Menyambangi Rescue and Fire Fighting Unit di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, tak ubahnya menengok kuburan tanpa nisan. Bukan kuburan manusia, melainkan kuburan bagi bangkai-bangkai pesawat yang sudah tak lagi mengangkasa.
Tidak semua orang bisa menengok kuburan pesawat di bandara yang masuk kelompok 10 besar bandara tersibuk dunia. Sebab, untuk bisa masuk ke Rescue and Fire Fighting Unit, harus mengantongi izin khusus dari pengelola bandara yakni Angkasa Pura II. Penjagaannya pun terbilang ketat dengan dua lapis gerbang pengaman di mana salah satunya dijaga petugas TNI.
Sekitar 50-100 meter setelah melewati pos pengamanan, satu per satu bangkai pesawat mulai menampakkan diri. Satu unit Pesawat Bouraq tipe 737-200 teronggok tak berdaya. Pesawat dengan kapasitas penumpang sekitar 200 orang itu menjadi penghuni tertua di komplek kuburan pesawat Bandara Soekarno Hatta. Terhitung sejak bangkrut pada 2005 atau sekitar sepuluh tahun lalu.
Meski sudah terparkir di sana selama satu dekade, pesawat milik maskapai Bouraq itu masih mudah dikenali lantaran corak warna dan nama maskapai masih terlihat jelas. Rata-rata, bangkai-bangkai pesawat itu masih bisa dikenali dengan terteranya nama maskapai di badan pesawat. Hanya sekitar 5 bangkai pesawat yang sulit dikenali karena badan pesawat sudah berlumut dan terkapar di tengah rimbunnya rumput liar.
Advertisement
Setidaknya ada 21 bangkai pesawat di unit tersebut, didominasi pesawat milik maskapai Batavia Air yang bangkrut 2013. Ada sekitar 10 bangkai pesawat Batavia Air yang sudah terparkir di sana selama dua tahun terakhir. Kondisinya tak segagah saat masih aktif menjelajah langit Indonesia. Selain Batavia Air, ada pula bangkai pesawat milik Merpati, Garuda Indonesia, hingga milik maskapai Kartika Airlines.
Dari jumlah itu, ada lima pesawat yang telah diklaim pemiliknya yaitu Fokker 28 dengan registrasi PK-MGH, Fokker 28 registrasi PK-MGM, lalu MD 820 registrasi PK-KAP, kemudian Boeing 737-200 registrasi PK-KAD, dan Boeing 737-200 registrasi PK-CJK.
Bangkai pesawat itu kini tengah diproses secara administrasi untuk kemudian dilakukan pemusnahan atau pemindahan oleh pemilik. Selain itu, ada 6 unit pesawat yang belum diklaim pemiliknya adalah FJF dengan registrasi PK-HNK, Boeing 737-200 registrasi PK-IJK, Boeing 737-200 registrasi PK-IJH, HS 748 registrasi PK-IHH, HS 748 registrasi PK-IHT, dan F28 registrasi PK-MGM. Sementara untuk pesawat Batavia Air jenis airbus 737-200 tidak akan diambil pemiliknya.
Rata-rata, tubuh burung besi yang ada di sana tidak lagi utuh. Terutama bagian mesin pesawat yang sudah tak lagi menempel dengan badan pesawat. Beberapa bagian sudah dimutilasi. Beberapa pesawat sudah kehilangan kedua sayapnya, ada yang menyisakan lubang besar di lambung pesawat, ada yang tak lagi dilengkapi roda, kaca pada bagian pilot sudah tak lagi utuh, dan beragam kondisi lainnya.
Satu per satu bagian tubuh burung besi itu dimutilasi. Di tengah terik matahari, Tomo (39) dan satu rekannya terlihat sibuk memutilasi badan pesawat Garuda Indonesia jenis 737-200. Dia bekerja di PT Wirajaya. Dari penuturan Tomo, perusahaan tempatnya bekerja merupakan pihak rekanan dari maskapai atau dari kurator khusus maskapai yang bangkrut. Perusahaannya membeli bangkai pesawat tersebut. Onderdil dan spare part pesawat yang masih berguna dan sekiranya bisa dipakai lagi, dipisahkan.
Advertisement
"Mesinnya sendiri diambil maskapai. Kami belinya hanya body dan onderdil yang tersisa serta aluminium," ujar Tomo saat berbincang dengan merdeka.com di Jakarta, Selasa (23/6).
Biasanya Tomo bekerja bersama 14 rekannya dari perusahaan yang sama. Dia bekerja kurang lebih delapan jam setiap harinya, mulai sekitar pukul 09.00 WIB dan berhenti saat waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB.
"Karena kerja di sini tidak boleh sampai malam," katanya.
Sudah empat tahun Tomo menjalani aktivitas memutilasi bangkai pesawat. Tak hanya di Jakarta, dia bisa bekerja di pelbagai kota lainnya. Semisal Surabaya, Padang, Medan, Banjarmasin dan Pontianak. "Masing-masing satu pesawat dan Jakarta 5 pesawat," imbuhnya.
Dia cukup mahir membongkar satu per satu bagian tubuh pesawat. Tidak butuh waktu terlalu lama untuk memutilasi bangkai pesawat.
"Satu pesawat kalau dikerjakan 15 orang bisa selesai 15 hari," ucapnya.
Dari ceritanya, perusahaan tempatnya bekerja berhak mengambil dan menjual kembali onderdil yang tersisa di tubuh pesawat, selain mesin yang sudah terlebih dulu diamankan pihak kurator atau maskapai. Termasuk bahan alumunium di badan pesawat yang bisa 'dibarter' dengan jutaan Rupiah. "Kami preteli onderdilnya mas," singkatnya.