Ilham Habibie Sentil Banyak Warga Indonesia Belum Cinta Produk Dalam Negeri

Masyarakat Indonesia masih memiliki paradigma takut dalam mendukung produk dalam negeri. Padahal, Indonesia kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) dan kaya akan pengusaha-pengusaha yang membuat suatu produk dalam negeri.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Ilham Habibie Sentil Banyak Warga Indonesia Belum Cinta Produk Dalam Negeri
Ilham Habibie. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Indonesia masih terus bermimpi untuk menjadi negara maju. Guna menuju ke sana, banyak hal yang harus dilakukan, khususnya mengenai peningkatan inovasi.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Telematika, Penyiaran dan Ristek, Ilham Habibie, mengatakan, di era digital ekonomi inovasi di Indonesia semakin destruktif.

"Saya kira kita sepakat bahwa jika ekonomi kita ingin meraih level high income country harus menguasai inovasi, baik secara budaya maupun proses. Kita akan susah mencapai level tersebut, jika tidak mengembangkan inovasi," kata Ilham acara Business Innovation Gathering (BIG) 2019, di LIPI Grand Ballroom, Jakarta, Kamis (19/12).

Menurutnya, masyarakat Indonesia masih memiliki paradigma takut dalam mendukung produk dalam negeri. Padahal, Indonesia kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) dan kaya akan pengusaha-pengusaha yang membuat suatu produk dalam negeri.

Dia mencontohkan, negara Korea selatan, di mana saat tahun 50-an kondisi ekonomi Korea Selatan sama dengan Indonesia. Namun sekarang terlihat jauh berbeda. Pemerintahan di sana, tidak sungkan dalam mengeluarkan dana untuk melakukan penelitian dalam mengembangkan inovasi.

Selain mudahnya menggelontorkan dana untuk penelitian inovasi, Korea Selatan juga didukung oleh masyarakatnya yang mencintai produk dalam negeri.

"Mereka bisa mencapai posisinya sekarang, yaitu mereka sadar bahwa riset dan inovasi dapat mendorong industrinya berkembang, selain itu mereka didukung oleh bangsanya dengan menggunakan produknya sendiri," jelas Ilham.

4 Konsep Inovasi

Untuk menghindari ekonomi inovasi yang destruktif, dia memaparkan empat komponen inovasi ekonomi ke depan. Pertama, berinvestasi pada human kapital. Menurutnya kini pemerintah sudah mengedepankan untuk mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM).

Kedua, harus berinvestasi pada Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Dan ketiga, membina kewirausahaan dan mendukung inovasi. Menurutnya, kewirausahaan dan inovasi tidak bisa dipisahkan, perlu keseimbangan antara keduanya. Dan yang keempat, harus memperhatikan kemiskinan.

Melek Teknologi

Untuk ke depannya dia berharap pelaku industri dan pengguna teknologi digital, harus memahami dan menghadapi era industri 4.0. "Mengerti tidak harus jd pakar, tapi apa artinya literasi teknologi kita harus mengerti programming, dan konsep-konsep teknologi lainnya, setidaknya kita harus tau konsep dasar teknologi," jelasnya.

Karena menurutnya, ekonomi di masa mendatang harus mengandalkan pada inovasi untuk menciptakan daya saing tinggi. Mengerti dan menguasai teknologi bisa menjadikan atau menciptakan konsumen yang pintar.

Dia pun mengatakan, agar para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) seperti reseller juga paham teknologi. Bukan hanya membeli barang dengan murah, lalu dijual kepada konsumen dengan harga mahal.

Tapi yang lebih ditekankan adalah bagaimana reseller tersebut paham cara menggunakan teknologi di era digital dalam menerapkan kegiatan ekonominya.

Reporter: Tira

Sumber: Liputan6.com

Rekomendasi