Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki mengatakan, para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) telah berkali-kali menghadapi berbagai situasi krisis seperti masa pandemi Covid-19 saat ini. Pengalaman tersebut membuat para pelaku usaha kecil tersebut dapat cepat banting setir melakukan perubahan bisnis.
Respon berbeda justru diberikan perusahaan besar di tengah situasi krisis seperti saat ini. Menurut Teten, korporasi raksasa cenderung berhati-hati saat pandemi dengan menunda ekspansi bisnis dan investasi sembari menunggu situasi ekonomi membaik.
"Di UMKM karena sifatnya ini langsung berpengaruh pada dapur mereka, mereka tidak bisa menunda investasi. Mereka tidak bisa menunda usaha, mereka harus terus berusaha supaya dapur tetap ngebul," ujar Teten dalam sesi webinar, Kamis (8/10).
Dia turut menceritakan peran UMKM di masa krisis sebelumnya, seperti pada era reformasi 1998. Pada saat itu, UMKM disebutnya tampil menjadi pahlawan penyelamat ekonomi nasional.
"Saat ini barangkali UMKM narasinya berbeda. Kita harus pastikan UMKM pada saat ini justru bisa jadi penyangga ekonomi nasional, paling tidak untuk tidak menambah jumlah pengangguran dan jumlah angka kemiskinan yang semakin tajam," tuturnya.
Oleh karena itu, pemerintah membaca bahwa sisi supply dan demand sektor usaha kecil menjadi yang terpenting untuk dipertahankan dalam tahap survival saat ini. Secara kebijakan, pemerintah memberikan sejumlah bantuan dan keringanan seperti program restrukturisasi pinjaman selama 6 bulan, termasuk penyaluran ghibah modal kerja untuk UMKM yang unbankable.
"Dari sisi demand masuk ke belanja negara, termasuk belanja BUMN. Karena resesi ini daya beli masyarakat betul-betul terganggu, konsumsi masyarakat terganggu, padahal selama ini ekonomi kita digerakan oleh konsumsi masyarakat. Tapi karena banyak kehilangan pendapatan, pekerjaan, maka beban daya beli sekarang diambil pemerintah," ungkapnya.
Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com