Presiden Joko Widodo hingga Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berkali-kali telah memperingatkan ancaman resesi ekonomi global di tahun depan. Gentingnya peringatan tersebut tidak terlepas dari krisis energi dan krisis pangan yang terjadi sekarang.
Terganggunya suplai dan demand membuat harga energi merangkak naik di pasar global. Kenaikan harga yang terjadi sejak akhir tahun lalu ini belum terasa dampaknya di masyarakat Indonesia. Sebab sebagian besar bensin yang dibeli telah mendapatkan subsidi dan kompensasi dari Pemerintah.
Sampai akhirnya anggaran subsidi dan kompensasi energi bengkak hingga Rp 502, 4 triliun. Akhirnya, Pemerintah mengaku tak kuat lagi menahan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi. Terpaksa, di awal September 2022 lalu bensin subsidi harganya dinaikkan.
Kenaikan harga BBM tersebut sempat menuai penolakan. Sebab, pemerintah menaikkan harga BBM ketika harga minyak bumi mengalami tren penurunan. Lantas bagaimana sebenarnya alur pembentukan harga BBM di tingkat masyarakat? Simak ulasan berikut ini yang dibuat dari catatan Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar.
Arcandra menjelaskan, secara sederhana minyak mentah yang diproduksikan perusahaan minyak dunia seperti Exxon, Shell dan BP ini diperdagangkan lewat pasar energi oleh para trader (pedagang). Bagi perusahaan minyak yang punya kilang, minyak mentah yang mereka produksi ini bisa diolah sendiri untuk menghasilkan BBM.
Namun, kilang-kilang yang tidak punya minyak mentah, akan memproduksi BBM dengan cara membeli minyak mentah dari pasar melalui trader atau mekanisme bisnis lain dengan produser.
Kilang yang mengolah minyak mentah menjadi BBM akan mendapatkan keuntungan lewat refinery margin. Dalam hal ini refinery margin merupakan selisih antara harga BBM yang dihasilkan kilang dengan harga minyak mentah.
"Harga BBM di titik ini terbentuk dari harga minyak mentah ditambah refinery margin," kata Arcandra dalam tulisannya di akun instagram @arcandra.tahar, dikutip Jumat (14/10).
Selanjutnya, BBM yang sudah diproduksi kilang akan diperdagangkan kembali oleh para trader melalui pasar energi. Di sini lah terjadi tawar menawar antar trader terhadap BBM yang sudah mereka beli dari kilang untuk mereka jual kepada yang membutuhkan.
Bila penjual dan pembeli melakukan transaksi pada hari yang sama kemudian BBM tersebut langsung dikapalkan (dipindahtangankan), maka harga yang terjadi dinamakan dengan harga spot (spot price). Sementara jika penjual dan pembeli bersepakat akan volume dan harga pada suatu hari ke depan, maka harga yang terjadi dinamakan dengan harga masa depan (future price).
"Dagang jenis kedua ini biasa juga disebut dengan paper trading," kata dia.
Advertisement
Salah satu pasar energi di dunia ada di Singapura. Di sini berkumpul para penjual dan pembeli yang bertransaksi setiap hari kerja mulai pukul 8.30 sampai 16.30. Sewaktu pasar ini ditutup, semua transaksi baik itu spot maupun future, membentuk harga BBM pada hari itu.
"Salah satu harga acuan BBM yang terbentuk di pasar Singapura adalah harga Mean of Platts Singapore (MOPS)," kata dia.
Harga MOPS ini, biasanya lebih tinggi dari harga BBM di kilang. Namun ada masanya pernah terjadi anomali dimana harga BBM di kilang lebih tinggi daripada harga MOPS. Akibatnya timbul strategi untuk tidak mengolah minyak di kilang, tapi cukup dibeli saja karena lebih murah. Namun demikian karena sifatnya anomali.
"Hal itu sebaiknya tidak dijadikan dasar dalam mengambil kebijakan untuk memperkuat ketahanan energi suatu negara," ungkapnya.
Prosesnya pun tidak berhenti di sini. Harga dari MOPS ini belum menjadi harga BBM yang dijual ke konsumen. Mengingat BBM perlu didistribusikan dengan kapal pengangkut dari storage penjual dan storage pembeli.
Dari storage pembeli baru di distribusikan ke SPBU lewat pipa, kapal yang lebih kecil atau truk tangki. Disini terjadi penambahan biaya. Sehingga harga di konsumen menjadi harga MOPS ditambahkan ongkos penyimpanan, ongkos pengangkutan, ongkos distribusi, pajak, margin badan usaha dan lain-lain.
Sederhananya, Arcandra menganalogikan rendang (BBM) yang dijual di Rumah Makan Nasi Padang. Rendang yang diproduksi di dapur dijual menggunakan jasa pedagang (trader), dengan alasan pemilik dapur tidak punya kemampuan untuk mencari konsumen yang membutuhkan rendang.
Di sisi lain, rumah makan atau perusahaan katering punya informasi tentang jumlah kebutuhan rendang hari ini dan ke depannya. Mereka juga memiliki informasi lokasi dan pembelinya. "Sehingga terjadilah tawar menawar harga antara pedagang yang punya rendang dengan rumah makan atau yang membutuhkan," kata dia.
Setiap hari transaksi ini terjadi dan pada pukul 16.30 pasar rendang ini ditutup. Harga acuan rendang yang terbentuk hari itu disebut harga Mean of Rendang Padang (MORP). Harga rendang yang diterima konsumen terbentuk dari harga MORP ditambahkan ongkos penyimpanan, ongkos pengangkutan, ongkos distribusi, pajak, margin badan usaha dan lain-lain.
Sehingga dalam pembentukan harga BBM ada lima komponen utama yang terlibat. Mulai dari perusahaan penghasil minyak mentah, kilang, pasar energi, trader dan konsumen.
Dari 5 komponen utama tersebut Singapura memiliki 3 komponen intinya, mulai dari kilang, pasar energi dan trader. Itulah sebabnya Singapura menjadi salah satu negara pengekspor BBM di Asia walaupun tidak punya ladang minyak.
Kondisi ini lah yang membuat Singapura menjadi pusat perdagangan minyak dunia (oil trading hub). Dengan kata lain, The Lion City ini disebut sebagai negara pasar energi. Peran Singapura dalam pembentukan harga BBM pun bukan terjadi kemarin. Melainkan sejak puluhan tahun lalu. Singapura telah menjadi titik penting dari alur terbentuknya harga BBM di Asia.