Bukan Dana Asing, Bappenas Usul Proyek LRT Bali Pakai Pinjaman Ini

Secara garis besar, pembangunan LRT Bali rencananya akan dimulai di 2024 dengan masa pengerjaan sekitar 3 tahun.

Maulandy Rizki Bayu Kencana
Bukan Dana Asing, Bappenas Usul Proyek LRT Bali Pakai Pinjaman Ini
Bukan Dana Asing, Bappenas Usul Proyek LRT Bali Pakai Pinjaman Ini (Merdeka.com)

Bappenas Usul Proyek LRT Bali Jangan Pakai Pinjaman Asing

Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali kini tengah mematangkan rencana pembangunan proyek kereta LRT Bali.

Secara garis besar, pembangunan moda transportasi baru itu rencananya akan dimulai di 2024 dengan masa pengerjaan sekitar 3 tahun.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengusulkan agar proyek LRT Bali dibiayai oleh pinjaman dalam negeri (PDN). 

Perusahaan BUMN, BUMD dan swasta juga nantinya akan terlibat dalam skema kerjasama pemerintah dengan badan usaha (KPBU).

"Pembiayaannya kita mengusulkan ada yang dari PDN untuk right off way. Kemudian ada dari kerjasama antar swasta, BUMN, dan daerah," ujar Suharso di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Senin (9/10).

Sejauh ini, kata Suharso, usul pembiayaan proyek masih datang dari dalam negeri. 

Sejauh ini, kata Suharso, usul pembiayaan proyek masih datang dari dalam negeri. 
Dok. Istimewa

"Sampai hari ini belum (ada tawaran investasi asing)," ungkapnya. 

Sehingga, PT KAI (Persero) nantinya akan jadi perusahaan tunggal pengelola LRT Bali. 

Hal ini seperti yang dilakukan di LRT Jabodebek dengan membentuk manajemen baru. 

merdeka.com

"Iya, kita kan sudah ada pengalaman dengan LRT (Jabodebek)," imbuh Suharso.

"Iya, kita kan sudah ada pengalaman dengan LRT (Jabodebek)," imbuh Suharso.
Dok. Istimewa

Kendati begitu, Suharso belum bisa menyebut berapa nilai proyek yang bakal digelontorkan untuk membangun LRT Bali

Pasalnya, itu masih butuh perhitungan detil terkait biaya pengerjaan. 

"Belum, sedang berproses, angkanya belum kita selesaikan. Sudah ada tapi belum bisa disampaikan.

Apalagi, proyek LRT Bali nantinya akan turut dibangun menembus tanah alias underground.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

"Kisaran kan per km meter berapa, karena itu kan ada yang di bawah tanah. Itu pasti harganya berbeda. Mereka belum selesai menyampaikan pada kami," tuturnya. 

Rekomendasi