaga pemeringkat tersebut.
"MSCI bukan kelembagaan agama, tempat kebenaran esensial melekat, dan para pengurus MSCI bukan nabi, yang memiliki otoritas tunggal, dan paling sempurna. Karena itu, kita juga boleh kritis terhadap mereka. Relasi resiprokal yang saling kritis ini saya kira justru baik untuk kedua belah pihak, antara kita dan mereka," ujar Said Abdullah dalam keterangan tertulis, Minggu (18/10/2026).
Advertisement
Fakta di Lapangan
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487882/original/010180200_1769682060-5.jpg)
Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan dinamika yang ironis. Ketika harga saham jatuh bebas akibat pengumuman MSCI, investor asing justru tercatat melakukan aksi beli (profit taking) hingga mencapai Rp 9,18 triliun. Situasi ini menunjukkan bahwa kebijakan MSCI secara tidak langsung memberi celah keuntungan bagi hedge fund.
Said memaparkan bahwa jika MSCI melarang praktik pengaturan harga karena merugikan investor, tindakan sepihak dari MSCI sendiri justru memicu kekacauan harga yang jauh lebih besar di BEI.
"Memperbaiki pasar modal Indonesia laksana mencari jarum di persawahan dengan padi yang menguning. Mari kita temukan jarumnya, tetapi padi yang menguning tidak rusak karena terinjak injak saat mencari jarum," katanya.
Said menegaskan bahwa, pengurus MSCI bukan nabi yang sedang bersabda suci, bak rasul yang menuliskan kitab suci, yang bisa memonopoli kebenaran tanpa cela. Semoga pula MSCI tidak sedang menjalani perannya sebagai proxy dari sang adikuasa.
"Ada petuah bijak, saya kira layak untuk kita renungkan bersama. Memperbaiki pasar modal Indonesia laksana mencari jarum di persawahan dengan padi yang menguning. Mari kita temukan jarumnya, tetapi padi yang menguning tidak rusak karena terinjak injak saat mencari jarum."

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376002/original/036051400_1792292686-WhatsApp_Image_2026-10-18_at_08.44.53.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9328440/original/005628000_1787194888-pal1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9371919/original/008702900_1791854435-000_D2Z484J.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5353573/original/030180800_1758177241-IMG-20250918-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9375829/original/085629000_1792232653-WhatsApp_Image_2026-10-17_at_14.12.08.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4049192/original/015167800_1654866895-FOTO.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3267165/original/042073600_1602658746-20201014-IHSG-Dibuka-di-Zona-Merah-angga-8.jpg)