Disela-sela acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Antalya, Turki, Presiden Joko Widodo menerima kunjungan Presiden China, Xi Jinping. Kedua pimpinan sepakat untuk meningkatkan kerjasama di bidang ekonomi dan keuangan. Presiden Jinping kemudian menyampaikan kesiapan China untuk meningkatkan Bilateral Currency Swap Arrangement yang diberikan kepada Indonesia menjadi sekitar USD 20 miliar.
Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro menegaskan bahwa pemerintah di Indonesia telah menerima kenaikan Bilateral Currency Swaps Agreement dari USD 15 miliar menjadi USD 20 miliar. Dana tambahan ini akan digunakan seluruhnya untuk liquidity support (dukungan likuiditas).
"Hasil pertemuan dengan Presiden Xi Jinping adalah komitmen China meningkatkan investasi di sektor riil, di samping kemungkinan investasi di portofolio. Jadi China sedang menyatakan dukungannya untuk membantu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia," kata Bambang melalui teleconference dari Antalia, Turki, Selasa (17/11).
Sebelum melakukan perencanaan investasi di sektor spesifik, pemerintah berjanji akan memperbaiki iklim investasi di Indonesia. Salah satunya dengan mempercepat proses perizinan, termasuk pembebasan lahan dan dukungan investasi itu sendiri,
"Kalau sektor yang spesifik, sebenarnya kita sudah cukup clear bahwa sektor manufaktur dan sektor infrastruktur itu di kedepankan dalam rangka menarik pertumbuhan dan investasi," imbuh Bambang.
Dengan adanya kerjasama ini, Bambang mengapresiasi keputusan Presiden Xi Jinping yang bersedia melakukan investasi di Indonesia.
"Saya sangat mengapresiasi atas dukungan yang diberikan oleh Presiden China dalam berinvestasi di bidang infrastruktur dan manufaktur di Indonesia. Sebab, hal ini bisa memacu pertumbuhan ekonomi di Indonesia," pungkasnya.