Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Mahfudz Siddiq ikut angkat bicara terkait tudingan Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) yang menyatakan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno berencana menggadaikan 3 Bank BUMN besar demi mendapatkan utang dari China.
Siddiq menyatakan utang dari China berdampak besar. Bank pelat merah berpotensi dikuasai asing. Ditafsirkan secara lebih luas, rakyat dan negara terbebani utang dari China.
"Maka pemerintah harus hati-hati dalam suntikan dana asing untuk perbankan, dunia perbankan kita sudah banyak dimiliki asing," kata Siddiq ketika dihubungi Merdeka.com, Jakarta, Jumat (25/9).
Politisi PKS ini melihat, di tengah lesunya perekonomian nasional, yang dibutuhkan adalah penguatan perbankan. Namun tidak dengan cara suntikan modal atau utang dari luar negeri.
"Yang diperlukan itu, konsolidasi perbankan nasional bukan cari infus dari asing," ucapnya.
Seperti diketahui, Rini menandatangani perjanjian utang senilai USD 3 miliar, atau sekitar Rp 42 triliun. Dana tersebut akan dibagi rata untuk tiga bank pelat merah yakni PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).
Sekretaris Jenderal FITRA Yenny Sucipto mengungkapkan ada potensi di masa depan ketergantungan utang BUMN akan diubah menjadi share swap atau tukar guling saham kepada China di perbankan Indonesia.
Maka dari itu, FITRA meminta Presiden Joko Widodo atau Jokowi membatalkan perjanjian utang antara bank BUMN nasional dengan China. Sebab, berpotensi adanya privatisasi pada esok hari dan menyebabkan campur tangan asing dalam perbankan nasional khususnya bank BUMN.