PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus mematangkan strategi percepatan pembangunan infrastruktur gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) di berbagai pelosok Tanah Air. Langkah strategis ini diambil demi memperkuat ketahanan energi nasional serta menjaga keandalan sistem kelistrikan.
General Manager Unit Pelaksana Proyek Gas dan BBM PLN EPI, Agus Purnomo, menjelaskan bahwa percepatan tersebut dijalankan melalui pengelolaan proyek yang terintegrasi, pengamanan rantai pasok sejak awal, hingga optimalisasi potensi industri dalam negeri.
Ia menekankan bahwa tantangan utama dalam proyek LNG saat ini tidak cuma berkutat pada masalah pendanaan, melainkan juga keterbatasan kapasitas industri untuk menuntaskan pekerjaan sesuai dengan target kelistrikan.
"Tantangannya bukan hanya mengembangkan proyek. Kami juga perlu memastikan kapasitas dari pemasok peralatan utama, galangan kapal, dan juga kontraktor pelaksana untuk menyelesaikannya proyek tepat waktu," ujar Agus saat menjadi panelis dalam ajang Gastech Exhibition & Conference 2026 di Bangkok, Thailand.
Ajang Gastech 2026 sendiri merupakan wadah global yang mempertemukan sekitar 800 pemimpin sektor energi, pembuat kebijakan, inovator, hingga investor strategis. Pertemuan ini membahas peta jalan gas alam, LNG, hidrogen, solusi rendah karbon, elektrifikasi, hingga integrasi kecerdasan buatan (AI) di industri energi.
Lebih lanjut Agus memaparkan, PLN EPI telah menggenjot percepatan proyek midstream LNG di sekitar 25 titik wilayah Indonesia sejak 2023. Proyek ini menjadi tulang punggung program dedieselisasi PLN guna menggantikan penggunaan bahan bakar diesel dengan LNG.
Namun di sisi lain, industri LNG tingkat global tengah berhadapan dengan terbatasnya kapasitas eksekusi. Sebagai gambaran, kapasitas pembuatan kapal LNG ukuran besar di galangan Korea Selatan dan China diperkirakan hanya mampu memproduksi sekitar 85 kapal per tahun pada awal 2026. Sementara itu, antrean pesanan (orderbook) kapal LNG sudah menembus angka 268 unit per 31 Maret 2026, di mana sebagian kapal yang dipesan tahun ini baru bisa dikirim pada 2029.
"Bertambahnya kapasitas industri tidak serta-merta menjamin tersedianya slot produksi ketika proyek membutuhkan peralatan atau kapal," jelas Agus dikutip dari Antara.
Advertisement
Pendekatan Diterapkan PLN EPI
Menyikapi kondisi tersebut, PLN EPI menerapkan pendekatan portofolio terintegrasi. Seluruh elemen—mulai dari FSRU (Floating Storage and Regasification Unit), kapal LNG, fasilitas regasifikasi dan penyimpanan, jaringan pipa, hingga jalur koneksi ke pembangkit listrik—dirancang secara simultan dan terencana.
Strategi ini mencakup perencanaan kapasitas skala portofolio, keterlibatan vendor lebih dini, fleksibilitas manajemen aset, serta standardisasi pada desain maupun peralatan.
Di hadapan peserta forum internasional tersebut, Agus mengungkapkan opsi konversi kapal LNG yang sudah ada menjadi FSRU sebagai langkah antisipasi bila slot pembangunan kapal baru di galangan terbatas. Solusi ini memang tidak serta-merta lebih murah atau cepat, tetapi dapat menjadi jalan keluar alternatif di tengah sempitnya kapasitas galangan kapal baru.
Selain memanfaatakan teknologi dan vendor global untuk kebutuhan spesifik, PLN EPI juga berkomitmen memberdayakan industri domestik. Penguatan kemampuan lokal didorong pada sektor konstruksi, fabrikasi, pembuatan tangki penyimpanan, sistem perpipaan, kelistrikan, galangan kapal, operasi dan pemeliharaan, hingga jasa rekayasa (engineering).
"Kami membutuhkan kemampuan global untuk teknologi yang sangat khusus, tetapi skala pipeline proyek Indonesia dapat digunakan untuk secara bertahap membangun kemampuan domestik yang lebih kuat," ungkapnya.
Advertisement
Bangun 20 Lokasi Terminal Penerimaan LNG
Hingga tahun 2029, PLN EPI menargetkan pembangunan hampir 20 lokasi terminal penerimaan LNG satelit darat yang tersebar di beberapa area: satu lokasi di Nias, enam di Sulawesi, sembilan di Nusa Tenggara, dan empat di Papua Utara. Proyek ini digarap melalui empat klaster mitra strategis joint development agreement (JDA).
Pengembangan puluhan terminal satelit tersebut dirancang dalam satu bingkai program terpadu agar tidak membentuk rantai pasok yang berjalan sendiri-sendiri secara terpisah.
Agus menyimpulkan, di tengah ketatnya persaingan kapasitas industri dunia saat ini, kunci sukses proyek LNG tidak lagi sekadar kesiapan modal, melainkan kecermatan dalam mengamankan dan menyelaraskan kapasitas eksekusi di lapangan.
Melalui strategi terpadu ini, PLN EPI optimistis pembangunan infrastruktur LNG dapat tuntas tepat waktu guna memperkuat ketahanan energi serta keandalan pasokan listrik di seluruh Indonesia.