Komisi VII DPR Apresiasi Industri Farmasi Jamu Optimalkan Bahan Lokal, Jamin Pasokan Aman

Komisi VII DPR RI mengapresiasi ketahanan industri farmasi jamu yang sukses mengoptimalkan bahan lokal, memastikan pasokan bahan baku tetap terjaga dan tidak terpengaruh kendala impor.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Komisi VII DPR Apresiasi Industri Farmasi Jamu Optimalkan Bahan Lokal, Jamin Pasokan Aman
Komisi VII DPR RI mengapresiasi ketahanan industri farmasi jamu yang sukses mengoptimalkan bahan lokal, memastikan pasokan bahan baku tetap terjaga dan tidak terpengaruh kendala impor. (AntaraNews)

Komisi VII DPR RI baru-baru ini menyatakan apresiasi tinggi terhadap perkembangan industri farmasi tradisional di Indonesia. Apresiasi ini diberikan karena industri jamu terbukti mampu bertahan dan berkembang dengan mengoptimalkan potensi bahan baku dari dalam negeri. Hal ini menjadi sorotan penting di tengah isu ketersediaan bahan baku untuk sektor farmasi lainnya.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, memimpin langsung kunjungan kerja ke pabrik PT Sido Muncul di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat (23/1). Kunjungan ini bertujuan untuk menginventarisasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh industri farmasi, baik tradisional maupun kimia. Evita Nursanty menyoroti bahwa industri farmasi jamu tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan baku.

Berbeda dengan industri farmasi kimia yang kerap menghadapi kendala pasokan, industri jamu justru memiliki potensi bahan baku yang luar biasa melimpah di Indonesia. Kondisi ini menunjukkan kekuatan dan kemandirian sektor jamu dalam memenuhi kebutuhan produksinya. Komisi VII DPR akan melanjutkan kunjungan ke industri farmasi kimia untuk memahami tantangan mereka.

Ketahanan Industri Jamu Berkat Bahan Baku Lokal

Industri farmasi tradisional, atau jamu, di Indonesia menunjukkan ketahanan yang signifikan berkat kemampuannya mengoptimalkan bahan baku lokal. Potensi kekayaan alam Indonesia menjadi tulang punggung bagi kelangsungan produksi jamu, menjadikannya sektor yang mandiri dari ketergantungan impor. Hal ini tentu menjadi nilai tambah di tengah dinamika ekonomi global.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menegaskan bahwa ketersediaan bahan baku bukanlah masalah bagi industri jamu. Ia menyatakan, "Potensi bahan baku untuk industri jamu di Indonesia ini luar biasa, tinggal bagaimana pemasarannya." Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa tantangan utama justru terletak pada aspek distribusi dan pasar, bukan pada pasokan.

Sebaliknya, industri farmasi kimia justru seringkali menghadapi kendala dalam pemenuhan bahan baku. Ketergantungan pada pasokan dari luar negeri membuat sektor ini rentan terhadap fluktuasi harga dan ketersediaan global. Perbedaan ini menyoroti keunggulan strategis industri jamu yang berbasis pada sumber daya domestik.

Dalam kunjungan ke PT Sido Muncul, Komisi VII DPR juga mengamati operasional pabrik yang canggih dan terjamin higienitasnya. Meskipun menggunakan mesin-mesin modern, perusahaan ini berhasil tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap karyawannya. Ini menunjukkan komitmen industri jamu terhadap kesejahteraan pekerja di tengah modernisasi produksi.

Standardisasi dan Perlindungan untuk Industri Kepercayaan

Direktur PT Sido Muncul, Irwan Hidayat, menjelaskan bahwa industri jamu yang mereka bangun menerapkan standardisasi setara dengan industri farmasi modern. Pendekatan ini bertujuan untuk membangun kepercayaan konsumen terhadap produk jamu. Standardisasi yang ketat menjamin kualitas dan keamanan produk yang dihasilkan.

Irwan Hidayat juga menyampaikan harapan agar pemerintah dapat memberikan pembinaan sekaligus perlindungan kepada para pelaku industri farmasi jamu. Pembinaan ini penting untuk terus meningkatkan kualitas dan daya saing produk jamu di pasar. Perlindungan diperlukan agar industri ini dapat tumbuh berkelanjutan tanpa hambatan yang berarti.

Dengan membangun industri jamu sebagai "industri kepercayaan," PT Sido Muncul berupaya mengubah persepsi masyarakat terhadap jamu. Dari sekadar pengobatan tradisional, jamu bertransformasi menjadi produk kesehatan yang didukung oleh riset dan standar produksi modern. Langkah ini krusial untuk memperluas penerimaan pasar.

Komisi VII DPR RI, setelah mengevaluasi permasalahan di industri farmasi tradisional, berencana melanjutkan kunjungan ke industri farmasi kimia. Langkah ini diambil untuk mendapatkan gambaran komprehensif mengenai tantangan yang dihadapi oleh kedua sektor. Data dari kunjungan ini akan menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi