Krisis moneter tahun 1998 menjadi titik balik Awin, warga asal Cicantayan, Sukabumi Jawa Barat. Sejak tahun 1990 dia merantau ke Jakarta menjadi pegawai di sebuah pabrik garmen.
Namun, krisis moneter membuat dia harus menelan pil pahit karena pabrik tempatnya bekerja bangkrut. Awin pun terpaksa pulang kampung lantaran tak punya pekerjaan.
Berbekal uang pesangon Rp10 juta kala itu, dia memutar otak. Uang terakhir yang didapat tak boleh habis hanya untuk bertahan hidup di kampung.
Awin pun tak habis akal, dia menjajal peruntungan menjadi pengrajin bola sepak. Kebetulan, di kampung halamannya memang sudah ada beberapa pengrajin bola, bahkan hasil produksi dari Desa sudah terjual keluar negeri.
Tanpa berpikir panjang, Awin gunakan uang pesangon untuk terjun menjadi pengrajin bola. Mengingat sejak kecil sudah tahu persis cara membuat produk tersebut. Apalagi banyak teman hingga saudara yang juga menekuni pekerjaan yang sama. Sehingga tidak sulit bagi dirinya untuk bertanya.
"Sejak remaja saya sudah terbiasa melihat dan mengetahui usaha kerajinan ini. Saya sudah sering membantu dan menjadi buruh harian di pabrik bola milik keluarga saya,” kata Awin dikutip dari buku: Rahasia Sukses Pengusaha Tahan Banting yang diterbitkan PNM pada tahun 2019, Jakarta, Jumat (2/6).
Advertisement
Kekurangan Modal
Modal Rp 10 juta yang dipunya ternyata hanya cukup untuk pengadaan mesin produksi dan bahan baku. Sedangkan untuk desain, sablon, dan pemotongan bahan dilakukan dengan pola makloon.
Selama menjalani bisnis, Awin menilai bagian terpenting tentang pemasaran produk. Sebab, semua pengrajin bola di kampungnya sudah memiliki pelanggan tetap, sedangkan Awin harus mencari pasar baru di luar konsumen yang sudah ada.
Saat itu, Awin memutuskan untuk memasarkan bola buatannya ke daerah yang belum banyak dilayani oleh pengrajin lain yaitu daerah Cibinong, Citeureup, dan Cileungsi (Bogor). Dia menawarkan produknya secara door to door dengan mendatangi setiap toko peralatan olahraga di daerah tersebut.
Sayangnya,hampir semua toko yang dia datangi menolak. Namun di tengah perjalanan saat mencari pelanggan, Awin bertemu dengan seorang sales peralatan olahraga di Jakarta.
Advertisement
Awal Mula Kembangnya Bisnis
Dari situlah awal terjadi transaksi pembelian yang kemudian berlanjut menjadi pelanggan. Pembeli pertama itu mereferensikan produknya kepada pemilik toko atau grosir yang lain sehingga pelanggannya makin bertambah.
Ada dua jenis produk unggulan yang diproduksi Awin yaitu bola futsal dan bola sepak. Ukuran bola futsal lebih kecil dan cenderung lebih berat karena ada lapisan dakron atau busa.Sedangkan bola sepak lebih besar.
Harga jual untuk kedua jenis produk itu berkisar antara Rp50 ribu - Rp60 ribu per buah. Untuk memproduksi sekitar 100 bola dibutuhkan biaya sekitar Rp2 juta, atau Rp 20 ribu per buah. Sedangkan harga jual ke grosir sekitar Rp30 ribu per buah.
Dengan tingkat produksi 6 ribu hingga 7 ribu per bulan, Awin mampu meraup omset hingga Rp350 juta per bulan, dengan keuntungan sekitar 20 persen. Pada saat ramai, terutama ketika banyak turnamen, permintaan semakin banyak sehingga produksi ditambah hingga mencapai 8 ribu per bulan.
Advertisement
Masa-Masa Kejatuhan Bisnis Si Bundar
Awin berupaya untuk terus mengembangkan pemasarannya dengan mempertahankan kualitas. Dengan kualitas yang baik, pelanggan tidak akan kecewa, dan mereka akan mereferensikan produk tersebut kepada buyer lain. Dalam menjaga kualitas, Awin selalu memastikan kualitas bahan baku dan kerapian dalam pengerjaannya.
Awin pernah mengalami hal menyedihkan terutama saat baru merintis usaha. Dia harus berangkat pagi dan pulang larut malam untuk mencari pembeli. Dia juga pernah mengalami masalah ketika ada karyawannya yang tidak jujur dengan menggelapkan produk untuk dijual sendiri.
Puncak kesedihan di saat dia kehilangan istrinya beberapa tahun lalu, sehingga usahanya sempat terbengkalai. Namun dia kembali bangkit untuk melanjutkan usahanya. Menyinggung tentang kiatnya dalam berusaha, menurut Awin, harus hati-hati dalam penggunaan modal.
"Gunakan modal betul-betul untuk usaha, jauhkan pola hidup konsumtif dan harus pandai mengatur keuangan," katanya.
Dari keuntungan yang diperoleh, Awin kini sudah mampu membeli rumah dan tempat usaha yang semula masih ngontrak. Dia juga sudah membeli kendaraan dan sudah bisa membiayai sekolah anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi.
Tak hanya itu, Awin mampu membuka lapangan kerja bagi 11 orang karyawan dari tempatnya tinggal. Awin mengaku, manisnya bisnis yang kini dinikmati tak lepas dari dukungan permodalan dari PNM ULaMM.
Sejak tahun 2016 dia sudah menjadi nasabah dengan pinjaman pertama sebesar Rp100 juta. Dia pun akan terus menjalin kerjasama dengan lembaga keuangan tersebut yang juga aktif melakukan pembinaan dan pelatihan bagi nasabahnya.