PT PLN Indonesia Power (PLN IP) Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Bali PLTG Gilimanuk meluncurkan sebuah program inovatif bernama Mesatua Bali. Inisiatif ini berfokus pada pengelolaan limbah sampah, sekaligus mendukung transisi energi berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat di wilayah pesisir Bali.
Program ini hadir sebagai solusi komprehensif terhadap berbagai tantangan lingkungan dan ekonomi.
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, menjelaskan bahwa Mesatua Bali tidak hanya bertujuan mengatasi masalah lingkungan.
Program unggulan ini juga membuka jalan bagi transformasi sosial dan ekonomi yang signifikan di Gilimanuk, Jembrana. Ini merupakan langkah nyata PLN IP dalam mewujudkan keberlanjutan.
Berangkat dari tingginya volume limbah pelabuhan dan rumah tangga, abrasi pantai, serta penggundulan hutan, Mesatua Bali hadir sebagai solusi berbasis komunitas. Program ini juga menjawab keterbatasan akses ekonomi masyarakat rentan, mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai.
Advertisement
Advertisement
Inovasi Pengelolaan Limbah Berbasis Ekonomi Sirkular
Program Mesatua Bali mengadopsi pendekatan ekonomi sirkular untuk mengolah berbagai jenis limbah. Limbah organik, seperti sampah rumah tangga dan industri rumahan, diubah menjadi pupuk organik cair multiguna. Inovasi ini memberikan nilai tambah pada limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Sementara itu, limbah anorganik, khususnya limbah diapers, dimanfaatkan secara kreatif. Diapers bekas diolah menjadi media tanam yang efektif untuk pembibitan buah dan sayur. Pemanfaatan ini merupakan terobosan baru yang belum pernah diterapkan sebelumnya di Kabupaten Jembrana.
Menariknya, kedua jenis limbah ini diolah dengan memanfaatkan sisa produksi perusahaan. Air reject demineralisasi dari operasional PLN IP digunakan dalam proses pengolahan. Ini menunjukkan komitmen PLN IP dalam mengoptimalkan setiap sumber daya yang tersedia.
Advertisement
Inovasi pemanfaatan limbah air demineralisasi dan limbah diapers sebagai media tanam ini menjadi terobosan signifikan. Kehadiran inovasi ini tidak hanya membawa kebaruan dalam pengelolaan limbah. Namun, juga membuka peluang pemanfaatan sumber daya alternatif yang ramah lingkungan dan bernilai guna bagi masyarakat.
Advertisement
Dampak Sosial dan Ekonomi Program Mesatua Bali
Program Mesatua Bali telah memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat sekitar. Sebanyak 13 anggota kelompok Suketeki telah terlibat aktif dalam program ini, memperluas manfaat ke 65 petani dari 5 gabungan kelompok tani (gapoktan). Ini menunjukkan inklusivitas program dalam menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Selain itu, Mesatua Bali juga berhasil menciptakan lapangan kerja baru. Sebanyak 34 pemuda lokal telah mendapatkan pekerjaan melalui program ini, berkontribusi pada peningkatan ekonomi keluarga. Penciptaan lapangan kerja ini adalah salah satu pilar utama pemberdayaan masyarakat.
Capaian program ini sangat beragam, termasuk penjualan pupuk organik cair yang mencapai 150-200 liter per bulan. Upaya mitigasi abrasi juga dilakukan dengan penanaman 100 pohon cemara pantai. Program ini juga berkontribusi pada penghijauan lahan tandus di wilayah Taman Nasional Bali Barat.
Advertisement
Pengurangan limbah diapers dan metana dari limbah organik menjadi bukti nyata keberhasilan program dalam menjaga lingkungan. Peningkatan pendapatan kelompok melalui penjualan pupuk organik cair dan bibit tanaman juga menjadi indikator keberhasilan ekonomi.
Advertisement
Dukungan Kebijakan dan Replikasi Program
Pemerintah Kelurahan Gilimanuk, Jembrana, Bali, memberikan dukungan penuh terhadap program ini. Dukungan tersebut diwujudkan melalui penerbitan Pararem Desa Adat Nomor 1 Tahun 2025. Kebijakan ini menjadi landasan hukum bagi pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Program Mesatua Bali juga menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat luas. Modul edukasi "Zero Waste Komunitas" telah dikembangkan, dan banyak sekolah serta akademisi melakukan kunjungan untuk mempelajari inovasi ini. Hal ini menjadikan Gilimanuk sebagai percontohan pengelolaan limbah.
Kolaborasi dengan TPA Ash-Shiddiqiyyah di Negara, Jembrana, Bali, juga dilakukan melalui program Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak). Kegiatan ini memperluas dampak program ke ranah pendidikan dan ketahanan pangan keluarga. Edukasi penanaman buah dan sayur dengan media tanam diapers serta sosialisasi gizi seimbang menjadi bagian dari kolaborasi ini.
Advertisement
Bernadus Sudarmanta menegaskan bahwa Mesatua Bali membuktikan inovasi sosial dapat menjadi jembatan antara energi dan kehidupan. Keberlanjutan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang bagaimana membangun masa depan bersama. Program ini bahkan telah direplikasi ke wilayah Jembrana dan Banyuwangi.
Sumber: AntaraNews