Rupiah diprediksi belum berhenti melemah usai pertumbuhan RI kuartal I 5,06 persen

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, menyatakan pelemahan Rupiah akan terus berlanjut hingga akhir Mei 2018 ini. Dia menyebutkan ada beberapa faktor yang menyebabkan pelemahan Rupiah salah satunya yaitu rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,06 persen kemarin.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Rupiah diprediksi belum berhenti melemah usai pertumbuhan RI kuartal I 5,06 persen
Uang Dollar. ©2018 Liputan6.com/Angga Yuniar

Nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) terus merosot. Saat ini saja, nilai tukar Rupiah sudah mencapai Rp 14.036 per USD.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, menyatakan pelemahan Rupiah akan terus berlanjut hingga akhir Mei 2018 ini. Dia menyebutkan ada beberapa faktor yang menyebabkan pelemahan Rupiah salah satunya yaitu rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,06 persen kemarin.

"Pelemahan nilai tukar Rupiah diprediksi akan terus berlanjut hingga akhir Mei 2018. Terbuka peluang kurs terdepresiasi hingga Rp 14.000-Rp 14.200," tuturnya kepada Liputan6.com, Jakarta, Selasa (8/5).

"Investor bereaksi negatif terhadap rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2018 yang hanya mencapai 5,06 persen. Sentimen ini membuat pasar cenderung pesimis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi tahun 2018 yang ditarget tumbuh 5,4 persen," kata Bhima.

Bhima lebih jauh menjelaskan pelemahan pada kurs Rupiah tersebut berdampak pada industri impor serta daya beli masyarakat yang tergolong lesu. Kondisi ini juga menggerus pendapatan pelaku para pengusaha.

"Untuk impor baik bahan baku, barang modal dan barang konsumsi sebagian besar gunakan kapal asing yang membutuhkan dolar jadi logistic cost pasti makin membebani industri domestik. Sementara daya beli sedang lesu, jadi penjual tidak akan sembarangan naikan harga barang," ujarnya.

Dia juga menyatakan pelemahan nilai tukar akan berdampak pada konsumsi rumah tangga terutama barang kebutuhan pokok. "Tahun 2017 lalu neraca migas kita defisit USD 8,5 miliar karena impor minyak bengkak hingga USD 24,3 miliar. Ini tidak sehat dan pengaruhi harga BBM non subsidi yang dipakai angkutan barang kebutuhan pokok," tuturnya.

"Ini yang harus di perhatikan pemerintah karena inflasi langsung pukul daya beli masyarakat miskin," tambah dia.

Sementara itu, Ekonom Centre of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah menilai pelemahan nilai tukar Rupiah sulit diprediksi akan berlangsung seberapa lama. Hal ini mengingat banyak sentimen serta investor yang akan membayangi nilai tukar.

"Berapa lama? Sulit untuk diprediksi karena sangat bergantung kepada sentimen dan persepsi investor," tuturnya.

"Kalau Bank Indonesia (BI) bisa konsisten hadir di pasar, bisa meyakinkan bahwa kebutuhan Dolar bisa dicukupi sehingga pasar ditenangkan maka investor akan stay dan Rupiah akan kembali ke bawah Rp 14.000," tandas Piter.

Reporter: Bawono Yadika

Sumber: Liputan6

Halaman
Rekomendasi