China kembali merespons kebijakan tarif balasan yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan meningkatkan tarif impor barang-barang asal AS dari 84 persen menjadi 125 persen. Pernyataan ini disampaikan oleh Komisi Tarif Bea Cukai Dewan Negara pada hari Jumat.
"Bahkan jika AS terus mengenakan tarif yang lebih tinggi, itu tidak akan lagi masuk akal secara ekonomi dan akan menjadi lelucon dalam sejarah ekonomi dunia," tulis Komisi Tarif Bea Cukai China, sebagaimana dikutip dari CNBC.
"Jika AS terus mengenakan tarif atas barang-barang China yang diekspor ke AS, China akan mengabaikannya," tambahnya.
Dalam konteks ini, perlu dicatat bahwa Donald Trump telah menerapkan tarif tinggi terhadap barang-barang impor dari China yang mulai berlaku pada Kamis, 10 April 2025. Gedung Putih juga menjelaskan bahwa tarif kumulatif yang dikenakan kepada China sebenarnya akan mencapai 145 persen.
Sebelumnya, Gedung Putih mengumumkan penundaan penerapan tarif balasan selama 90 hari. Namun, Donald Trump justru memutuskan untuk menggandakan tarif baru impor China menjadi 125 persen. Selain itu, terdapat tambahan tarif sebesar 20 persen yang diberlakukan sejak awal tahun terkait dugaan peran China dalam rantai pasokan Fentanyl, seperti yang dilaporkan oleh Channel News Asia pada Jumat (11/4).
Kebijakan ini membuat total tarif yang dikenakan Trump terhadap barang-barang China pada tahun 2025 mencapai 145 persen, yang terdiri dari tarif baru 125 persen dan tarif 20 persen yang dikenakan sebagai respons terhadap krisis fentanyl. Namun, tarif 125 persen yang terbaru ditujukan untuk mengatasi praktik yang dianggap tidak adil, tetapi terdapat pengecualian penting.
Produk impor seperti baja, aluminium, dan mobil dikenakan tarif terpisah sebesar 25 persen yang tidak termasuk dalam rezim tarif sebelumnya. Selain itu, barang-barang seperti tembaga, obat-obatan, semikonduktor, kayu, dan produk energi juga tidak termasuk dalam kategori ini, meskipun Trump memiliki rencana untuk menargetkan beberapa barang tersebut secara terpisah.
Hal ini menunjukkan kompleksitas lebih lanjut mengenai tingkat tarif, terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan China.
Advertisement
Wall Street Alami Penurunan
Di sisi lain, pasar saham di Amerika Serikat, yang dikenal dengan sebutan Wall Street, mengalami penurunan tajam setelah sebelumnya mengalami penguatan akibat keputusan Donald Trump untuk menunda penerapan tarif timbal balik selama 90 hari. Kekhawatiran investor muncul karena penundaan yang relatif singkat ini dapat menyebabkan perlambatan aktivitas ekonomi, terutama dengan adanya tarif yang lebih tinggi dari China.
Menurut laporan CNBC, indeks S&P 500 mengalami penurunan sebesar 3,9 persen, indeks Nasdaq turun 5 persen, dan indeks Dow Jones berkurang 3,1 persen. Saham Nvidia mengalami penurunan lebih dari 7 persen, sementara saham Meta juga mengalami penurunan yang sama sebesar 7 persen. Di sisi lain, saham Apple dan Tesla masing-masing mencatatkan penurunan lebih dari 6 persen dan 10 persen.
Menanggapi situasi terkait tarif yang telah diklarifikasi, Liu Pengyu, juru bicara kedutaan besar China di Amerika Serikat, menyampaikan bahwa China tidak ingin terlibat dalam konflik tetapi tidak takut untuk menghadapinya.
"Jika AS benar-benar ingin berdialog, mereka harus menunjukkan kepada orang-orang bahwa mereka siap memperlakukan orang lain dengan kesetaraan, rasa hormat, dan saling menguntungkan," katanya seperti yang dilaporkan oleh South China Morning Post.
Pernyataan ini menunjukkan sikap China yang mengharapkan pendekatan yang lebih konstruktif dalam hubungan bilateral dengan AS.