Diminta bikin bunker, Pertamina pilih sistem floating BBM di Kepulauan Karimunjawa

Salah satu pertimbangan Pertaminta, gelombang tinggi hanya terjadi secara musiman dan rentang waktu yang tak pasti, sehingga diperlukan perhitungan matang soal pembangunan bunker.

Dian Ade Permana
Oleh Dian Ade Permana - Reporter
Diminta bikin bunker, Pertamina pilih sistem floating BBM di Kepulauan Karimunjawa
Yanuar Budi Hartanto. ©2018 Merdeka.com/Dian Ade Permana

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta PT Pertamina untuk membangun bunker bahan bakar minyak (BBM) di Kepulauan Karimunjawa. Tujuannya agar pasokan BBM dan elpiji ke daerah tersebut aman saat terjadi cuaca buruk yang mengakibatkan gelombang tinggi.

Namun demikian, GM Pertamina MOR IV JBT, Yanuar Budi Hartanto menyebut bahwa sampai saat ini belum ada rencana membuat bunker BBM. "Sampai saat ini belum ada rencana dan wacana membuat bunker. Itu perlu dievaluasi dan dikaji lebih dalam," jelasnya di Bright Cafe Semarang,Rabu (31/1)

Salah satu pertimbangan Pertaminta, gelombang tinggi hanya terjadi secara musiman dan rentang waktu yang tak pasti, sehingga diperlukan perhitungan matang soal pembangunan bunker.

Dikatakan Yanuar, solusi tercepat untuk mengatasi kelangkaan BBM di Karimunjawa adalah dengan memperbanyak kapasitas kirim. Selama ini, pasokan BBM ke Karimunjawa sebanyak 75 KL untuk 7-10 hari. "Kiriman terakhir ke Karimunjawa pada 3 Januari. Pada 10 Januari kita sudah menyiapkan, tapi dilarang berlayar oleh syahbandar Tanjung Emas dan Karimunjawa karena ombak tinggi," tegasnya.

"Nanti kalau sudah ada izin berlayar, kita akan floating kapal dan memperbanyak kapasitas pengiriman," kata Yanuar.

Selama floating, BBM yang disediakan sebanyak 55 KL Pertalite, Biosolar 75 KL, dan Dexlite 10 KL dari total kapasitas kapal angkut sebanyak 200 KL. Dengan jumlah kiriman tersebut, maka dipastikan pasokan BBM di Kepulauan Karimunjawa aman selama 15-20 hari.

Disinggung mengenai pasokan elpiji, Yanuar mengatakan terakhir dikirim pada 20 Januari 2018 sebanyak 2.240 tabung. "Kalau yang elpiji, memang penyalur beda karena bisa dari Jepara langsung ke Karimunjawa. Kalau BBM harus dari Semarang, namun saat ini semua kiriman ke Karimunjawa disetop," jelasnya.

Dikatakan Yanuar, karena di Karimunjawa ada banyak pulau-pulai kecil lain, maka pembelian dengan sistem eceren diizinakn sebanyak 35 persen. "Tujuannya agar distribusi merata ke semua pulau kecil," imbuhnya.

Rekomendasi