Manufaktur Stainless Steel Lokal: Potensi Besar yang Lebih Menjanjikan Dibanding EV dan Baterai

Manufaktur stainless steel lokal dinilai memiliki potensi pertumbuhan yang jauh lebih besar dibandingkan industri kendaraan listrik (EV) dan baterai, menyerap nikel domestik lebih optimal.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Manufaktur Stainless Steel Lokal: Potensi Besar yang Lebih Menjanjikan Dibanding EV dan Baterai
Manufaktur stainless steel lokal dinilai memiliki potensi pertumbuhan besar karena melayani beragam sektor dan mampu menyerap nikel lebih banyak, mendorong ESI untuk merekomendasikan strategi hilirisasi nikel ganda. (AntaraNews)

Jakarta, 26 November 2023 – Sektor manufaktur lokal berskala kecil yang berfokus pada produksi stainless steel di Indonesia menunjukkan potensi pertumbuhan yang sangat besar. Hal ini disampaikan oleh Ahmad Zuhdi, Associate Principal Energy Shift Institute (ESI), yang menyoroti keunggulan sektor ini dibandingkan industri kendaraan listrik (EV) dan baterai.

Menurut Zuhdi, meskipun kurang mendapat sorotan dibandingkan industri EV dan baterai, manufaktur stainless steel memiliki kemampuan untuk melayani beragam sektor industri. Potensi ini menjadikan sektor tersebut layak mendapatkan dukungan kebijakan industri yang lebih kuat dari pemerintah.

Analisis dari ESI menunjukkan bahwa strategi hilirisasi nikel Indonesia perlu diperluas. Ketergantungan tunggal pada adopsi EV mungkin tidak cukup optimal, sehingga perlu menyasar sektor metalurgi yang lebih luas untuk penyerapan nikel domestik secara maksimal.

Keunggulan Manufaktur Stainless Steel Dibanding Industri EV dan Baterai

Ahmad Zuhdi dari ESI menegaskan bahwa manufaktur lokal yang berpusat pada stainless steel menawarkan prospek pertumbuhan yang lebih cerah. "Meski kurang glamor dibandingkan EV (electric vehicle) dan baterai, manufaktur lokal berskala kecil yang berpusat pada stainless steel memiliki potensi pertumbuhan yang lebih besar karena melayani beragam sektor, sehingga layak mendapatkan dukungan kebijakan industri," ujarnya.

Laporan terbaru ESI mengungkapkan fakta menarik terkait penyerapan nikel domestik. Produksi kendaraan listrik dan baterai di Indonesia diperkirakan hanya mampu menyerap kurang dari 1 persen total produksi nikel saat ini, bahkan dalam skenario paling optimistis dengan kapasitas manufaktur baterai setara 1 juta unit EV per tahun.

Sebaliknya, aplikasi metalurgi yang mencakup produksi stainless steel, barang konsumsi, hingga industri berat seperti konstruksi dan transportasi, memiliki kapasitas serapan yang jauh lebih tinggi. Sektor ini disebut dapat menyerap hingga 60 persen dari hasil tambang nikel Indonesia, menunjukkan peran vitalnya dalam hilirisasi nikel.

Selain itu, stainless steel juga unggul dalam aspek keberlanjutan lingkungan. Zuhdi menyoroti bahwa 95 persen stainless steel dapat didaur ulang, sebuah angka yang jauh melampaui tingkat daur ulang baterai nikel lithium-ion yang hanya mencapai 5 persen. Ini menjadikan manufaktur stainless steel sebagai pilihan yang lebih kredibel dalam upaya pelestarian lingkungan.

Strategi Hilirisasi Nikel Jalur Ganda untuk Optimasi Sumber Daya

Melihat kondisi tersebut, Indonesia dinilai perlu mengadopsi strategi hilirisasi nikel jalur ganda. Strategi ini tidak hanya berfokus pada industri EV, tetapi juga secara aktif menyasar manufaktur metalurgi, termasuk produksi stainless steel, untuk mengoptimalkan pemanfaatan kekayaan nikel nasional.

Kendala struktural juga membayangi kemampuan industri EV dalam menyerap nikel Indonesia secara signifikan. Data global menunjukkan bahwa 97 persen mobil dirakit di wilayah tempat mereka dijual, yang secara signifikan membatasi potensi ekspor EV dari Indonesia.

ESI secara aktif mendorong pemerintah Indonesia untuk menggarap hilirisasi nikel yang lebih luas, khususnya yang mengarah pada sektor metalurgi. Indonesia memiliki keunggulan dan kompetensi yang realistis, atau dalam istilah ekonomi disebut sebagai nearby industries, yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sektor ini.

Ian Hiscock, Principal ESI, menekankan bahwa "peluang sesungguhnya terletak pada reorientasi strategis menuju pendekatan jalur ganda yang mengembangkan jalur mineral untuk EV maupun non-EV." Pendekatan ini akan memastikan pemanfaatan nikel Indonesia secara lebih efektif dan berkelanjutan.

Dukungan Kebijakan dan Peningkatan Kredibilitas Hijau

Pihak ESI menganggap bahwa kebijakan industri seharusnya diarahkan untuk membantu mengembangkan ekosistem usaha kecil dan menengah (UKM) lokal yang kompetitif dalam memproduksi barang-barang stainless steel. Hal ini juga berarti menghindari lompatan berlebihan ke produk yang sangat bergantung pada desain dan kebijakan asing.

Kekayaan mineral unik yang dimiliki Indonesia telah memberikan posisi berbeda dari para pesaing. Pemerintah dapat mempertajam keunggulan ini dengan menawarkan produk stainless steel yang memiliki ketertelusuran (traceability) dan kredibilitas hijau yang lebih baik di pasar global.

Ahmad Zuhdi menambahkan bahwa Indonesia dapat menciptakan peluang keberlanjutan dengan mengembangkan merek-merek lokal. Merek ini dapat menyasar konsumen, baik domestik maupun global, yang bersedia membayar lebih untuk produk yang diproduksi secara bertanggung jawab, mirip dengan daya tarik makanan organik atau ekowisata.

Dukungan pemerintah melalui insentif dapat memberikan dampak yang lebih tinggi dengan mempromosikan jalur hijau dan berkelanjutan yang dipimpin oleh konsumen di pasar domestik dan internasional. "Dunia mungkin akan terus beralih meninggalkan baterai berbasis nikel, namun penggunaan metalurgi tetap menjadi pasar pasti (captive market) bagi nikel," pungkas Ian Hiscock.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi