Pemkot Palu Optimalkan Lahan Terbatas dengan Budidaya Hidroganik, Tingkatkan Ketahanan Pangan

Pemerintah Kota Palu gencar mengembangkan Budidaya Hidroganik untuk memaksimalkan lahan sempit perkotaan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah dan menciptakan lingkungan produktif.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pemkot Palu Optimalkan Lahan Terbatas dengan Budidaya Hidroganik, Tingkatkan Ketahanan Pangan
Pemerintah Kota Palu gencar mengembangkan Budidaya Hidroganik untuk memaksimalkan lahan sempit perkotaan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah dan menciptakan lingkungan produktif. (AntaraNews)

Pemkot Palu Kembangkan Budidaya Hidroganik untuk Optimalkan Lahan Terbatas

Pemerintah Kota Palu, Sulawesi Tengah, secara aktif mengembangkan sistem budidaya hidroganik sebagai solusi inovatif untuk pertanian perkotaan. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan produktivitas pangan dengan memanfaatkan lahan yang terbatas secara optimal. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Pemkot Palu dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palu, Lukman, menjelaskan bahwa hidroganik menjadi salah satu bentuk penerapan Urban Farming. Sistem ini sangat cocok diterapkan di wilayah perkotaan karena kemampuannya mengoptimalkan lahan sempit secara lebih produktif. Pengembangan ini diharapkan membawa dampak positif bagi masyarakat Palu.

Implementasi awal pengembangan hidroganik di Palu telah dimulai pada Minggu, 2 Agustus. Pemkot Palu telah menebar ribuan benih ikan dan menanam komoditas strategis. Program ini juga melibatkan pelatihan bagi masyarakat untuk memastikan keberlanjutan dan adopsi teknologi.

Konsep dan Keunggulan Budidaya Hidroganik

Hidroganik adalah sistem budidaya yang mengintegrasikan hidroponik berbasis organik dengan perikanan. Konsep ini memungkinkan tanaman tumbuh subur dengan media berupa campuran tanah dan bokashi. Di bawah instalasi tanaman, terdapat kolam ikan yang berfungsi menyediakan nutrisi alami bagi tanaman.

Keunggulan utama sistem Budidaya Hidroganik Palu terletak pada pemanfaatan hasil metabolisme ikan sebagai sumber unsur hara bagi tanaman. Dengan demikian, penggunaan pupuk kimia dapat ditekan secara signifikan. Hal ini mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Fleksibilitas hidroganik juga patut diperhitungkan, karena satu instalasi dapat digunakan untuk membudidayakan berbagai komoditas. Mulai dari sayuran hijau, cabai, tomat, bawang, hingga padi dapat ditanam dalam sistem ini. Ini menunjukkan potensi besar untuk diversifikasi produk pertanian di lahan terbatas.

Langkah Awal Implementasi dan Pengembangan

Sebagai langkah konkret pengembangan Budidaya Hidroganik Palu, Pemerintah Kota Palu telah menebar 3.000 benih lele dan 1.000 benih nila. Penebaran ini dilakukan pada dua unit instalasi hidroganik yang telah disiapkan. Inisiatif ini menandai dimulainya fase implementasi sistem pertanian inovatif di Palu.

Selain penebaran benih ikan, penanaman komoditas awal juga telah dilakukan. Bawang varietas Lembah Palu dan bawang merah menjadi pilihan pertama yang dikembangkan melalui sistem hidroganik ini. Pemilihan komoditas ini didasarkan pada relevansi dan potensi pasar lokal.

Lukman menyatakan, “Ini menjadi langkah awal pengembangan model pertanian perkotaan yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan di Kota Palu.” Pernyataan ini menegaskan komitmen Pemkot Palu terhadap inovasi pertanian. Harapannya, sistem ini dapat direplikasi di berbagai wilayah perkotaan lainnya.

Peningkatan Kapasitas Masyarakat dan Harapan ke Depan

Pengembangan Budidaya Hidroganik Palu tidak hanya berfokus pada instalasi fisik, tetapi juga melibatkan peningkatan kapasitas masyarakat. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palu telah melaksanakan pelatihan budidaya hidroganik. Pelatihan ini diikuti oleh 40 peserta dari berbagai latar belakang.

Peserta pelatihan terdiri atas petani, Kelompok Wanita Tani (KWT), dasawisma, dan penyuluh pertanian. Mereka mendapatkan pembekalan langsung mengenai teknologi budidaya hidroganik dari pemateri sekaligus Owner Bengkel Mimpi asal Kabupaten Malang. Materi yang diberikan mencakup aspek teknis dan praktis.

Selain mempelajari hidroganik, peserta juga dibekali keterampilan membuat komposter. Keterampilan ini penting untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk organik padat dan cair. Ini mendukung upaya pengelolaan sampah dan produksi pupuk secara mandiri.

Lukman berharap, “penerapan teknologi hidroganik dapat memperkuat ketahanan pangan daerah, meningkatkan ketersediaan pangan sehat bagi masyarakat, serta menciptakan kawasan perkotaan yang lebih produktif dan berwawasan lingkungan.” Keterampilan membuat komposter ini juga direncanakan diterapkan dalam Program Kelurahan Menanam.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi