Apa Itu Etanol dan Fungsinya di BBM yang Bikin Vivo dan BP-AKR Batal Beli BBM ke Pertamina?

Pembatalan pembelian BBM Pertamina oleh Vivo dan BP-AKR disebabkan kandungan etanol 3,5% yang dinilai tidak sesuai spesifikasi.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
Apa Itu Etanol dan Fungsinya di BBM yang Bikin Vivo dan BP-AKR Batal Beli BBM ke Pertamina?
Pertamina Patra Niaga memprediksi akan terjadi kenaikan permintaan BBM selama ajang internasional Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 di Mandalika. Dok PPN (© 2025 Liputan6.com)

Keputusan mengejutkan datang dari dua perusahaan operator Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) swasta, Vivo dan BP-AKR. Keduanya membatalkan rencana pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis base fuel yang diimpor oleh PT Pertamina Patra Niaga. Pembatalan ini terjadi setelah uji laboratorium menunjukkan adanya kandungan etanol sebesar 3,5% dalam BBM tersebut, yang dinilai tidak sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan oleh kedua perusahaan.

Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Achmad Muchtasyar, mengonfirmasi bahwa Vivo sebelumnya telah menyetujui untuk membeli 40 ribu barel dari total 100 ribu barel BBM yang diimpor. Namun, kesepakatan itu akhirnya batal karena masalah kandungan etanol. Menurut Achmad, regulasi pemerintah memperbolehkan kandungan etanol dalam BBM hingga 20%, sehingga kandungan 3,5% pada BBM Pertamina masih dalam batas yang diizinkan.

Sementara itu, Presiden Direktur BP-AKR, Vanda Laura, menambahkan bahwa alasan pembatalan ini lebih kepada kepatuhan spesifikasi. Pihaknya belum dapat menerima BBM dari Pertamina karena formulasi BBM mereka saat ini tidak mengandung etanol.

Apa Itu Etanol?

Ethanol adalah senyawa kimia yang juga dikenal sebagai etil alkohol dengan rumus kimia C2H5OH. Senyawa ini merupakan salah satu jenis alkohol yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Bioetanol, bentuk energi terbarukan, dapat diproduksi dari fermentasi gula dari bahan tanaman seperti jagung, tebu, dan kentang.

Fungsi Etanol dalam BBM

Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto Zaenuri, menjelaskan ada beberapa fungsi etanol di dalam BBM. Salah satunya adalah meningkatkan angka oktan.

Etanol memiliki angka oktan yang sangat tinggi, yaitu sekitar 110–120. Dengan mencampurkan etanol ke dalam bensin beroktan rendah, nilai oktannya bisa naik signifikan.

"Misalnya, bensin RON 88 jika dicampur sekitar 3,5% etanol, angka oktannya dapat meningkat hingga RON 92–95," jelas dia kepada Liputan6.com, Kamis (2/10).

Selain mendongkrak oktan, etanol juga mengandung oksigen. Kehadiran oksigen ini membuat proses pembakaran di ruang mesin menjadi lebih sempurna. Dampaknya, mesin bisa menghasilkan tenaga lebih baik dan emisi berkurang.

Namun, karena pembakarannya lebih panas, mesin perlu diatur agar tetap stabil.

Dari sisi perawatan, etanol juga membantu menjaga kebersihan mesin. Campuran etanol dalam BBM bisa mengurangi kebutuhan aditif pembersih (deposit control additive), bahkan efek kebersihannya bisa lebih besar.

Tetapi, penggunaan etanol juga membuat biaya tambahan aditif meningkat, yang pada akhirnya bisa memengaruhi margin harga BBM.

Keunggulan Penggunaan Etanol

Keunggulan lain etanol adalah sifatnya yang lebih ramah lingkungan. Karena berasal dari biomassa atau tumbuhan, etanol disebut sebagai bahan bakar karbon netral.

Artinya, karbon dioksida (CO₂) yang dilepas saat pembakaran sebanding dengan CO₂ yang diserap tanaman saat tumbuh. Dengan campuran 3,5% saja, emisi CO₂ dari BBM bisa ikut berkurang.

Terkait kompatibilitas, hampir semua kendaraan modern di Indonesia dapat menggunakan BBM dengan campuran etanol hingga 20%. Sebagai perbandingan, di Brasil, lebih dari 80% kendaraan bahkan bisa menggunakan bahan bakar dengan campuran etanol mencapai 85% (E85).

Namun, etanol juga memiliki kelemahan, yaitu mudah menyerap air dari udara. Jika BBM yang mengandung etanol terlalu lama disimpan di tangki, air bisa terakumulasi dan mengendap di dasar tangki. Kondisi ini dapat menimbulkan masalah, terutama bagi kendaraan lama yang tidak dirancang untuk BBM ber-etanol.

Di Indonesia, seluruh BBM yang dipasarkan harus sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan Kementerian ESDM (Migas). Selama spesifikasi tersebut terpenuhi, BBM dengan campuran etanol bisa dipasarkan, baik melalui impor maupun produksi dalam negeri. Pertamina pun menggunakan standar ini sebagai acuan.

Rekomendasi