Asal-Usul Lahirnya LRT, Sempat Digagas Adhi Karya dan Tumpukan Utang Rp22 Triliun

Kepala Divisi LRT Jabodebek PT KAI (Persero), Mochamad Purnomosidi menceritakan, proyek LRT Jabodebek mulanya digagas oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk pada 2015. Namun, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman kemudian meminta KAI untuk mengambil alih setahun setelahnya.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Asal-Usul Lahirnya LRT, Sempat Digagas Adhi Karya dan Tumpukan Utang Rp22 Triliun
Fashion show di LRT. ©2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

LRT Jabodebek akan segera beroperasi komersial mulai pertengahan Agustus 2023, setelah melalui proses panjang sejak diinisiasi pada 2015 silam. PT KAI (Persero) sampai harus berutang hingga Rp22,1 triliun agar pengoperasiannya bisa terwujud.

Kepala Divisi LRT Jabodebek PT KAI (Persero), Mochamad Purnomosidi menceritakan, proyek LRT Jabodebek mulanya digagas oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk pada 2015. Namun, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman kemudian meminta KAI untuk mengambil alih setahun setelahnya.

"Dulu proyek ini pertama kali digagas oleh Adhi Karya, jadi KAI enggak tahu sama sekali di tahun 2015. Dengan berjalannya waktu, ternyata kembali ke nasihatnya orang tua, semua itu harus dikembalikan ke ahlinya," ujar dia di Bandung, Jawa Barat, Kamis (8/6).

Namun, seiring fokus pemerintah yang kala itu bergeser, KAI dapat tugas baru untuk mulai melakukan pembayaran secara mandiri. Purnomosidi mengatakan, skema pembiayaannya semi kerjasama pemerintah dengan badan usaha (KPBU).

"Dari situ kita terima penugasan, di 2017 dengan Pepres 49/2017, tugas KAI ditambah satu lagi, kamu harus bayar proyek ini. Sehingga kita melakukan utang ke lenders untuk membiayai proyek ini. Sehingga sampai hari ini semua pembayaran dalam proyek ini dilakukan oleh KAI," tuturnya.

Utang Menumpuk

Adapun total investasi pembangunan LRT Jabodebek yang dibiayai oleh KAI mencapai Rp32,5 triliun. Sebagian besar digunakan untuk pembangunan prasarana dan kelengkapannya dengan nilai hampir mencapai Rp28 triliun.

Menurut informasi yang diberikan KAI kepada Liputan6.com, sekitar 68 persen dari Rp32,5 triliun didapat dari pinjaman, atau Rp22,1 triliun.

Itu didapatkan dari pinjaman 15 bank sindikasi. Terdiri dari Bank Mandiri, BNI, BRI, BCA, SMI, CIMB Niaga, Bank DKI, Bank BJB, Bank Sumselbabel, Bank Papua, Bank Sumut, Permata Bank, KEB Hana, Shinhan, dan Bank Mega.

Sampai dengan April 2023, realisasi pembayarannya sudah Rp22,79 triliun. Mayoritas diberikan untuk Adhi Karya sebesar Rp17,1 triliun. Kemudian Rp2,89 triliun diberikan kepada PT INKA, dan lainnya sebesar Rp2,8 triliun.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com

Rekomendasi