Musim kemarau tahun ini membawa kabar gembira bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Lebak, Banten. Perajin tirai atau krey sawit di wilayah tersebut mengalami peningkatan omzet yang signifikan, mencapai hingga 100 persen.
Lonjakan permintaan ini terjadi seiring dengan kebutuhan masyarakat akan pelindung dari sengatan sinar matahari langsung. Produk tirai sawit dari Lebak kini banyak dicari oleh konsumen dari berbagai kota besar, termasuk Serang, Cilegon, Depok, Bogor, hingga Jakarta.
Peningkatan omzet ini tidak hanya dirasakan oleh para perajin, tetapi juga oleh para pengepul yang menjadi jembatan distribusi produk. Kondisi ini menunjukkan potensi besar kerajinan lokal dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat di tengah tantangan iklim.
Advertisement
Advertisement
Omzet Pengepul dan Perajin Tirai Sawit Meningkat Drastis
Peningkatan omzet yang drastis ini diungkapkan oleh Toto (55), seorang pengepul krey sawit di Lebak. Ia menyatakan bahwa omzetnya kini mencapai Rp60 juta per pekan, naik dua kali lipat dari sebelumnya yang hanya Rp30 juta.
Menurut Toto, permintaan krey sawit meningkat dari 1.000 unit menjadi 2.000 unit per pekan. Setiap unit krey dijual seharga Rp30 ribu di tingkat pedagang pengecer, menunjukkan volume penjualan yang substansial.
Senada dengan Toto, Timan (45), pengepul krey sawit asal Desa Rangkasbitung Timur, Kabupaten Lebak, juga merasakan dampak positif ini. Omzet pendapatannya kini mencapai Rp50 juta per pekan, meningkat dari Rp25 juta sebelumnya.
Advertisement
Sementara itu, Rosad (55), seorang perajin krey dari Desa Rangkasbitung Timur, mampu memproduksi sekitar 6 krey per hari karena permintaan cenderung meningkat. Ia menjual krey tersebut kepada pengepul seharga Rp25 ribu per unit, menghasilkan pendapatan harian sekitar Rp150 ribu.
Advertisement
Permintaan Tinggi dari Berbagai Daerah Menjadi Pemicu Utama
Toto menjelaskan bahwa peningkatan permintaan tirai sawit sebagian besar datang dari Serang dan Cilegon, serta kota-kota besar seperti Jakarta. Konsumen membutuhkan tirai ini sebagai pelindung untuk menahan sinar matahari langsung ke arah bangunan.
Sistem pembayaran yang digunakan adalah kontan, di mana para pengepul memasok krey kepada pelanggan tetap, yaitu pedagang pengecer. Hal ini menunjukkan rantai pasok yang efisien dan stabil.
Timan juga mengungkapkan bahwa ia memasok tirai sawit kepada pelanggan tetap di Depok, Bogor, dan Jakarta. "Kami sangat terbantu adanya peningkatan permintaan pasar itu," ujarnya, menyoroti dampak positif bagi kesejahteraan perajin.
Advertisement
Advertisement
Dukungan Pemerintah Daerah untuk UMKM Lokal
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, Imam Suangsa, menyambut baik peningkatan ini. Ia menyatakan bahwa pemerintah daerah terus mendorong masyarakat yang berdekatan dengan perkebunan kelapa sawit untuk memproduksi aneka kerajinan.
Selain krey, kerajinan lain seperti sapu lidi juga memiliki permintaan yang relatif tinggi di berbagai daerah, termasuk Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Ini menunjukkan potensi diversifikasi produk kerajinan berbasis sawit.
Imam Suangsa menambahkan bahwa jumlah pelaku UMKM di Lebak saat ini mencapai lebih dari 172 ribu unit usaha, yang mencakup kerajinan krey dan sapu lidi. "Kami mengapresiasi keberadaan UMKM kerajinan tirai sawit dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat, sekaligus mengatasi kemiskinan dan pengangguran," tegasnya.
Advertisement
Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendukung pertumbuhan UMKM, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar perkebunan kelapa sawit. Hal ini diharapkan dapat menciptakan kemandirian ekonomi dan mengurangi angka pengangguran di wilayah tersebut.
Sumber: AntaraNews