Produk tas kulit anyaman asal Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, tak hanya menawarkan desain eksklusif, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi warga lokal. UMKM ini memberdayakan mantan penggembala ternak serta ibu rumah tangga dalam proses produksinya.
Perwakilan UMKM, Desi Panca, mengungkapkan bahwa pengerjaan tas mengandalkan lima perajin lokal yang terdiri dari tiga laki-laki dan dua perempuan. Para perajin pria bertugas membentuk dan merakit tas, sementara ibu-ibu fokus mengerjakan ayaman kulit dari rumah.
"Kami memberdayakan ibu-ibu agar tetap bisa berkarya tanpa meninggalkan peran merawat anak di rumah," ujar Desi saat ditemui di pameran INACRAFT, Jakarta International Convention Center (JICC), akhir pekan lalu.
Advertisement
Pelatihan Khusus dan Desain Eksklusif
Bahan baku yang digunakan berupa lembaran kulit sapi tersamak yang dipotong serta diserut presisi agar ketebalannya seragam. Menariknya, para perajin pria yang merakit tas tersebut dulunya merupakan penggembala kerbau dan sapi yang beralih profesi setelah menerima pelatihan dari dinas terkait.
Guna menjaga eksklusivitas, seluruh tas diproduksi secara terbatas (limited edition). Setiap model dibuat langsung berdasarkan rancangan pemilik usaha dengan pilihan warna yang terbatas.
Selain tas kulit anyaman, UMKM Kendal ini juga memamerkan koleksi busana serta kain batik beraksen prada warna-warni—seperti merah muda, hijau, dan biru—yang tampil beda dari prada emas atau perak konvensional.
Advertisement
Buka Ruang untuk Penyandang Disabilitas
UMKM ini juga memiliki rekam jejak sosial yang terbuka. Desi menyebut pihaknya pernah melibatkan perajin penyandang disabilitas dan tetap membuka pintu bagi mereka yang ingin bergabung di masa mendatang.
Melalui keikutsertaan di INACRAFT pada 7–11 Oktober 2026, UMKM asal Kendal ini berharap jangkauan pasarnya semakin meluas, khususnya di kawasan Jabodetabek, serta mendapat kesempatan di pameran-pameran strategis berikutnya.