Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengumumkan bahwa daerah tersebut mengalami inflasi sebesar 0,02 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada November 2025. Angka ini menunjukkan pergerakan harga yang relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya, Oktober 2025, meskipun ada beberapa sektor yang mengalami kenaikan dan penurunan indeks.
Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, menjelaskan bahwa dari total 11 kelompok pengeluaran yang dipantau, sembilan di antaranya mencatatkan kenaikan harga. Sementara itu, dua kelompok pengeluaran lainnya justru mengalami penurunan indeks harga, memberikan kontribusi pada angka inflasi yang rendah ini.
Data Inflasi Sumsel November 2025 ini dirilis di Palembang pada Senin, 1 Desember, memberikan gambaran terkini mengenai kondisi perekonomian daerah. Meskipun terjadi kenaikan di banyak sektor, capaian inflasi bulanan ini jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menandakan adanya stabilitas harga yang lebih baik.
Advertisement
Advertisement
Penyumbang Utama Inflasi Bulanan di Sumsel
Sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi pendorong utama Inflasi Sumsel November 2025 secara bulanan, dengan andil sebesar 0,03 persen. Komoditas yang paling signifikan menyumbang kenaikan harga dalam kelompok ini adalah emas perhiasan, yang menunjukkan adanya peningkatan permintaan atau harga bahan baku.
Selain emas perhiasan, BPS juga mencatat lima komoditas utama lainnya yang turut menjadi penyumbang inflasi terbesar pada November 2025. Komoditas tersebut meliputi cabai merah, bawang merah, wortel, dan ikan gabus, yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari. Kenaikan harga pada komoditas ini secara langsung memengaruhi daya beli masyarakat.
Pergerakan harga pada komoditas pangan seringkali dipengaruhi oleh faktor musim, pasokan, dan distribusi. Meskipun demikian, kenaikan harga komoditas ini berhasil diimbangi oleh penurunan harga di sektor lain, sehingga angka inflasi secara keseluruhan tetap terkendali.
Advertisement
Advertisement
Sektor yang Mengalami Deflasi dan Perbandingan Tahunan
Di sisi lain, terdapat dua kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga, berkontribusi pada deflasi di beberapa sektor. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mencatatkan penurunan sebesar 0,07 persen. Hal ini menunjukkan adanya penurunan harga pada barang-barang kebutuhan rumah tangga.
Selain itu, kelompok pengeluaran transportasi juga mengalami penurunan indeks yang cukup signifikan, yakni sebesar 0,12 persen, dengan andil deflasi 0,02 persen. Penurunan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti stabilnya harga bahan bakar atau penurunan tarif angkutan tertentu, yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Menariknya, tingkat Inflasi Sumsel November 2025 secara bulanan ini jauh lebih rendah dibandingkan November 2024, yang tercatat sebesar 0,58 persen. Perbandingan ini menunjukkan adanya upaya pengendalian inflasi yang lebih efektif atau kondisi pasar yang lebih stabil pada tahun ini.
Advertisement
Advertisement
Inflasi Tahunan dan Komoditas Pemicu
Secara tahunan (year on year/yoy), BPS mencatat Inflasi Sumsel sebesar 2,91 persen. Dorongan terbesar untuk inflasi tahunan ini bersumber dari sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang memiliki andil sebesar 1,29 persen dengan inflasi mencapai 16,78 persen. Angka ini mengindikasikan bahwa harga di sektor ini telah meningkat secara signifikan selama setahun terakhir.
Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan kontribusi substansial terhadap inflasi tahunan, dengan andil 1,26 persen dan perubahan harga sebesar 4,18 persen. Ini menunjukkan bahwa harga kebutuhan pokok tetap menjadi faktor penting dalam pergerakan inflasi jangka panjang di Sumatera Selatan.
Moh Wahyu Yulianto menambahkan, "Apabila dilihat komoditas-komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar di November yaitu, emas perhiasan, cabai merah, bahan bakar rumah tangga, dan telur ayam ras." Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa beberapa komoditas memiliki dampak berkelanjutan terhadap inflasi, baik bulanan maupun tahunan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews