Tak Hanya Garuda Indonesia, Maskapai Penerbangan China Ini Juga Bangkrut

Sejak putusan pengadilan dikeluarkan pada 31 Oktober, proses reorganisasi berjalan lancar, dan progres substansial untuk mengurangi risiko juga telah dilakukan. Demikian dinyatakan manajemen Hainan.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Tak Hanya Garuda Indonesia, Maskapai Penerbangan China Ini Juga Bangkrut
Seragam modis pramugari dan pramugara Hainan Airlines. ©2017 Hainan Airlines

Industri maskapai penerbangan menjadi salah satu terdampak paling parah akibat pandemi Covid-19. Bagaimana tidak, pandemi memaksa seseorang untuk tidak bepergian agar virus tidak menyebar. Bahkan, di awal pandemi banyak bandara tutup dan tidak ada layanan penerbangan sama sekali.

Beberapa maskapai mengalami kesulitan keuangan hingga kebangkrutan dan dilit utang triliunan rupiah. Salah satunya, Garuda Indonesia. Hingga september, Garuda Indonesia terlilit utang hingga USD9,78 miliar. Jika disetarakan dengan mata uang Rupiah nilainya mencapai sekitar Rp140 triliun.

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) II, Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan, permasalahan Garuda Indonesia saat ini disebabkan dua faktor. Pertama, pandemi Covid-19. Kedua, korupsi.

"Saya sering ditanya Garuda ini kinerja turun karena apa, karena korupsi atau karena covid, ya karena dua-dua nya," katanya.

Menteri BUMNB, Erick Thohir sempat mengungkapkan bahwa kerugian perusahaan penerbangan pelat merah ini akibat bisnis model yang salah urus. Di mana ini terus berlanjut berpuluh-puluh tahun hingga puncaknya meledak saat pandemi Covid-19 di awal 2020.

"Sejak awal Garuda bisnis modelnya sudah salah dan ini sudah berlanjut puluhan tahun," kata Menteri Erick dalam acara Kick Andy Double Check, Minggu (14/11) malam.

Menteri Erick mengatakan, selama ini Garuda terlalu dimanja karena memiliki domestik market yang sangat kuat. Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh oknum di tubuh Garuda Indonesia, dengan pemikiran terbang atau membuka rute keluar negeri.

Pada akhirnya jumlah pesawat yang dimiliki Garuda Indonesia kini beragam jenis. Dan dibuatlah sekenario bahwa jika ingin terbang ke suatu negara harus menggunakan pesawat jenis A atau B. Dengan banyaknya jenis pesawat. Sehingga membuat sewaan pesawat Garuda paling banyak di dunia jumlahnya dalam satu airline industry.

"Pada akhirnya juga kita paling mahal sewa pesawat di Dunia 28 persen yang rata-rata dunia itu 6 persen daripada pos operasional," katanya.

Kondisi maskapai seperti ini ternyata tak hanya di Indonesia. Bahkan, maskapai besar China juga mengalami hal yang sama.

Terlilit Utang dan Rugi Rp144 Triliun, Pengelolaan Maskapai China Dialihkan ke Investor

Maskapai terbesar keempat di China, Hainan Airlines mengumumkan pemindahan pengelolaan usaha intinya sebagai penyedia jasa penerbangan kepada Liaoning Fangda Group Industrial Co Ltd. Pemindahtanganan tersebut dilakukan setelah perusahaan induk Hainan Airlines, HNA Group, sedang berada dalam proses kepailitan dan restrukturisasi utang.

Sejak putusan pengadilan dikeluarkan pada 31 Oktober, proses reorganisasi berjalan lancar, dan progres substansial untuk mengurangi risiko juga telah dilakukan. Demikian dinyatakan manajemen Hainan.

Pejabat yang ditunjuk pemerintah lokal untuk mengatasi risiko utang HNA, Gu Gang tidak akan menjabat sekretaris Partai Komunis China (CPC) di perusahaan tersebut. Selanjutnya, akan dibentuk kelompok kerja yang akan memberikan panduan, koordinasi, dan supervisi, kata HNA.

Kelompok kerja tersebut juga akan melanjutkan rencana implementasi kepailitan dan restrukturisasi utang serta tugas lain yang berkaitan dengan manajemen risiko.

Liaoning Fangda Group merupakan perusahaan besar di China yang bergerak di bidang usaha karbon, baja, dan farmasi. Liaoning Fangda berhasil memenangi lelang akuisisi Hainan Airlines dengan mengalahkan Shanghai Juneyao Group sebagai induk perusahaan Juneyao Airlines dan Fosun International yang menguasai industri pariwisata China.

Hainan pada Maret mengumumkan kerugian perusahaan sebesar 64 miliar yuan atau sekitar Rp144,7 triliun selama 2020, yang merupakan kerugian terbesar dalam daftar perusahaan di China.

Pengadilan Tinggi pada Januari mengeluarkan surat pemberitahuan bahwa para kreditornya mengajukan gugatan kepailitan, seperti diberitakan China Daily.

Sejak 2010, HNA telah membuat terobosan secara agresif dengan menambah asetnya di luar negeri sehingga total akuisisinya mencapai lebih dari USD 50 miliar (sekitar Rp717,6 triliun).

HNA sempat mengakuisisi saham 40 perusahaan besar, termasuk Deutsche Bank AG dan Hilton Worldwide Holdings Inc.

Belakangan, akuisisi HNA mendapat sorotan dari regulator China. HNA mulai terlilit banyak utang dan mulai mencari pembeli aset-asetnya.

Rekomendasi