Tak semua barang lawas berakhir di gudang atau menjadi kayu bekas yang terlupakan. Di tangan perajin furnitur, kayu-kayu berusia tua justru menemukan kehidupan baru sebagai perabot bernilai seni yang diburu pencinta gaya vintage, termasuk generasi muda.
Bob Riza, pelaku usaha furnitur asal Semarang, telah menekuni bisnis perkayuan selama 24 tahun. Berawal dari pemasaran bahan kayu, ia perlahan merambah kerajinan dan furnitur, termasuk perabot antik yang kini menjadi salah satu bidang usahanya.
Perjalanan itu bermula dari skala kecil. Seiring waktu, permintaan pelanggan terhadap berbagai produk kerajinan kayu membuat usahanya berkembang. Kini, Bob tak hanya menggarap furnitur antik, tetapi juga menerima pesanan perabot rumah tangga, meja kantor, hingga kursi kafe.
"Bisnis yang utama itu woodworking. Jadi pekerjaan segala macam bentuk pekerjaan atau order yang menggunakan material utama kayu," ujar Bob saat ditemui di pameran INACRAFT.
Advertisement
Kayu Jati Bekas Bongkaran Rumah Diolah Jadi Furnitur
Bagi Bob, kayu jati bukan sekadar material untuk membuat perabot. Kayu yang berasal dari bongkaran rumah pun masih bisa menemukan kehidupan baru sebagai furnitur dengan fungsi dan karakter berbeda.
Material kayu jati tersebut diolah menjadi beragam produk, mulai dari furnitur antik hingga perabot rumah tangga, meja kantor, dan kursi kafe. Melalui pengerjaan ulang, kayu yang sebelumnya menjadi bagian dari bangunan lama dapat kembali digunakan tanpa kehilangan daya tariknya.
Sementara itu, furnitur antik menjadi salah satu bidang yang ia tekuni karena berangkat dari kegemarannya terhadap barang-barang lawas. Karakter kayu jati dan bentuk perabot tradisional menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli yang mencari furnitur dengan nuansa klasik.
Salah satu produk yang diminati pembeli luar negeri adalah bangku panjang tradisional Jawa. Menurut Bob, perabot autentik semacam itu lebih banyak diminati dibandingkan sejumlah produk lain, seperti lemari dan meja.
Pesanan dari luar negeri memang belum mendominasi dari segi jumlah. Namun, produk dengan karakter tradisional tetap memiliki pasar tersendiri, termasuk pembeli dari Prancis yang menyukai furnitur autentik.
Advertisement
Anak Muda Ikut Berburu Furnitur Vintage
Anggapan bahwa furnitur antik hanya diminati kolektor berusia matang tampaknya tak sepenuhnya berlaku. Bob melihat generasi muda juga mulai melirik perabot lawas, terutama pasangan muda yang mencari furnitur dengan karakter berbeda.
Ia mengaku, sebagian besar transaksi yang ditemuinya juga melibatkan anak muda. Mereka tak hanya tertarik pada tampilan vintage, tetapi turut mempertimbangkan kualitas material yang digunakan.
"Anak-anak muda pun, generasi sekarang pun banyak juga yang suka dengan perabot-perabot vintage ini," kata Bob.
Menurut dia, penggunaan kayu tua menjadi salah satu daya tarik karena dinilai memiliki kualitas yang baik. Karakter material yang berbeda dari furnitur baru juga memberikan nilai tersendiri bagi pembeli yang ingin menghadirkan nuansa klasik di rumah.
Meski begitu, kondisi pasar furnitur saat ini belum sepenuhnya kembali seperti sebelumnya. Bob mengatakan, bisnisnya justru cukup terbantu ketika pandemi Covid-19 karena pemasaran daring semakin ramai digunakan.
Setelah pandemi, pasar terasa lebih menantang. Ia menilai kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat ikut memengaruhi permintaan, sekalipun produk yang ditawarkan memiliki kualitas yang baik.
Di tengah perubahan selera dan kondisi pasar, furnitur antik tetap menawarkan daya tarik yang tak lekang oleh waktu. Kayu yang pernah menjadi bagian dari bangunan lama dapat kembali hadir sebagai bangku, meja, atau perabot lain yang menemani kehidupan baru.
Bagi Bob, barang lawas bukan sekadar peninggalan masa lalu. Selama masih memiliki fungsi, kualitas, dan karakter, kayu tua tetap punya tempat di tengah tren furnitur modern.