Saran Sandiaga Uno Agar Pemerintah Jokowi Bisa Perbaiki Defisit Transaksi Berjalan

Pengusaha, Sandiaga Uno, menyebut ada beberapa langkah efektif yang perlu dilakukan pemerintah dalam menekan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit /CAD). Salah satunya adalah meningkatkan investasi di pengelolaan sektor minyak dan gas (migas).

Dwi Aditya Putra
Oleh Dwi Aditya Putra - Reporter
Saran Sandiaga Uno Agar Pemerintah Jokowi Bisa Perbaiki Defisit Transaksi Berjalan
Diskusi Milenial Bareng Sandiaga Uno dan Anis Matta. ©Liputan6.com/Faizal Fanani

Pengusaha, Sandiaga Uno, menyebut ada beberapa langkah efektif yang perlu dilakukan pemerintah dalam menekan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit /CAD). Salah satunya adalah meningkatkan investasi di pengelolaan sektor minyak dan gas (migas).

"Sehingga kita berhenti mengimpor yang menyumbang defisit neraca perdagangan itu kan dari impor migas," kata Sandiaga saat ditemui di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (8/11).

Pemerintah juga perlu mempercepat kilang-kilang minyak baik yang kecil, menengah, maupun besar untuk segera beroperasi. Tak hanya itu, dirinya juga menyarankan agar pemerintah terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk konversi dari energi konvensional menjadi energi baru dan terbarukan.

"Dan untuk penggunaan dari migas yang transportasi paling banyak, kita harus gerakan nih penggunaan transportasi umum seperti Jak Lingo milik pemprov tempat saya dulu bekerja. Jadi ini yang harus dilakukan secara masif," kata dia.

Seperti diketahui, pada kuartal I-2019 Bank Indonesia (BI) mencatat CAD berada di level 2,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh lebih besar ketimbang CAD pada kuartal I-2018 yang berada di level 2,01 persen dari PDB.

Kemudian pada kuartal II-2019, CAD membengkak menjadi 3,04 persen dari PDB. CAD pada tiga bulan kedua tahun ini juga lebih besar dalam ketimbang capaian pada periode yang sama tahun lalu di level 3,01 persen dari PDB.

Jurus BI Tekan Defisit Transaksi Berjalan

Bank Indonesia (BI) telah memiliki sejumlah cara untuk meredam defisit transaksi berjalan alias Current Account Deficit (CAD) hingga akhir tahun. Salah satunya yakni menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.

"Jadi kalau kembali kepada tugas dan fungsinya Bank Indonesia bagaimana kita menjaga stabilitas nilai tukar dan menjaga likuiditas dollar itu sendiri," kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, saat ditemui di Kompleks BI, Jakarta, Minggu (11/8).

Destry mengatakan dalam menekan CAD tentu saja juga diperlukan mendorong ekspor dan menekan impor. Namun, untuk menjaga keseimbangan keduanya tetap harus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

Dia juga mengimbau kepada para eksportir agar secara bersama-sama mampu membawa devisanya ke Indonesia. Di mana, devisa tersebut nantinya dapat digunakan untuk pembangunan termasuk pembiayaan impor itu sendiri.

"Karena kita tau eksportir kita itu memang kebanyakan juga importir. Jadi, itu yang kami harapkan dan tentunya sekali lagi likuiditas dari dolar kita harapkan akan membaik ke depannya," katanya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memperkirakan defisit transaksi berjalan (deficit current account/CAD) secara keseluruhan pada tahun ini dapat ditekan lebih rendah dibandingkan posisi CAD pada tahun lalu. Di mana posisi CAD sepanjang 2018 telah mencapai USD 31,1 miliar atau 2,98 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"CAD kita perkirakan tahun ini akan mengarah 2,5 persen," kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat ditemui di Kementerian Keuangan,Jakarta, Selasa (23/4).

Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan alias current account deficit (CAD) naik menjadi USD 8,4 miliar atau 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal kedua 2019. Defisit ini naik dari USD 7 miliar atau 2,6 persen dari PDB pada kuartal pertama.

Rekomendasi