Tahukah Anda, Unpatti Ambon Libatkan Mahasiswa dalam Inovasi Pertanian? Kunci Pengembangan Pertanian Unpatti di Maluku.

Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon menginisiasi **Pengembangan Pertanian Unpatti** berbasis riset dan kewirausahaan sosial. Bagaimana kolaborasi ini bisa jadi solusi ketahanan pangan di Maluku?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda, Unpatti Ambon Libatkan Mahasiswa dalam Inovasi Pertanian? Kunci Pengembangan Pertanian Unpatti di Maluku.
Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon menginisiasi **Pengembangan Pertanian Unpatti** berbasis riset dan kewirausahaan sosial. Bagaimana kolaborasi ini bisa jadi solusi ketahanan pangan di Maluku? (Merdeka.com)

Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon secara aktif mendorong pengembangan sektor pertanian di wilayah kepulauan Maluku. Inisiatif ini berfokus pada pendekatan berbasis riset serta melibatkan peran aktif mahasiswa dalam dunia usaha. Langkah strategis ini diharapkan dapat menciptakan model pembangunan pertanian yang inklusif dan berkelanjutan di tengah tantangan geografis Maluku.

Rektor Unpatti, Fredy Leiwakabessy, pada Jumat (5/9) di Ambon, menegaskan pentingnya 'social partnership' yang dapat diterapkan di Maluku. Kolaborasi dengan perusahaan pertanian menjadi salah satu kunci untuk memperkenalkan konsep ini. Tujuannya adalah mengubah tantangan konektivitas antarwilayah menjadi peluang inovasi bagi akademisi dan mahasiswa.

Pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan dengan pendekatan kewirausahaan sosial menjadi visi utama. Melalui sinergi antara akademisi dan dunia usaha, Unpatti berupaya menjawab tantangan pembangunan daerah. Ini sekaligus membuka jalan bagi mahasiswa untuk melihat potensi pertanian sebagai sarana menuju ketahanan pangan dan peluang menjadi seorang entrepreneur.

Sinergi Akademisi dan Dunia Usaha: Kunci Inovasi Pertanian di Maluku

Maluku, dengan ribuan pulaunya, memerlukan model pembangunan yang mampu mengakomodasi kekhasan geografisnya. Rektor Unpatti, Fredy Leiwakabessy, menekankan bahwa tantangan konektivitas antarwilayah harus dipandang sebagai peluang besar bagi mahasiswa dan akademisi untuk berinovasi. Sumber daya lokal dapat dikelola secara berkelanjutan melalui pendekatan kewirausahaan sosial, yang mengintegrasikan aspek ekonomi dan sosial.

Salah satu langkah konkret Unpatti adalah menjalin kerja sama dengan PT Sinar Hijau Ventures. Kolaborasi ini berfokus pada pengembangan bibit unggul kenari dan komoditas ekspor lainnya yang memiliki sertifikasi internasional. Diharapkan, upaya ini dapat secara signifikan meningkatkan perekonomian daerah Maluku, memberikan nilai tambah pada produk pertanian lokal.

Kerja sama ini juga bertujuan untuk menginspirasi mahasiswa dan dosen agar lebih jeli melihat potensi besar di sektor pertanian. Menurut Leiwakabessy, pertanian bukan hanya jalan menuju ketahanan pangan, tetapi juga peluang besar untuk menjadi seorang entrepreneur. Ini membuka perspektif baru tentang karir dan kontribusi di bidang pertanian.

Kolaborasi antara Unpatti dan dunia usaha ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan program pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat. Seluruh program ini dirancang berbasis potensi lokal Maluku, khususnya di bidang pertanian dan kehutanan berkelanjutan. Hal ini memastikan bahwa inovasi yang dihasilkan relevan dan berdampak langsung pada masyarakat.

Mahasiswa sebagai Sociopreneur: Mengelola Potensi Lokal Maluku

Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Pertanian Unpatti, Edizon Jambormias, menyatakan bahwa kerja sama ini sangat penting untuk membuka wawasan mahasiswa. Mereka akan memahami urgensi model kewirausahaan sosial dalam pengelolaan pertanian di pulau-pulau kecil. Ini adalah pendekatan yang menempatkan masyarakat lokal sebagai pusat pengembangan.

Model kewirausahaan sosial dalam pengelolaan pertanian di pulau-pulau kecil menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama. Mereka tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga secara aktif berkontribusi pada pelestarian lingkungan dan kemandirian pangan. Pendekatan ini memastikan bahwa pembangunan bersifat partisipatif dan berkelanjutan.

Melalui pendekatan ini, potensi lokal Maluku seperti kenari, pala, dan sagu diolah secara berkelanjutan. Proses ini didukung penuh oleh riset akademik, inovasi teknologi, serta akses pasar dari dunia usaha. Ini menciptakan ekosistem yang memungkinkan produk lokal memiliki daya saing tinggi di pasar nasional maupun internasional.

Hasil dari usaha ini tidak semata-mata ditujukan untuk keuntungan finansial. Lebih dari itu, keuntungan juga digunakan untuk pemberdayaan sosial, seperti peningkatan kapasitas petani, pembiayaan pendidikan anak-anak, hingga menjaga ekosistem pulau kecil yang rentan. Jambormias berharap mahasiswa tidak hanya berbekal pengetahuan akademis, tetapi juga termotivasi menjadi sociopreneur yang mampu menciptakan peluang usaha berbasis potensi lokal, berkontribusi pada kemandirian pangan, pemberdayaan masyarakat, serta keberlanjutan pulau-pulau kecil di Maluku.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi