Tak terasa, kurang dari 10 hari ke depan umat muslim seluruh dunia akan memasuki bulan Ramadhan. Sebagian orang mungkin sudah menyiapkan diri, begitu pula dengan pemerintahan Jokowi-JK.
Presiden Joko Widodo telah meminta kepada jajaran di bawahnya untuk mengendalikan harga pangan saat Ramadhan dan jelang hari raya Idul Fitri 1437 H tahun ini. Jokowi tak ingin kejadian melambungnya harga daging sapi jelang lebaran tahun lalu terulang kembali.
"Saya ingin terutama pertama ketersediaan berkaitan dengan harga beras, harga daging, harga minyak betul-betul menjadi perhatian utama. Saya ingin tahun ini, terutama masalah daging sapi itu jangan sampai seperti tahun lalu atau seperti saat ini. Saya ingin harga-harga itu betul-betul tidak kurang dan lebih di angka Rp 80.000," ujar Jokowi dalam rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Selasa (26/4) lalu.
Presiden Jokowi ingin mengubah kebiasaan yang terjadi di Indonesia, di mana harga pangan selalu naik jelang Lebaran. Jokowi ingin membuat semua harga pangan turun saat Ramadhan dan jelang hari raya.
"Apalagi pas panen raya, mustinya juga sama harganya juga bisa diturunkan. Jadi hal-hal yang sudah menjadi rutinitas ke kita dari tahun-tahun setiap Lebaran naik, tahun ini coba kita jungkir balikkan menjadi harganya turun," tambahnya.
Kenyataan memang tak selalu seperti yang diharapkan. Belum masuk bulan Ramadhan, harga sejumlah bahan pangan sudah meroket, salah satunya bawang merah.
Kepala Badan Badan Pusat Statistik, Suryamin menyebut, harga komoditas bawang merah bulan April 2016 meningkat hingga 36 persen apabila dibandingkan dengan bulan April 2015.
"Dibandingkan year on year, harga bawang (merah) bulan ini (Mei) sudah naik 36 persen dibandingkan tahun lalu," kata Suryamin di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (24/5).
Demi buat harga murah, pemerintah Jokowi siap impor bawang ribuan ton.
Advertisement
Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto menjawab enteng permasalahan harga bawang ini. Menurutnya, untuk menekan harga harus dilakukan impor.
"Kalau harga terlalu tinggi ya pasti ada impor," kata Panggah di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (24/5).
Panggah menilai, harga bawang merah yang berlaku saat ini terlalu tinggi. Pemerintah mengupayakan harga bawang merah bisa kembali ke kisaran Rp 20.000 per kilogram.
Panggah berharap impor bawang merah bisa terealisasi sebelum Ramadan. Dengan demikian, pasokan bawang merah bisa memenuhi kebutuhan selama Ramadan dan menjelang Idul Fitri. "Iya (impor sebelum puasa)," ucap Panggah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pemerintah akan melakukan stabilisasi harga bawang merah menjelang Ramadan dan Idul Fitri dengan cara membuka keran impor.
Kuota impor bawang merah dibuka untuk sebanyak 2.500 ton. "(2.500 ton impor bawang?) Iya," kata Darmin di Kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (24/5).
Pemerintah menargetkan harga bawang merah bisa turun ke kisaran angka Rp 20.000 per kilogram di tingkat eceran.
Meski dinilai sudah ada penurunan harga bawang merah dibanding bulan sebelumnya, namun Darmin menilai penurunan harga bawang tersebut masih sangat tipis. "Harganya juga turun tapi sedikit sekali," ucap Darmin.
Tak hanya bawang merah, harga daging sapi juga bertahan tinggi jelang puasa ini.
Advertisement
Harga daging sapi di beberapa pasar tradisional bertahan tinggi jelang puasa. Di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, harga daging sapi mencapai Rp 120.000 per kilogram. Padahal, Presiden Jokowi menginginkan harga daging hanya Rp 80.000 per kilogram.
Presiden Joko Widodo meminta harga daging sapi di pasaran tidak lebih dari Rp 80.000 per kilogram sebelum Lebaran. Permintaan tersebut disampaikan kepada seluruh jajaran menteri ekonomi yang hadir dalam rapat terbatas di Istana Negara.
"Intinya adalah Presiden meminta untuk harga-harga komoditas. Kalau dulu selalu sebelum lebaran terutama bulan puasa itu mengalami kenaikan, maka kali ini pada saat lebaran hal yang menjadi kebiasaan itu akan diturunkan. Harga daging Presiden meminta di bawah Rp 80.000, demikian juga dengan harga gula diminta turun dibandingkan dengan harga saat ini, termasuk juga bawang. Intinya bapak presiden meminta untuk ini diturunkan," ujar Sekretaris Kabinet, Pramono Anung di Kompleks Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (26/5).
