Perjalanan hidup seseorang tak selalu berjalan mulus seperti yang dibayangkan. Ada kalanya roda kehidupan berputar cepat, membawa seseorang pada masa-masa penuh tantangan, jatuh bangun, dan perjuangan yang mengasah ketangguhan. Di balik setiap ujian, seringkali terselip kekuatan baru yang justru muncul dari titik terendah. Begitu pula yang dialami oleh Dewi Aminah, perempuan asal Solo yang kini dikenal sebagai pemilik Iswara Food, produsen bumbu dan tepung bumbu kemasan yang lahir dari kisah hidup penuh lika-liku.
Bagi Dewi, perjalanan membangun Iswara Food adalah proses menemukan kembali dirinya sebagai ibu, perempuan, sekaligus pejuang keluarga. Dari kehilangan, cobaan, hingga kebutuhan merawat anak dengan kondisi khusus, semuanya menjadi titik balik yang mendorongnya melangkah maju. Dari situlah Iswara Food tumbuh, menjadi wujud nyata keteguhan dan cinta seorang ibu pada keluarganya.
Dewi mengenang masa awal usaha keluarganya saat masih mengelola bisnis batik di Pasar Klewer. Usaha itu ia jalankan sejak awal menikah dan menjadi penopang utama kehidupan keluarga. Namun, semuanya berubah ketika musibah besar melanda.
"Awalnya saya punya usaha batik di Pasar Klewer dari awal mula pernikahan sampai umur anak saya ketiga. Bisnis batik itu luar biasa, cari uangnya gampang. Tapi kemudian semuanya habis terbakar saat kejadian kebakaran di Pasar Klewer," cerita Dewi.
Di tengah upaya bangkit dari kehilangan, kehidupannya kembali diuji. Pada tahun 2000, anak ketiganya lahir dengan kondisi 'istimewa', yaitu mengidap autis dan hiperaktif. Kondisi ini membuat Dewi harus belajar menyiapkan makanan sehat yang sesuai dengan kebutuhan sang anak. Dari proses itulah, ia mulai mempelajari dunia bumbu dan memasak.
"Awalnya saya nggak bisa masak, sampai akhirnya saya belajar dan bisa membuat bumbu-bumbu dalam kemasan ini. Tapi, saya bikin yang beda, tepungnya dari tepung mokaf yang kemudian saya olah jadi tepung ayam krispi, tepung tempe mendoan, dan masih banyak lagi," jelasnya.
Lahirnya Iswara Food pada tahun 2008 bukan sekadar langkah memulai usaha baru, tetapi juga simbol dari perjalanan panjang seorang perempuan untuk bertahan. Nama 'Iswara' dipilih karena memiliki makna perempuan tangguh dan kuat, cerminan motivasi Dewi dalam membangun kembali kehidupannya.
Ia pun menegaskan bahwa Iswara Food memiliki keunikan tersendiri di tengah banyaknya produk sejenis.
"Keunikan dari produk Iswara Food ini, satu, bahan mudah didapat, dua, murah dan tentunya sehat, karena bumbu ini rempah-rempah yang ada di Indonesia, alami dari produk Indonesia, yang ditanam dari Indonesia juga. Jadi lebih murah, mudah didapat di pasar-pasar tradisional dari bumbu dasarnya, misalnya merica, tumbar, semuanya itu dari harga yang lebih murah, tapi tetap sehat," lanjut Dewi.
Advertisement
Pemberdayaan BRIncubator Rumah BUMN Dukung Bisnis Makin Berkembang
Perjalanan Iswara Food semakin menunjukkan perkembangan positif ketika Dewi bergabung dalam program pelatihan BRIncubator dari Rumah BUMN BRI Solo. Kesempatan itu membuka wawasan baru dan meningkatkan kemampuan bisnisnya, terutama dalam pemasaran dan pengembangan produk.
"Alhamdulillah saya mendapatkan bimbingan dari BRI, di mana saya ikut program BRIncubator selama 10 hari. Hal ini yang membuat saya jadi lebih percaya diri. Saya memasarkan produk saya dengan langkah-langkah yang lebih tepat sasaran, dari media sosial. Kita juga bisa punya toko online dari HP. Produksinya juga lebih bagus, kita dibimbing untuk packaging yang baik itu seperti apa. Lalu di tahun 2024, saya mendapatkan kesempatan mengenalkan produk saya lebih luas lewat BRI expo," lanjut Dewi.
Advertisement
Manfaat bagi masyarakat sekitar
Pendampingan itu tak hanya membuat bisnisnya lebih berkembang, tetapi juga mendorong Dewi untuk berbagi manfaat kepada masyarakat sekitar. Ia memberdayakan ibu-ibu yang membutuhkan, terutama mereka yang ingin memulai usaha rumahan dari modal kecil.
"Saya juga memberikan pelatihan kepada ibu anak yatim, ibu yang suaminya di penjara, sehingga mereka bisa bikin bisnis dengan modal kecil. Misalnya kita beri pelatihan membuat sosis, nanti setiap bulannya ada pendampingan dan pelaporan ke kami. Alhamdulillah dari semua pelatihan-pelatihan saya, pasti menelurkan usaha-usaha baru yang saya latih. Bisa juga yang sudah punya modal, itu bisa menjadi produsen juga untuk jamu ini, dengan nama berbeda nanti untuk sertifikat PIRT-nya, sertifikat halalnya saya bantu secara gratis. Ibu-ibu yang pengen punya usaha dari modal kecil, dari rumah bisa, yang penting punya niat, Insya Allah, Allah akan memberi jalan," jelas Dewi.
Advertisement
BRIncubator pelatihan dan pendampingan bagi UMKM
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Mikro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan bahwa BRIncubator merupakan program pelatihan dan pendampingan bagi UMKM binaan Rumah BUMN yang telah lolos kurasi. Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha agar lebih siap bersaing.
BRIncubator, lanjutnya, menjadi wujud komitmen BRI dalam membantu UMKM untuk berkembang dan naik kelas melalui pelatihan terarah dan pendampingan berkelanjutan yang memungkinkan UMKM tumbuh secara bertahap namun berdaya saing.
"Melalui peningkatan literasi, digitalisasi, dan kemudahan akses, UMKM didorong untuk memperkuat daya saing dan menghasilkan nilai tambah di pasar," pungkasnya.