Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) menyebut bahwa terdapat minat investasi asing sebesar USD 16 miliar atau sekitar Rp231,6 triliun.
"Investor asing yang sampai sekarang sudah banyak diajak bicara dan sudah bekerjasama dengan INA atau sudah menunjukkan minatnya adalah yang dari hubungan Government to Government yang mungkin kita sudah sering mendengar yakni dari Uni Emirat Arab (UEA) USD 10 miliar, kemudian dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC) sudah mengatakan USD 4 miliar dan dari United States International Development Finance Corporation (DFC) sudah mengatakan USD 2 miliar," ujar Chief Risk Officer INA, Marita Alisjahbana dalam seminar daring Investor Daily Summit 2021 di Jakarta, Selasa (13/7).
Selain itu, juga terdapat investor finansial global, korporasi asing yang ingin menanamkan investasinya di Indonesia, kemudian ada juga dari domestic players seperti BPJS Ketenagakerjaan, Taspen dan lain-lain.
Di samping itu, Marita juga menyebutkan bahwa INA telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan tiga investor asing untuk platform jalan tol.
"Sudah ada penandatanganan MoU di mana INA sudah berhasil mengajak tiga investor asing yakni Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) Uni Emirat Arab, APG Asset Management (APG) Belanda, dan Caisse de dépôt et placement du Québec (CDPQ) Kanada untuk platform jalan tol sebanyak 3,75 miliar dolar AS," katanya.
Total USD 3,75 miliar ini terdiri dari USD 750 juta dari INA dan USD 1 miliar dari masing-masing mitra investor asing tersebut.
"Setelah penandatanganan MoU tersebut, tahap berikutnya adalah melakukan due diligent supaya hal tersebut bisa selesai transaksinya," ujarnya.
Advertisement
Sebelumnya, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan pemerintah menyasar peluang investasi di tiga sektor infrastruktur yakni jalan tol, pelabuhan, dan bandara melalui lembaga pengelola investasi Indonesia.
Kartika memberikan contoh proyek jalan tol Trans Jawa dan Trans Sumatera. Ada 24 daftar pertama konsesi jalan tol yang saat ini sedang dibahas pemerintah bersama INA untuk peluang ekuitas sekitar Rp34 triliun. Kedua proyek jalan tol ini dioperasikan oleh tiga operator jalan tol utama BUMN, yakni PT Waskita Karya, PT Jasa Marga, dan PT Hutama Karya.
Ragam kolaborasi juga terlihat pada sektor pelabuhan dengan empat proyek, yaitu Pelabuhan Kontainer Belawan di Medan, CT2 dan CT3 di Kalibaru, Jakarta, Teluk Lamong di Surabaya, dan juga Pelabuhan Baru Makassar.
Pemerintah juga bekerjasama dengan INA yang juga disebut sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF), untuk membawa mitra baru untuk proyek pengembangan beberapa bandara agar menjadi hub dalam negeri melalui peningkatan efisiensi operasional.