Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku terkejut atas nilai jumbo spending atau pengeluaran untuk industri kesehatan yang mencapai Rp490 triliun dalam setahun (2019). Menurutnya, itu lebih besar dari anggaran Kementerian Kesehatan yang hanya sebesar Rp85 triliun per tahun.
"Kita mencoba melihat kemudian cart health account, national health account kita, Saya terkejut walaupun anggaran saya lumayan besar ada Rp85 triliun. Ternyata spending di industri kesehatan setahunnya itu Rp490 triliun," ucapnya dalam Konferensi Pers Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri di Bidang Alat Kesehatan, Selasa (15/6).
Budi merinci, dari total nilai pengeluaran jumbo itu, Rp234 triliun berasal dari sektor swasta. Sedangkan, nilai yang disumbangkan pemerintah mencapai Rp255 triliun.
"Kita bisa lihat juga pecahannya national health account ini. Swasta hanya sekitar Rp234 triliun dan pemerintahannya sebesar Rp255 triliun," jelasnya.
Adapun alokasi anggaran tertinggi pemerintah itu digunakan untuk pembiayaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS). Lalu, untuk pembiayaan di Pemerintah Daerah.
"Sedangkan yang swasta besarnya di mana? Itu dari rumah tangga. Karena masih banyak orang-orang kita yang membeli obatnya tidak melalui mekanisme asuransi nasional, tapi langsung ke toko-toko obat atau alat-alat obat lainnya," ungkapnya.
Maka dari itu, Budi memproyeksikan sejatinya pengeluaran di industri kesehatan per tahun lebih dari Rp490 triliun. Menyusul tingginya kebutuhan masyarakat akan pelayanan jasa kesehatan di tengah pandemi Covid-19.
"Kita coba melihat bahwa obat dan alkes minimal Rp24 triliun, kalau kita lihat spending rumah sakit yang Rp272 triliun, itu sebagian besar juga obat-obatan dan alat kesehatan. Spendingnya Puskesmas, Klinik, Fasilitas Kesehatan Primer itu juga sebagian ada obat dan alat kesehatan," katanya.