Presiden Jokowi mengatakan, di negara lain harga daging bisa di bawah Rp 80.000 maka Presiden yakin hal itu bisa terjadi di Indonesia.
Misalnya saja, Presiden mencontohkan harga daging di Singapura atau Malaysia berkisar Rp 50.000 hingga Rp 55.000 per kg di tingkat ritel, padahal di Indonesia bisa sampai Rp 120.000-Rp 130.000 bahkan mencapai Rp 150.000 per kg menjelang Lebaran.
"Tidak usah di bawah Rp 55.000 di bawah Rp 80.000 saja, menteri-menteri pada pusing semua," ujar mantan Gubernur DKI ini.
Menurut dia, jika di negara lain hal itu dimungkinkan maka seharusnya di Indonesia bisa dilakukan. "Kalau di negara lain bisa kita juga seharusnya bisa, ini mau tidak mau, niat tidak niat hanya itu saja," kata Jokowi.
Namun, dia mengaku hal itu memang bukan persoalan yang gampang diurai karena persoalan serupa telah dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa sejak lama.
Membuat harga daging murah, pemerintah Jokowi bakal melakukan impor.
Advertisement
Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) mengatakan rencana pemerintah untuk mengimpor daging sapi masih dalam proses. Mengingat, harga komoditas menjelang Lebaran akan semakin meningkat.
"Itu (impor daging) sedang dalam proses impornya. Impornya sudah dibuka cuma lagi proses," ujar JK usai menghadiri acara Rakornas di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (26/5).
Dia mengaku, stok daging dalam negeri saat ini masih membutuhkan tambahan. Jika tidak dilakukan impor, harga daging sapi kemungkinan bisa naik. Untuk itu, lanjut JK, pemerintah memutuskan untuk melakukan impor daging agar harga daging di pasar tetap stabil.
"(Stok daging dalam negeri) Tentu dibutuhkan tambahan. Sekarang (impor) dari semua daerah yang bebas penyakit, seperti Australia," kata JK.
Sekretaris Kabinet, Pramono Anung mengatakan, harga komoditas di pasaran sudah terlampau tinggi. Karena itu, pemerintah akan mengimpor komoditas serupa agar para spekulan tidak bermain harga jelang lebaran.
"Karena harga sudah keburu tinggi, yang akan dilakukan kenapa kemudian ada beberapa yang di impor," kata dia.
Indonesia disebut membutuhkan impor daging sapi tiap tahun.
Advertisement
Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia mengakui Indonesia masih membutuhkan sapi impor menyusul tingginya konsumsi daging sapi di dalam negeri.
"Memang sekarang ini kebutuhan daging di dalam negeri sangat tinggi seiring dengan kebutuhan masyarakat Indonesia akan gizi yang baik," kata Ketua Bidang III PPSKI, Bambang WHEP seperti ditulis Antara Semarang, Kamis (12/5).
Berdasarkan data dari PPSKI saat ini kebutuhan daging sapi secara nasional mencapai 300 ribu ton/tahun. Dengan total kebutuhan tersebut ketersediaan ternak sapi di Indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat setiap tahunnya.
Saat ini, jumlah sapi di Indonesia mencapai 14 juta ekor dengan jumlah peternak sebanyak 5 juta orang. Dengan ketersediaan tersebut, Indonesia masih harus mengimpor 600 ribu ekor sapi setiap tahunnya.
"Impor masih perlu dilakukan karena tidak semua sapi yang ada ini siap dipotong dan dikonsumsi. Ada yang khusus untuk dikembangbiakkan," katanya.
Selain itu, tidak semua peternak sapi ini adalah peternak komersial yang fokus melakukan ternak untuk konsumsi masyarakat. "Dari data kami, jumlah peternak komersial di Indonesia tidak lebih dari 5 persen dari total 5 juta peternak tadi," katanya.
Oleh karena itu, impor dirasa masih perlu dilakukan. Meski demikian, pihaknya meminta kepada Pemerintah agar impor dilakukan secara hati-hati. Salah satu yang harus dilakukan adalah tidak mengimpor sapi dari negara yang belum bebas penyakit mulut dan kuku (PMK) salah satunya negara India.
"Pada dasarnya jangan sampai impor ini justru merugikan peternak," katanya.
Menurut dia, Pemerintah tetap harus menjaga minat masyarakat untuk mau beternak sapi dan kerbau. Salah satu upayanya adalah impor tidak langsung digelontorkan begitu saja.
"Kalau impor digelontorkan terus bisa-bisa menurunkan minat peternak untuk beternak sapi," katanya.