KPPU Belum Temukan Indikasi Kartel di Balik Kenaikan Harga Kedelai Impor

KPPU belum menemukan indikasi adanya dugaan kartel di balik mahalnya harga kedelai impor. KPPU juga belum menemukan bukti kuat indikasi pelanggaran terhadap regulasi persaingan usaha.

Sulaeman
Oleh Sulaeman - Reporter
KPPU Belum Temukan Indikasi Kartel di Balik Kenaikan Harga Kedelai Impor
Ilustrasi kedelai. ©2019 Merdeka.com/Pixabay

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mulai menyoroti mahalnya harga kedelai impor yang terjadi mulai awal tahun ini. Imbas dari mahalnya komoditas kedelai, harga tempe dan tahu pun melejit di pasaran.

"Untuk kedelai, saat ini (KPPU) pantau terus perkembangannya," kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama KPPU Deswin Nur saat kepada Merdeka.com di Jakarta, Senin (21/2).

Akan tetapi, KPPU belum menemukan indikasi adanya dugaan kartel di balik mahalnya harga kedelai impor. KPPU juga belum menemukan bukti kuat indikasi pelanggaran terhadap regulasi persaingan usaha. "Saat ini, masih belum cukup informasi atas (kartel) tersebut," tutupnya.

Sebelumnya, Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) DKI Jakarta menyerukan mogok produksi mulai 21 hingga 23 Februari. Aksi mogok jualan tahu tempe ini sebagai bentuk protes terhadap fluktuasi kenaikan harga kedelai yang berlangsung sejak awal tahun 2022.
"Rencana mogoknya mulai dari besok hari senin, selasa dan rabu," kata Ketua Pusat Kopti DKI Jakarta, Sytarto saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Minggu (20/2).

Sytarto mengatakan, dalam satu bulan terakhir, setiap hari harga kedelai mengalami kenaikan. Katanya, hasil penjualan produksi hari ini hanya cukup untuk membeli bahan baku untuk produksi besok.

"Kalau hari ini terjual tahu atau tempe dari kedelai 50 kilogram, hasilnya cuma bisa beli kedelai buat produksi besok. Jadi tidak ada untungnya," kata dia.

Menurutnya bila kondisi ini terjadi selama satu-dua hari memang tidak masalah. Namun bila terjadi selama 1 bulan, para pengrajin pun mengalami kesulitan.

Terlebih bagi para penjual di pasar yang harus setiap hari menaikkan harga tahu dan tempe. Sehingga tujuan dari aksi mogok produksi ini agar masyarakat tahu kondisi yang dialami para pengrajin.

"Tidak mungkin kan tiap hari bilang harga kedelai naik terus ke konsumen. Makanya kita mogok dulu 3 hari biar bisa diekspor dan diketahui masyarakat luas," kata dia.

Kenaikan Kedelai Impor Disebabkan Badai La Nina di Amerika Selatan

Sementara itu, Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi mengungkapkan, kenaikan kedelai impor salah satunya diakibatkan oleh badai La Nina di Amerika Selatan. Sehingga, menyebabkan suplai kedelai dunia terganggu.

"Harga dunia loncat dari USD 12 menjadi USD 18 karena terjadi La Nina di Argentina dan Amerika Selatan yang menyebabkan suplai jadi sangat terbatas dan harga jadi naik," tuturnya usai melakukan sidak di Pasar Pa'baeng-baeng Makassar, Kamis (17/2).

Selain La Nina, masalah restrukturisasi peternakan babi di China juga menjadi pemicu harga kedelai di pasar Internasional. Saat ini peternakan di China menjadikan kedelai sebagai konsumsi babi.

Lutfi mengaku, untuk mengatasi masalah kenaikan harga kedelai tersebut, Kementerian Perdagangan (Kemendag) segera menyiapkan langkah mitigasi.

"Sekarang kita sudah siapkan mitigasinya untuk mengambil kenaikan harga. Kita akan putuskan kesempatan minggu depan dan akan saya umumkan kebijakannya," ujarnya.

Rekomendasi