Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono menyoroti masalah antrean penyeberangan laut di lintasan strategis Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur menuju Gilimanuk, Bali. Persoalan ini dianggap serius karena merupakan jalur terpadat nasional yang menghubungkan dua pulau penting.
Bambang Haryo menekankan bahwa antrean panjang akibat keterbatasan dermaga tidak bisa diabaikan begitu saja. Jika terus berlanjut, kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang luas dan signifikan bagi Indonesia.
Terutama menjelang arus mudik dan libur Lebaran 2026, sektor angkutan logistik memerlukan perhatian serius. Lintasan ini vital bagi distribusi barang ke Pulau Bali, destinasi wisata kelas dunia, yang berdampingan erat dengan pertumbuhan pariwisata.
Advertisement
Advertisement
Potensi Inflasi dan Hambatan Ekonomi Akibat Antrean Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk
Pertumbuhan pariwisata secara langsung memicu peningkatan kebutuhan sektor logistik. Namun, saat ini, pertumbuhan jumlah trip kapal feri Ketapang-Gilimanuk terhambat oleh keterbatasan dermaga.
Kondisi ini berpotensi menyebabkan kemacetan yang bisa mencapai lebih dari 10 jam bagi angkutan logistik. Hambatan distribusi ini dapat memicu inflasi tinggi dan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.
Kecukupan logistik di wilayah pariwisata sangat krusial agar harga barang tidak melonjak akibat kekurangan pasokan. Kelancaran distribusi logistik menjadi kunci untuk menjaga stabilitas harga.
Advertisement
Masalah logistik ini tidak hanya mempengaruhi wisatawan domestik dan mancanegara, tetapi juga pelaku ekonomi, perdagangan, serta industri kecil dan menengah.
Advertisement
Mendesak Penambahan Infrastruktur Dermaga untuk Kelancaran Antrean Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk
Bambang Haryo menegaskan bahwa kondisi antrean panjang ini harus segera direspons dengan penambahan infrastruktur dermaga. Baik di Pelabuhan Ketapang maupun di Pelabuhan Gilimanuk diperlukan pembangunan segera.
Ketua Dewan Pembina Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat ini mengusulkan pembangunan minimal dua unit dermaga baru. Penambahan ini akan memungkinkan kapal-kapal yang saat ini menganggur, berjumlah lebih dari 20 unit, dapat beroperasi.
Dengan dermaga tambahan, kapasitas angkut kapal feri dapat meningkat hingga 30 persen. Ini merupakan langkah antisipasi jangka panjang yang penting untuk mendukung sektor pariwisata dan logistik penunjangnya.
Advertisement
Peningkatan jumlah wisatawan selama libur panjang akan secara otomatis meningkatkan kebutuhan logistik. Oleh karena itu, infrastruktur yang memadai sangat dibutuhkan untuk mengimbangi lonjakan permintaan tersebut.
Advertisement
Pembelajaran dari Praktik Global dalam Mengelola Logistik Libur Panjang
Di berbagai negara, seperti China, Jepang, Amerika Serikat, Eropa, hingga Malaysia, angkutan logistik tidak pernah dihentikan total saat musim libur panjang atau hari besar keagamaan. Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga kelancaran distribusi.
Praktik global ini menekankan bahwa distribusi logistik harus tetap berjalan untuk mengimbangi lonjakan kebutuhan selama periode liburan. Tujuannya adalah memastikan ketersediaan barang dan menjaga stabilitas harga di masyarakat.
Jika distribusi logistik terganggu, potensi efek ganda ekonomi akan muncul dan dapat mengganggu target pertumbuhan ekonomi nasional. Target pertumbuhan delapan persen bisa terancam jika masalah ini tidak segera diatasi.
Advertisement
Wilayah pariwisata harus "dimanjakan" dengan pasokan logistik, makanan, dan minuman yang cukup selama arus mudik dan libur Lebaran. Ini esensial untuk kenyamanan wisatawan dan keberlangsungan ekonomi lokal.
Sumber: AntaraNews