PT Pertamina (Persero) tercatat telah menjalankan Program Kemitraan sejak 1993. Sejak saat itu, total akumulasi dana pinjaman modal usaha yang disalurkan mencapai Rp3,5 triliun yang diberikan kepada 64 ribu pelaku usaha yang menjadi mitra binaan Pertamina.
"Ini merupakan program pada tingkat tertinggi dari siklus pemberdayaan masyarakat. Kami melakukan pembinaan dan mempertemukan mitra binaan dengan ekosistemnya sehingga ketika mereka sudah benar-benar lepas, mereka sudah bisa mandiri dan diharapkan terus bertumbuh dan berkelanjutan," ujar VP CSR SMEPP Management Pertamina, Arya Dwi Paramita, saat menjadi nara sumber pada webinar bertajuk “UMKM Bangkit Dorong Penggunaan LPG Nonsubsidi” yang digelar Dunia Energi dikutip di Jakarta, Kamis (17/12).
Program Kemitraan Pertamina sampai akhir November 2020 telah menyalurkan sebesar Rp241 miliar kepada 2.199 pelaku usaha kecil. Arya mengatakan, tahun ini Pertamina merilis program Pinky Movement, yaitu program yang diarahkan khusus untuk pelaku usaha yang menjalan usaha perdagangan LPG dan juga pelaku usaha di bidang kuliner dan usaha kecil lainnya yang menggunakan LPG sebagai sumber energi.
Dikatakan jika selama ini, Pertamina telah bersinergi dengan para pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah dan Perguruan Tinggi, untuk memperkuat peran usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Hal ini merupakan perwujudan dari komitmen tinggi Pertamina dalam mengimplementasikan program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan mengacu pada standar ISO 26000.
Pertamina memberikan bantuan permodalan bagi UMKM yang masuk dalam Sustainable Development Goals (SDG’S) nomor delapan, melalui program kemitraan, sebuah program untuk membantu pelaku usaha dan mitra binaan dalam menjalankan kegiatan usaha produktif.
"Program Kemitraan yang dijalankan Pertamina, tidak hanya sekadar menyalurkan pinjaman modal usaha, tetapi juga melakukan pendampingan, evaluasi dan berbagai pelatihan. Muaranya adalah agar pelaku usaha bisa mandiri, bertumbuh dan usaha yang dijalankan berkelanjutan," jelas dia.
Turut hadir pada acara,Asisten Deputi Penyuluhan Kementerian Koperasi dan UKM Bagus Rachman Dosen Administrasi Bisnis FISIP Universitas Padjadjaran Healthy Nirmalasari, dan Yeni Arzah, UMKM Mitra Binaan Pertamina Program Pinky Movement dari Kabupaten Passer, Kalimantan Timur.
Bagus Rachman mengatakan program permodalan UMKM yang dilakukan Pertamina sejalan dengan misi pemerintah khususnya kementerian koperasi dan UKM. Dengan target yang tertuang dalam RPJMN 2020-2024, yakni menumbuhkan kewirausahaan nasional, industri kecil dengan bersinergi dengan Kementerian lain ataupun badan usaha baik nasional maupun swasta.
Kementerian Koperasi dan UKM, sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 123, 46 triliun untuk UMKM. Dana tersebut tidak termasuk 12 juta UMKM yang mendapatkan bantuan langsung pemerintah agar bisa survive karena pandemi covid-19. "Bantuan untuk UMKM agar terus survive di tengah pandemi ini, agar bisa bertahan dalam empat bulan. Sejak September sampai Desember 2020," jelas dia lagi.
Dia berharap sinergi Kementerian Koperasi dan UMKM dengan Pertamina terkait pemberdayaan koperasi dan UMKM di bidang energi, pemerataan energi nasional, distribusi gas dan juga minyak. "Kita ingin agar koperasi dan UMKM, bisa naik level, ke jenjang lebih tinggi, sehingga ikut mendukung terhadap perekonomian masyarakat," ujarnya.
Advertisement
Beragam Dukungan dan Stimulus
Healthy Nirmalasari mengatakan ada beragam dukungan dan stimulus oleh kementerian, BUMN dan swasta untuk keberlanjutan usaha UMKM, tidak hanya menggelontorkan dana.
Tantangannya adalah bagaimana UMKM bisa mandiri, terkait program pengembangan teknis dan kepemimpinan dari wirausahawan.Bukan hanya dana terserap, produksi meningkat, tapi UMKM tersebut bertumbuh sehingga kebermanfaatannya terasa. "Salah satunya adalah banyak tenaga kerja yang terserap," ujarnya.
Menurut dia, ada tiga hal penting yang harus menjadi perhatian dalam pemberdayaan UMKM. Pertama, memastikan perbaikan berkelanjutan menjadi semangat berwirausaha para UMKM. Kedua, memperluas kolaborasi kepada pihak yang dapat membantu research and development. Ketiga, mengedekuasi pasar dengan mengonsumsi produk dalam negeri sebagai perwujudan Cinta Tanah Air.
Tanpa memperhatikan tiga kondisi tersebut, sulit bagi UMKM berkembang apalagi diharapkan bertumbuh dan mandiri.
"Saya mengapresiasi Program Kemitraan Pertamina yang sudah memenuhi kriteria baik karena penerima manfaat, tidak hanya sekadar mendapatkan bantuan dana, tetapi juga ada pendampingan, pelatihan sehingga ketika mereka di lepas, mereka sudah benar-benar mandiri," katanya.
Yeni Arzah, warga Kelurahan Kerang, Batu Engau, Kabupaten Passer, yang usaha pembuatan ampalng, mendapatkan bantuan permodalan usaha dari Pertamina sebesar Rp 130 juta.
Yeni juga melakukan inovasi dan pengembangan usaha ‘Buah Merundut’ dengan membuat keripik pisang, singkong, talas dan kerupuk udang serta kerupuk ikan. “Memang awalnya banyak kendala, tapi alhamdulillah, dengan bantuan dari Pertamina, masalah permodalan sudah dapat teratasi. Begitu juga dengan pelatihan manajemen yang dilakukan Pertamina, sangat membantu saya, dalam mengelola keuangan usaha," katanya.
Sumber: Liputan6.com