Bencana Sumatra Diprediksi Tahan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV 2025, Ini Alasannya

Sumatra memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional sehingga gangguan ekonomi di wilayah tersebut tidak bisa dipandang remeh.

Tira Santia
Oleh Tira Santia - Reporter
Bencana Sumatra Diprediksi Tahan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV 2025, Ini Alasannya
Bencana Sumatra Diprediksi Tahan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV 2025, Ini Alasannya (Merdeka.com)

Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO), Suhindarto menilai bencana Sumatra berpotensi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan IV. Menurutnya, Sumatra memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional sehingga gangguan ekonomi di wilayah tersebut tidak bisa dipandang remeh.

"Kami sendiri memproyeksikan ini akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi gitu ya, karena dari sisi share gitu ya, Sumatra juga bukanlah daerah kecil, yang mana Sumatra ini juga menyumbang dalam perekonomian kita, begitu besar ya share-nya," kata Suhindarto dalam Media Forum PEFINDO, Selasa (16/12).

Suhindarto menjelaskan, dari sisi pangsa ekonomi, Sumatra bukanlah daerah kecil. Pulau ini menyumbang porsi signifikan terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Oleh karena itu, gangguan aktivitas ekonomi akibat bencana berisiko menahan akselerasi pertumbuhan yang seharusnya bisa terjadi pada akhir tahun.

"Tapi secara umum ini bisa menjadi faktor negatif yang akhirnya menahan akselerasi pertumbuhan ekonomi di Triwulan IV ini, yang seharusnya bisa terjadi gitu ya di tengah stimulus pemerintah yang relatif cukup banyak diberikan gitu ya," ujar dia.

Meski demikian, Suhindarto menekankan bahwa besaran dampak secara kuantitatif masih perlu dicermati lebih lanjut. Hingga saat ini, belum terdapat rilis data resmi dari pemerintah yang secara spesifik mengukur dampak bencana Sumatera terhadap kinerja ekonomi, sehingga proyeksi masih bersifat indikatif.

"Nah untuk seberapa jauh sebenarnya perlu dicek kembali, karena sampai saat ini juga kita masih belum melihat release resmi lah ya dari data pemerintah yang berkaitan dengan bencana ini, dampaknya ke ekonomi seperti apa," ujar dia.

Suhindarto mengungkapkan, jika merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) dirilis saat pengumuman pertumbuhan ekonomi Triwulan III, beberapa provinsi terdampak bencana memiliki kontribusi ekonomi cukup besar. Sumatra Utara misalnya, menjadi provinsi dengan share terbesar di Pulau Sumatra.

"Kalau kita lihat mungkin untuk dari data yang sempat dishare BPS ketika merilis data pertumbuhan ekonomi di Triwulan III kemarin, untuk tiga provinsi yang terdampak gitu ya, ini cukup, memang yang paling besar adalah Sumatra Utara gitu ya share-nya, dan ini paling besar di Sumatra," ujar dia.

Selain Sumatra Utara, Sumatra Barat juga masuk dalam delapan besar provinsi dengan kontribusi ekonomi signifikan. Aceh pun berada di peringkat ketujuh secara nasional. Dengan posisi tersebut, gangguan ekonomi di tiga provinsi ini dinilai akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatra secara keseluruhan.

Dari sisi konsumsi rumah tangga, Suhindarto menyebut dampak bencana hampir tidak terhindarkan. Aktivitas ekonomi masyarakat yang terganggu berpotensi membuat konsumsi tertahan, terutama di wilayah terdampak langsung, sehingga menambah tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi Triwulan IV.

Sementara itu, dampak terhadap inflasi belum sepenuhnya tercermin. Pada data inflasi November, efek bencana belum terlihat signifikan. Namun, PEFINDO masih mencermati data inflasi Desember untuk melihat apakah gangguan distribusi dan pasokan akibat bencana akan mendorong kenaikan harga.

"Kemudian dari konsumsi rumah tangga sudah pasti akan terdampak dengan adanya bencana, maka konsumsi juga bisa jadi tertahan, dan inflasi untuk di bulan November kemarin memang belum begitu tercerminkan gitu ya. Namun untuk di Desember ini kita juga masih menunggu datanya," pungkasnya.



Rekomendasi