Mendag RI Ungkap 3 Kunci Percepatan Industrialisasi Berkelanjutan G20 di Afrika Selatan, Apa Saja?

Menteri Perdagangan RI Budi Santoso mendesak negara berkembang untuk mempercepat Industrialisasi Berkelanjutan G20 melalui tiga fokus krusial, membuka jalan menuju ekonomi bernilai tambah tinggi dan rendah karbon.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mendag RI Ungkap 3 Kunci Percepatan Industrialisasi Berkelanjutan G20 di Afrika Selatan, Apa Saja?
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso mendesak negara berkembang untuk mempercepat Industrialisasi Berkelanjutan G20 melalui tiga fokus krusial, membuka jalan menuju ekonomi bernilai tambah tinggi dan rendah karbon. (AntaraNews)

Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Budi Santoso, baru-baru ini menyerukan percepatan industrialisasi berkelanjutan bagi negara-negara berkembang. Seruan ini disampaikan dalam sesi kedua G20 Trade and Investment Ministerial Meeting (TIMM) yang berlangsung di Gqberha, Afrika Selatan. Pertemuan penting tersebut diselenggarakan pada Jumat (10/10) lalu, dengan fokus pada strategi ekonomi global.

Dalam forum internasional tersebut, Mendag Budi Santoso menggarisbawahi tiga prioritas utama yang harus ditempuh. Langkah ini bertujuan untuk mendorong transformasi ekonomi menuju sektor industri yang bernilai tambah tinggi dan berbasis pengetahuan. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat posisi negara berkembang di kancah perdagangan global.

Dorongan ini muncul di tengah dinamika geopolitik dan ketegangan perdagangan global yang semakin meningkat. Oleh karena itu, percepatan industrialisasi berkelanjutan menjadi krusial untuk membangun ketahanan ekonomi. Indonesia melalui Mendag Budi Santoso berkomitmen untuk memimpin upaya ini demi kemajuan bersama.

Tiga Prioritas Utama untuk Industrialisasi Berkelanjutan

Menteri Perdagangan Budi Santoso menguraikan tiga fokus prioritas yang esensial untuk mencapai industrialisasi berkelanjutan. Prioritas pertama adalah membangun dan memanfaatkan kapasitas produktif. Hal ini bertujuan untuk mendorong transformasi menuju industri bernilai tambah tinggi dan berbasis pengetahuan.

Prioritas kedua menekankan pentingnya naik kelas dalam rantai nilai global. Upaya ini dapat dicapai dengan memperluas basis manufaktur di sektor-sektor strategis. Contoh sektor tersebut termasuk semikonduktor, baterai kendaraan listrik, dan farmasi yang memiliki potensi besar.

"Ketiga, mengembangkan industri hijau untuk mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon yang inklusif dan berkeadilan," ujar Budi melalui keterangan di Jakarta, Sabtu. Pengembangan industri hijau ini menjadi pilar penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Langkah ini juga memastikan pertumbuhan ekonomi yang bertanggung jawab secara lingkungan.

Memperkuat Sistem Perdagangan Multilateral Global

Selain fokus pada industrialisasi, Mendag Budi juga menegaskan pentingnya memperkuat komitmen terhadap sistem perdagangan multilateral. Sistem ini harus bersifat adil, inklusif, dan berkelanjutan di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik. Ketegangan perdagangan global saat ini menuntut pendekatan yang lebih kohesif.

Penguatan sistem ini menjadi krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi dunia. Tanpa sistem perdagangan yang kuat, negara-negara berkembang berisiko lebih besar menghadapi dampak negatif. Oleh karena itu, kolaborasi internasional sangat dibutuhkan untuk mengatasi tantangan ini.

Budi Santoso juga menyoroti perlunya memperkuat fondasi domestik setiap negara. Kebijakan strategis dari dalam negeri harus mampu menjawab tantangan global yang terus berubah. Kesiapan internal menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Fondasi Ekonomi Domestik dan Integrasi Regional

Menteri Perdagangan menekankan bahwa kekuatan ekonomi harus dibangun dari dalam negeri. Hal ini dapat dicapai melalui kebijakan yang sehat, konektivitas regional yang kuat, dan kolaborasi produktif lintas negara. Pendekatan ini memastikan pertumbuhan yang kokoh dan berkelanjutan.

Integrasi perdagangan regional dianggap sebagai instrumen strategis yang vital. Ini berfungsi untuk memperkuat rantai pasok kawasan dan memperluas akses pasar bagi produk-produk lokal. Kawasan ASEAN, misalnya, telah berperan sebagai jangkar stabilitas dan basis produksi utama di berbagai sektor.

"Kewaspadaan dan kebijakan yang tepat akan menjadi kunci ketahanan ekonomi nasional dan global. Di tengah turbulensi ekonomi dan tekanan global, harapan bukanlah strategi, kesiapan adalah jawabannya," imbuhnya. Pernyataan ini menegaskan pentingnya proaktivitas dan kesiapan dalam menghadapi dinamika ekonomi global.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi