Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp2 miliar untuk perbaikan irigasi yang mengairi 5.500 hektare (ha) sawah di Kabupaten Solok. Anggaran ini disiapkan untuk mengatasi kerusakan akibat sedimen lumpur yang menumpuk pascabanjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025. Gubernur Sumbar, Mahyeldi, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam memulihkan infrastruktur pertanian vital ini.
Anggaran Rp2 miliar tersebut akan disalurkan melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Provinsi Sumbar, fokus pada pembenahan saluran irigasi di Nagari Banda Gadang, Koto Guguak, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok. Selain itu, dukungan juga datang dari sektor swasta melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Bank Nagari untuk perbaikan hulu irigasi atau Kapalo Banda. Langkah ini menunjukkan sinergi antara pemerintah dan pihak lain dalam menghadapi dampak bencana.
Perbaikan irigasi Solok sangat mendesak mengingat Kabupaten Solok merupakan salah satu sentra penghasil padi terbaik di Ranah Minang. Kerusakan irigasi telah mengganggu pasokan air bagi lahan persawahan di lima nagari, yaitu Nagari Kotogaek Guguak, Kotogadang Guguak, Jawi-Jawi Guguak, Talang, dan Cupak. Pemulihan fungsi irigasi menjadi kunci untuk menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan daerah.
Advertisement
Advertisement
Upaya Pemulihan Irigasi Vital di Kabupaten Solok
Saluran irigasi di Nagari Banda Gadang, Koto Guguak, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, tergolong sangat vital karena menjadi urat nadi bagi areal persawahan petani. Tanpa pasokan air yang memadai, ribuan hektare sawah berpotensi mengalami gagal panen. Pemerintah Provinsi Sumbar menyadari pentingnya infrastruktur ini bagi kehidupan ekonomi masyarakat setempat.
Kerusakan parah pada irigasi terjadi akibat penumpukan sedimen lumpur yang masif di sepanjang saluran. Sedimen ini merupakan dampak langsung dari banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. Bencana alam tersebut tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengancam mata pencaharian petani.
Akibat lumpur yang menumpuk, pasokan air bagi lahan persawahan di lima nagari menjadi terganggu secara signifikan. Nagari-nagari yang terdampak meliputi Kotogaek Guguak, Kotogadang Guguak, Jawi-Jawi Guguak, Talang, dan Cupak. Kondisi ini memerlukan penanganan cepat dan komprehensif untuk mencegah kerugian yang lebih besar bagi petani.
Advertisement
Gubernur Mahyeldi menegaskan bahwa penanganan permanen telah dialokasikan melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi Provinsi, sementara pembenahan Kapalo Banda akan didukung oleh CSR Bank Nagari. Upaya kolaboratif ini diharapkan dapat mempercepat proses perbaikan dan mengembalikan fungsi irigasi seperti semula.
Advertisement
Sinergi Pusat dan Daerah untuk Ketahanan Pangan
Tidak hanya pemerintah provinsi, Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) juga turut bergerak cepat dalam upaya perbaikan irigasi persawahan yang rusak. Kerja sama ini mencakup tiga provinsi di Sumatera yang terdampak bencana, termasuk Sumatera Barat. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci dalam penanganan bencana berskala luas.
Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian, Sam Herodian, menyatakan bahwa Kementan dan Kemen PU langsung bergerak cepat memperbaiki sungai-sungai yang menjadi urat nadi areal persawahan sejak bencana terjadi. Respons cepat ini menunjukkan prioritas pemerintah dalam menjaga sektor pertanian yang merupakan tulang punggung ekonomi.
Khusus di Sumbar, salah satu titik fokus Kementan bersama Kemen PU adalah memperbaiki aliran Batang Gawan yang berada di Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat lumbung padi di Ranah Minang, sehingga perbaikannya sangat mendesak. Pemulihan Batang Gawan diharapkan dapat mengamankan pasokan air untuk pertanian di wilayah tersebut.
Advertisement
Percepatan perbaikan irigasi ini merupakan bagian dari upaya lebih besar untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Dengan pulihnya fungsi irigasi, diharapkan produktivitas padi di Kabupaten Solok dan wilayah terdampak lainnya dapat kembali normal, mendukung ketersediaan pangan bagi masyarakat. Kolaborasi berbagai pihak menjadi esensial dalam mencapai tujuan ini.
Sumber: AntaraNews