OJK Minta Sektor Jasa Keuangan Cermati Risiko Konflik AS-Venezuela Jangka Panjang

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta sektor jasa keuangan terus mencermati potensi risiko akibat konflik AS-Venezuela, meskipun dampak jangka pendek belum terlihat, demi stabilitas ekonomi dan keuangan Indonesia.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
OJK Minta Sektor Jasa Keuangan Cermati Risiko Konflik AS-Venezuela Jangka Panjang
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta sektor jasa keuangan untuk terus mencermati dan memantau intensif Risiko Konflik Venezuela serta potensi dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan keuangan global, meskipun dampak jangka pendek belum terlihat. (AntaraNews)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menginstruksikan pelaku jasa keuangan untuk terus memantau risiko pasar, likuiditas, dan kredit. Hal ini menyusul perkembangan geopolitik terkini yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Venezuela. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyampaikan arahan ini dalam konferensi pers daring di Jakarta, Jumat.

Meskipun dampak langsung konflik AS-Venezuela terhadap perekonomian Indonesia tidak terlihat dalam jangka pendek, OJK menekankan pentingnya kewaspadaan. Pemantauan intensif harus dilakukan untuk mengantisipasi potensi risiko. Ini demi menjaga stabilitas sektor jasa keuangan nasional.

Mahendra Siregar menegaskan bahwa pencermatan mendalam diperlukan untuk risiko jangka menengah panjang. Hal ini mengingat ketidakpastian global yang tinggi akibat berbagai ketegangan geopolitik. Situasi ini dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dan keuangan global secara signifikan.

Kewaspadaan OJK Terhadap Dinamika Geopolitik Global

Mahendra Siregar menjelaskan bahwa para pelaku jasa keuangan, termasuk di pasar keuangan, masih terus mencermati konflik antara AS dan Venezuela. Mereka juga memantau potensi dampaknya terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan global. Risiko geopolitik telah menjadi pemicu ketidakpastian tinggi pada proses pertumbuhan serta stabilitas ekonomi dan keuangan global.

Sebelum tensi antara AS dan Venezuela, ketidakpastian sudah membayangi pertumbuhan ekonomi global. Mahendra menyoroti konflik di Ukraina, Palestina, dan kini Venezuela oleh AS, yang menciptakan preseden mengkhawatirkan. Ia menyatakan bahwa pelanggaran semacam ini menimbulkan kekhawatiran karena ternyata bisa dilakukan tanpa konsekuensi yang memberatkan secara riil pada negara yang melakukan pelanggaran itu.

Situasi ini menjadi semakin sulit mengingat lembaga multilateral dan internasional sudah memprakirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 tidak mencapai 3 persen. Angka ini menjadi pertumbuhan terendah pascapandemi COVID-19.

Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Domestik dan Tantangan Global

OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia tetap terjaga hingga akhir 2025. Penilaian ini berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) pada 24 Desember 2025. Meskipun demikian, kewaspadaan terhadap risiko global tetap menjadi prioritas utama.

Mahendra menyampaikan bahwa perekonomian dunia menunjukkan perbaikan, meskipun kinerja ekonomi Tiongkok berada di bawah ekspektasi. Aktivitas manufaktur global juga tetap berada di zona ekspansi, namun dengan laju yang termoderasi. Di AS, perekonomian menunjukkan kinerja yang relatif solid dengan PDB untuk kuartal ketiga 2025 tumbuh 4,3 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya dan di atas konsensus pasar.

Berbeda dengan AS, perlambatan ekonomi di Tiongkok masih berlanjut, dengan konsumsi rumah tangga yang masih tertahan. Dinamika ini mendorong sejumlah bank sentral menempuh kebijakan akomodatifnya. The Fed memangkas Federal Funds Rate (FFR) dan Bank of England pada Desember 2025 juga kembali memangkas suku bunga acuan.

Namun, Bank of Japan menaikkan suku bunga kebijakan ke level tertinggi dalam tiga dasawarsa terakhir karena didorong oleh tekanan inflasi yang relatif persisten di Jepang. Perbedaan arah kebijakan dari bank-bank sentral ini turut memengaruhi dinamika pasar keuangan global. Di tengah dinamika global, perekonomian domestik Indonesia pada Desember 2025 mencatatkan inflasi inti yang meningkat, sektor manufaktur terpantau masih ekspansif, serta kinerja eksternal terjaga dengan neraca perdagangan yang mencatatkan surplus.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi