Pengusaha Mal: Pandemi buat 20 Persen Pengunjung Hilang Beralih ke Online

Ketua Umum DPP Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja mengungkapkan, ada sebanyak 20 persen pengunjung pusat perbelanjaan beralih untuk belanja online. Dia menjelaskan selama 2 tahun pandemi covid-19 pengunjung di pusat perbelanjaan mengalami penurunan yang signifikan.

Siti Ayu Rachma
Oleh Siti Ayu Rachma - Reporter
Pengusaha Mal: Pandemi buat 20 Persen Pengunjung Hilang Beralih ke Online
Ujicoba Aplikasi Pedulilindungi di Solo Paragon Mall. ©2021 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Ketua Umum DPP Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja mengungkapkan, ada sebanyak 20 persen pengunjung pusat perbelanjaan beralih untuk belanja online.

Dia menjelaskan selama 2 tahun pandemi covid-19 pengunjung di pusat perbelanjaan mengalami penurunan yang signifikan. Penurunan tersebut sangat dirasakan di kota-kota besar seperti Jakarta.

"Kami perkirakan setelah pandemi berakhir ada 20 persen yang tidak kembali (Pengunjung) karena mereka sudah kepincut dan sudah tertarik oleh online," ujar Alphonzus, dalam acara Indonesia Retail Summit 2022, di Sarinah Jakarta, Selasa (16/8).

Alphonzus mengatakan, untuk mengembalikan sebanyak 20 persen itu, pusat perbelanjaan harus memiliki konsep semenarik mungkin untuk menarik pengunjung tersebut. "Pusat perbelanjaan harus memberikan fungsi lain supaya 20 persennya kembali," terangnya.

Digitalisasi Layanan Mal

Fungsi yang dimaksud Alphonzus adalah memberikan experience customer dan journey customer yang berbeda dari waktu ke waktu. "Kita harus melihat perubahan dari waktu ke waktunya, sekarang jamannya sudah digitalisasi," jelas Ketua Umum DPP APPBI.

Walaupun saat ini sudah beralih kepada zaman digitalisasi yang serba online, pusat perbelanjaan menurut Alphonzus juga harus mengedepankan digitalisasi.

"Bukan hanya belanja online saja, pusat perbelanjaan juga serba digital, sekarang kita tidak ketemu lagi sama petugas parkir karena sudah menggunakan e-money atau pembayaran cashless lainnya. Jadi inilah yang harus dibedakan pengelolanya, digitalisasi bukan ikut jualan online," tuturnya.

Rekomendasi