Bandar Udara (Bandara) Gewayantana Larantuka di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), terpaksa ditutup sementara. Penutupan ini dilakukan menyusul dampak sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Ili Lewotolok. Kondisi ini secara langsung mengganggu operasional penerbangan di wilayah tersebut.
Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas III Gewayantana, Puguh Lukito, mengonfirmasi penutupan tersebut pada Kamis (26/9). Ia menjelaskan bahwa erupsi Gunung Lewotolok telah memengaruhi ruang udara Bandara Gewayantana Larantuka. Keputusan ini diambil demi keselamatan penerbangan.
Akibat penutupan ini, jalur penerbangan rute Kupang-Larantuka mengalami gangguan signifikan. Meskipun hasil 'paper test volcanic ash' di landasan pacu menunjukkan negatif, sebaran abu vulkanik tetap menjadi perhatian serius. Otoritas bandara terus memantau perkembangan situasi terkini.
Advertisement
Advertisement
Dampak Abu Vulkanik Terhadap Operasional Bandara Gewayantana
Penutupan Bandara Gewayantana Larantuka merupakan langkah preventif yang diambil oleh otoritas penerbangan. Sebaran abu vulkanik (VA) dari Gunung Ili Lewotolok menjadi alasan utama di balik keputusan ini. Data ASHTAM Lewotolo menunjukkan adanya gangguan pada jalur penerbangan.
Meskipun demikian, pemeriksaan di landasan pacu Bandara Gewayantana menunjukkan hasil yang menarik. "Hasil 'paper test volcanic ash' di landasan pacu mengindikasikan negatif 'volcanic ash'," kata Puguh Lukito. Ini berarti abu vulkanik tidak terdeteksi langsung di permukaan landasan pacu.
Namun, ancaman sebaran abu di ruang udara tetap menjadi faktor penentu. Partikel abu vulkanik yang tidak terlihat dapat membahayakan mesin pesawat dan sistem navigasi. Oleh karena itu, penutupan Bandara Gewayantana dianggap sebagai tindakan yang tepat untuk menjaga keselamatan.
Advertisement
Advertisement
Aktivitas Erupsi Gunung Ili Lewotolok dan Peringatan Dini
Aktivitas Gunung Ili Lewotolok menunjukkan peningkatan signifikan dalam periode pengamatan terakhir. Melansir dari MAGMA Indonesia, pada 25 September 2024 pukul 18.00-24.00 WITA, tercatat 52 kali gempa letusan atau erupsi. Amplitudo gempa bervariasi antara 4.6-30.1 mm dengan durasi 35-75 detik.
Selain gempa letusan, Gunung Ili Lewotolok juga mengalami 51 kali gempa hembusan dengan amplitudo 1.9-5.5 mm. Gempa ini berlangsung selama 26-53 detik. Tercatat pula satu kali gempa harmonik dan satu kali gempa tremor non-harmonik, menunjukkan dinamika vulkanik yang kompleks.
Mengingat intensitas aktivitas tersebut, tingkat kewaspadaan Gunungapi Ili Lewotolok ditetapkan pada Level III (Siaga). Masyarakat di sekitar gunung serta pengunjung diimbau untuk tidak memasuki dan tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas. Pembatasan ini sangat penting untuk menghindari risiko bahaya.
Advertisement
Warga juga perlu mewaspadai potensi ancaman bahaya lain seperti guguran atau longsoran lava dan awan panas. Ancaman ini terutama berlaku untuk sektor Selatan, Tenggara, Barat, dan Timur Laut Gunung Ili Lewotolok. Kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mitigasi bencana.
Advertisement
Imbauan Keselamatan dan Mitigasi Dampak Erupsi
Dalam menghadapi kondisi erupsi Gunung Ili Lewotolok, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak panik. Suara gemuruh atau dentuman yang mungkin terdengar dari kawah gunung merupakan ciri khas aktivitas erupsi. Ini adalah bagian dari proses alami gunung api yang sedang aktif.
Suara dentuman yang keras dari erupsi dapat mengakibatkan getaran kuat pada beberapa bagian bangunan. Jendela kaca dan pintu seringkali menjadi bagian yang paling merasakan dampak getaran ini. Oleh karena itu, penting untuk memastikan keamanan struktur rumah.
Pemerintah dan otoritas terkait terus memberikan informasi terbaru mengenai perkembangan Gunung Ili Lewotolok. Masyarakat diharapkan selalu mengikuti arahan dari pihak berwenang. Kepatuhan terhadap imbauan keselamatan sangat krusial demi melindungi diri dari potensi bahaya.
Advertisement
Sumber: AntaraNews