Dinas Pertanian Catat Luas Lahan Produksi Bawang Merah Papua Capai 102,14 Hektare

Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Papua melaporkan luas lahan Produksi Bawang Merah Papua mencapai lebih dari 100 hektare, dengan sebagian besar di Keerom. Ketahui upaya mengatasi inflasi komoditas ini.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Dinas Pertanian Catat Luas Lahan Produksi Bawang Merah Papua Capai 102,14 Hektare
Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Papua melaporkan luas lahan Produksi Bawang Merah Papua mencapai lebih dari 100 hektare, dengan sebagian besar di Keerom. Ketahui upaya mengatasi inflasi komoditas ini. (AntaraNews)

Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Papua mengungkapkan data terbaru mengenai luas lahan budidaya bawang merah di wilayahnya. Tercatat, total area tanam komoditas strategis ini telah mencapai 102,14 hektare per saat ini. Upaya ini diharapkan dapat menekan laju inflasi yang sering dipicu oleh harga bawang merah.

Sebagian besar dari lahan tersebut, khususnya yang menjadi sentra produksi, berlokasi di Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Dari total luas tanam tersebut, sekitar 85,12 hektare di antaranya telah berhasil dipanen oleh para petani setempat. Data ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Papua, Lunanka Daimboa.

Peningkatan produksi lokal bawang merah menjadi fokus utama pemerintah daerah guna mengurangi ketergantungan pasokan dari luar Papua. Keterbatasan produksi domestik selama ini menjadi salah satu faktor utama fluktuasi harga yang signifikan di pasar, seperti yang terjadi di Jayapura.

Peningkatan Luas Lahan dan Potensi Panen Bawang Merah Lokal

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Papua, Lunanka Daimboa, menjelaskan bahwa luas lahan tanam bawang merah di Papua saat ini mencapai 102,14 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 85,12 hektare di antaranya telah memasuki masa panen. Sebagian besar stok bawang merah lokal di Provinsi Papua berasal dari Kabupaten Keerom.

Data ini menunjukkan adanya potensi besar untuk pengembangan komoditas bawang merah di wilayah Papua. Dengan luasan yang signifikan, diharapkan produksi dapat terus meningkat secara berkelanjutan. Peningkatan ini penting untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.

Meskipun demikian, produksi yang ada saat ini masih dianggap terbatas jika dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi. Harga bawang merah di Jayapura saat ini tercatat mencapai Rp55.000 per kilogram, menunjukkan bahwa pasokan masih belum stabil. Hal ini menjadi indikator penting bagi pemerintah dan petani.

Tantangan Inflasi dan Ketergantungan Pasokan Luar

Komoditas bawang merah diidentifikasi sebagai salah satu pemicu utama inflasi di Papua. Keterbatasan jumlah petani yang menanam bawang merah dalam skala besar menyebabkan produksi lokal masih terbatas. Akibatnya, pasokan bawang merah untuk wilayah Papua masih sangat bergantung pada kiriman dari luar daerah, seperti dari Surabaya.

Ketergantungan pada pasokan eksternal ini menjadi faktor krusial yang menyebabkan harga bawang merah di pasar sering mengalami kenaikan. Fluktuasi harga ini secara langsung berdampak pada daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi regional. Pemerintah daerah berupaya keras untuk mengatasi permasalahan ini.

Lunanka Daimboa berharap agar semakin banyak petani di Papua yang tertarik untuk menanam bawang merah. Dengan peningkatan jumlah petani dan luas lahan tanam, diharapkan produksi lokal dapat meningkat secara signifikan. Hal ini akan membantu menstabilkan harga dan mengurangi tekanan inflasi yang kerap terjadi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi