Menjaga Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati Batang Toru

Pelestarian keanekaragaman hayati di lanskap Batang Toru, Tapanuli Selatan, membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Menjaga Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati Batang Toru
Foto selebaran tak bertanggal yang diambil oleh Pusat Informasi Orangutan dan dirilis pada 10 Juni 2026 menunjukkan orangutan Tapanuli di atas pohon di hutan Batang Toru di Sumatra Utara. Menurut para ilmuwan, tanah longsor yang dipicu oleh perubahan iklim memusnahkan hampir satu dari 10 spesies kera besar paling langka di dunia yang tersisa di Pulau Sumatra. (Handout/Pusat Informasi Orangutan/AFP)

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani mengatakan pelestarian keanekaragaman hayati di lanskap Batang Toru, Tapanuli Selatan, membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan korporasi yang beroperasi di sekitar kawasan.

Menurut Novita, keterlibatan perusahaan penting karena sejumlah habitat flora dan fauna berbatasan langsung dengan area konsesi.

“Kita berkumpul, mengidentifikasi, dan semua yang kita ajak diskusi sebagian besar menyatakan kesiapannya untuk mengalokasikan wilayahnya yang menjadi habitat potensi keanekaragaman hayati tinggi menjadi areal konservasi,” kata Novita.

BBKSDA Sumut juga menyusun rencana aksi partisipatif untuk mendorong kontribusi industri perkebunan yang berada di Areal Bernilai Konservasi Tinggi (ABKT).

“Mereka sudah komitmen mengizinkan areal konservasi untuk perlindungan tumbuhan,” ujarnya.

Sejumlah korporasi di kawasan Batang Toru telah menjalankan program perlindungan ekosistem. PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), pengembang PLTA Batang Toru, antara lain melakukan revegetasi dan memasang jembatan arboreal.

Sementara itu, PT Agincourt Resources, pengelola tambang emas Martabe, membangun stasiun riset keanekaragaman hayati serta fasilitas perlindungan orangutan Tapanuli.

 

Kesesuaian Habitat Batang Toru Berubah

Hasil survei cepat Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) Universitas Indonesia (UI) menunjukkan adanya perubahan tingkat kesesuaian habitat keanekaragaman hayati di lanskap Batang Toru.

Peneliti Pusat Penelitian Perubahan Iklim UI Nurul Winarni mengatakan perubahan kesesuaian habitat fauna belum terlihat signifikan. Hal itu salah satunya karena keterbatasan data historis.

“Kalau fauna tidak terlalu terlihat bedanya, tapi ada daerah kesesuaian tinggi 32 persen itu menurun menjadi 30 persen, jadi kecil perubahannya,” kata Nurul saat dihubungi, Rabu (19/8/2026).

Sebaliknya, perubahan kesesuaian habitat flora terlihat lebih mencolok. Banjir yang menghanyutkan tegakan pohon memicu perubahan kerapatan vegetasi.

Akibatnya, area dengan tingkat kesesuaian tinggi untuk tumbuhan turun dari 33,5 persen menjadi 19,9 persen.

Lanskap Batang Toru merupakan habitat sejumlah satwa penting, seperti orangutan Tapanuli, owa ungko, siamang, kijang muncak, dan harimau sumatera. Kawasan ini juga menjadi habitat berbagai flora, termasuk pohon kemenyan dan kantong semar.

Nurul mengatakan riset I-SER UI menemukan irisan antara zona dengan tingkat kesesuaian habitat tinggi dan kawasan konservasi formal.

Zona tersebut perlu diprioritaskan dalam skema perlindungan habitat dengan tetap memperhatikan masyarakat yang memanfaatkan kawasan hutan secara lestari.

Rekomendasi